Oleh: Syahrul Mubarok, S.Sos
Sosiolog Muda
Opini, folitimes.id – Bayangkan Anda berdiri di tepian Sungai Kapuas pada akhir abad ke-19.
Belum ada jalan aspal.
Belum ada jembatan beton.
Belum ada lampu listrik yang menerangi malam.
Yang terdengar hanya suara mesin ces kecil, riak air sungai, kayuhan perahu, dan percakapan para pedagang yang singgah membawa rotan, damar, getah, serta hasil hutan dari pedalaman Kalimantan.
Lalu suatu pagi, suara lonceng gereja menggema dari Mandomai.
Beberapa puluh tahun kemudian, suara beduk dari Masjid Jami Al-Ikhlas ikut memecah keheningan tepian sungai.
Tidak ada keributan.
Tidak ada pertentangan besar.
Tidak ada perang identitas.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Masyarakat menerima keduanya sebagai bagian dari perjalanan zaman.
Di sinilah letak keunikan Mandomai.
Wilayah kecil di Kecamatan Kapuas Barat ini ternyata menyimpan cerita besar tentang bagaimana Kalimantan Tengah belajar hidup bersama bahkan sebelum provinsi ini lahir pada tahun 1957.
Gereja Imanuel Mandomai berdiri pada tahun 1876 melalui misionaris Jerman, C.C. Hendrich, dan menjadi salah satu pintu masuk agama Kristen di Kalimantan Tengah. Sementara Masjid Jami Al-Ikhlas Mandomai berdiri pada tahun 1903 dan menjadi salah satu pusat awal perkembangan Islam di wilayah ini.
Namun dari sudut pandang sosiologi, bangunan itu sesungguhnya bukan sekadar tempat ibadah.
Keduanya adalah institusi sosial.
Sungai yang Mengajarkan Toleransi
Dalam teori sosiologi klasik, ruang interaksi menentukan karakter masyarakat.
Masyarakat yang hidup dalam ruang tertutup cenderung homogen.
Sebaliknya, masyarakat yang hidup di jalur perdagangan akan tumbuh menjadi masyarakat terbuka.
Mandomai berada di jalur sungai.
Sungai mempertemukan orang Dayak Ngaju, Banjar, Jawa, Bugis, Melayu, bahkan orang-orang Eropa yang datang membawa misi pendidikan dan keagamaan.
Mereka bertemu di pasar yang sama.
Mereka membeli ikan dari orang yang sama.
Mereka menunggu air pasang dan air surut di dermaga yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, konflik identitas justru menjadi mahal secara sosial dan ekonomi.
Maka masyarakat memilih jalan yang lebih rasional.
Hidup berdampingan.
Sungai akhirnya tidak hanya menjadi jalur perdagangan.
Sungai berubah menjadi sekolah toleransi pertama di Kalimantan Tengah.
Ketika Agama Datang Tanpa Penaklukan
Banyak wilayah di dunia mengenal penyebaran agama melalui perang atau ekspansi kekuasaan.
Kalimantan Tengah memiliki cerita berbeda.
Kristen datang melalui sekolah, pelayanan kesehatan, dan pendidikan masyarakat pedalaman yang dibangun para zending.
Islam berkembang melalui perdagangan, perkawinan, pengajian, dan hubungan sosial antara masyarakat sungai dengan pedagang dari Banjar.
Dalam bahasa sosiologi, ini disebut sebagai proses difusi budaya secara damai.
Masyarakat menerima nilai baru tanpa kehilangan identitas lama.
Itulah sebabnya hingga hari ini kita masih melihat masyarakat Dayak yang memegang teguh adat, namun hidup berdampingan dengan Islam dan Kristen tanpa kehilangan jati dirinya.
Mandomai dan Lahirnya Identitas Kalimantan Tengah
Pertanyaan pentingnya adalah:
Mengapa Kalimantan Tengah relatif mampu menjaga harmoni sosial dibanding beberapa daerah lain di Indonesia?
Jawabannya mungkin tidak berada di ruang rapat pemerintahan.
Jawabannya justru berada di tepian Sungai Kapuas, di Mandomai.
Di tempat inilah masyarakat belajar bahwa perbedaan bukan ancaman.
Perbedaan adalah kenyataan sosial.
Seorang anak dapat mendengar lonceng gereja pada pagi hari dan mendengar azan pada siang hari tanpa merasa identitasnya terganggu.
Pengalaman sosial seperti inilah yang kemudian diwariskan lintas generasi.
Sosiologi menyebutnya sebagai social inheritance atau pewarisan nilai sosial.
Nilai itu diwariskan bukan melalui buku.
Bukan melalui seminar.
Melainkan melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Ancaman Terbesar Justru Datang dari Lupa Sejarah
Ironisnya, generasi muda Kalimantan Tengah hari ini banyak yang mengenal sejarah kota-kota besar di luar daerah, tetapi tidak mengetahui bahwa gereja pertama dan salah satu masjid tertua di Kalimantan Tengah berdiri di wilayah yang sama.
Padahal sejarah lokal memiliki fungsi penting.
Ia membentuk identitas kolektif masyarakat.
Ketika masyarakat kehilangan sejarahnya, mereka lebih mudah terpecah oleh isu identitas, politik, maupun sentimen agama.
Karena itu menjaga bangunan bersejarah di Mandomai bukan semata menjaga kayu ulin tua atau dinding bangunan berumur ratusan tahun.
Yang dijaga sesungguhnya adalah memori kolektif Kalimantan Tengah.
Beduk dan Lonceng Itu Masih Berbunyi
Hari ini kendaraan melintas cepat menuju Kuala Kapuas.
Anak-anak lebih mengenal media sosial dibanding sejarah kampungnya sendiri.
Namun di Mandomai, beduk dan lonceng itu masih ada.
Masih berbunyi.
Masih mengingatkan kita bahwa Kalimantan Tengah tidak dibangun oleh keseragaman.
Provinsi ini lahir dari kemampuan masyarakatnya untuk hidup bersama di tengah perbedaan.
Dan mungkin, pelajaran terbesar dari Mandomai bukan tentang siapa yang datang lebih dulu.
Melainkan tentang bagaimana mereka memilih untuk tetap tinggal bersama setelah bertemu.















