Di Palangka Raya, BPBD mencatat 832 kejadian karhutla sepanjang 1 Juni hingga 8 Oktober 2026. Api menghanguskan 1.407,75 hektare lahan selama periode tersebut.
Namun, asal asap yang mencapai negara tetangga tidak dapat langsung dikaitkan dengan Palangka Raya. Pemantauan regional menemukan sumber kebakaran di berbagai wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Malaysia Tutup Sekolah Akibat Kabut Asap
Pemerintah Malaysia menutup sekolah di sejumlah negara bagian dan wilayah federal pada Jumat (9/10/2026). Kebijakan itu menyusul penurunan kualitas udara akibat kabut asap regional.
Penutupan sekolah memperlihatkan dampak karhutla yang meluas hingga kegiatan pendidikan. Masyarakat juga menghadapi risiko kesehatan akibat paparan partikel pencemar.
Pada 8 Oktober, Departemen Lingkungan Hidup Malaysia mencatat 38 lokasi di Semenanjung Malaysia mengalami kualitas udara tidak sehat. Segamat, Johor, mencatat indeks API 190.
Sumber: Reuters, 9 Oktober 2026 dan The Borneo Post, 8 Oktober 2026.
Singapura Catat Pencemaran Udara Tidak Sehat
Meteorological Service Singapore melaporkan indeks PSI 134–192 pada Jumat (9/10/2026), pukul 17.00 waktu setempat. Nilai tersebut masuk kategori tidak sehat.
Pengukuran PM2,5 per jam mencapai 91–134 mikrogram per meter kubik. Lembaga itu juga mengamati asap dari Sumatra serta sejumlah kawasan Kalimantan.
Klik setiap wilayah untuk membuka data dan sumber.
Singapura — PSI 134–192
Pengukuran 9 Oktober 2026, pukul 17.00. Grafik menggambarkan nilai maksimum PSI 192 terhadap skala visual 300.
Malaysia — 38 lokasi tidak sehat
Data 8 Oktober 2026, pukul 15.00. Segamat mencatat API 190, sedangkan Kluang mencatat 181.
Sumber: The Borneo Post / Departemen Lingkungan Hidup Malaysia
Brunei dan Sarawak — Asap lintas batas
Citra satelit 30 Agustus 2026 menunjukkan sebaran asap di Brunei, Sarawak, Sabah, dan Kalimantan. Ini merupakan catatan historis, bukan pengukuran 10 Oktober.
Catatan: PSI Singapura dan API Malaysia merupakan indeks nasional yang berbeda. Angka tersebut tidak menunjukkan besarnya kontribusi kebakaran Palangka Raya.
Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Departemen Lingkungan Hidup Malaysia menelusuri sumber kabut asap melalui data pemantauan regional. ASEAN mencatat 327 titik panas di Kalimantan dan 191 titik panas di Sumatra pada 29 September 2026.
Wakil Direktur Jenderal Departemen Lingkungan Hidup Malaysia Bidang Pembangunan, Azuri Azizah Saedon, menyampaikan temuan tersebut di Kuala Lumpur, Rabu (30/9/2026).
Azuri menjelaskan bahwa pemantauan ASEAN menemukan kabut asap lintas batas di Semenanjung Malaysia, Singapura, dan bagian barat laut Pulau Kalimantan.
Temuan itu menunjukkan bahwa sumber asap tersebar di berbagai wilayah. Data titik panas tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran.
Sumber: NADMA Malaysia / Departemen Lingkungan Hidup, 30 September 2026.
Pemerintah Palangka Raya Perkuat Penanganan Kebakaran
Di Palangka Raya, pemerintah menambah peralatan pemadaman untuk memperkuat kesiapan relawan. Bantuan tersebut mendukung penanganan kebakaran di wilayah rawan.
Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, menjelaskan pentingnya keterlibatan relawan di Palangka Raya, Selasa (6/10/2026).
“Peran relawan sangat penting dalam penanganan karhutla. Relawan menjadi bagian dari kekuatan bersama untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak kebakaran serta kabut asap,” kata Fairid.
Fairid juga mengapresiasi keterlibatan relawan dalam pencegahan dan pemadaman. Dukungan masyarakat membantu mempercepat respons ketika api muncul di kawasan rawan.
El Nino Memperbesar Risiko Asap Regional
ASEAN Specialised Meteorological Centre memperkirakan curah hujan di banyak wilayah Asia Tenggara berada di bawah normal selama Oktober. Kondisi El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Angin tenggara dan barat daya dapat membawa asap melintasi perbatasan negara. Karena itu, pengendalian kebakaran memerlukan kerja sama pemantauan dan pencegahan regional.
Sumber: ASEAN Specialised Meteorological Centre, prakiraan Oktober–Desember 2026.
Siapa Bertanggung Jawab atas Pencemaran Lintas Negara?
Kabut asap lintas negara kembali memunculkan pertanyaan tentang pengawasan lahan dan penegakan hukum. Pemerintah perlu menelusuri penyebab kebakaran serta pihak yang menguasai lokasi sumber api.
Namun, pencemaran di Malaysia atau Singapura tidak otomatis membuktikan asal api dari Palangka Raya. Pemeriksaan memerlukan data satelit, arah angin, pemodelan asap, dan hasil penyelidikan lapangan.
Kerja sama ASEAN menjadi penting untuk mengurangi kebakaran baru. Pemerintah juga perlu menyampaikan perkembangan penanganan secara terbuka agar masyarakat memahami risiko yang masih berlangsung.
Setelah berbulan-bulan menghadapi kebakaran, tantangan Kalimantan bukan hanya memadamkan api. Perlindungan kesehatan, pencegahan, dan pertanggungjawaban lingkungan membutuhkan perhatian yang sama.












