Membaca Gereja Tertua di Kalimantan Tengah dari Perspektif Sosiologi

Ketika Sungai Menjadi Sekolah Toleransi dan Akulturasi Budaya di Kalimantan Tengah

Gereja Imanuel Mandomai menjadi saksi awal masuknya pendidikan modern, akulturasi budaya, dan perkembangan Kekristenan di Kalimantan Tengah sejak 1876
Gereja Imanuel Mandomai menjadi saksi awal masuknya pendidikan modern, akulturasi budaya, dan perkembangan Kekristenan di Kalimantan Tengah sejak 1876. Foto: Istimewa.

OPINI, folitimes.id – Oleh Syahrul Mubarok, S.Sos Sosiolog Muda Kalteng

Jika suatu hari Anda berdiri di tepian Sungai Kapuas di Mandomai pada pagi hari, mungkin yang pertama menarik perhatian bukanlah bangunan modern atau hiruk pikuk kendaraan.

Yang akan Anda lihat justru sebuah bangunan tua yang berdiri tenang di tempat tersebut.

Bangunan itu adalah Gereja Imanuel Mandomai.

Usianya telah melampaui satu abad.

Kayu ulin yang menopang bangunannya telah menyaksikan pergantian generasi, perubahan pemerintahan, hingga lahirnya Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1957.

Namun sesungguhnya, gereja ini tidak hanya menyimpan sejarah keagamaan.

Ia menyimpan sejarah peradaban.

Gereja yang Lahir Sebelum Kalimantan Tengah Berdiri

Ketika Gereja Imanuel Mandomai berdiri pada tahun 1876, Kalimantan Tengah bahkan belum memiliki identitas administratif seperti sekarang.

Wilayah pedalaman masih terhubung melalui jalur sungai.

Transportasi modern belum dikenal masyarakat.

Dalam kajian sosiologi sejarah, kehadiran sebuah institusi sosial jauh sebelum terbentuknya negara modern menunjukkan bahwa masyarakat telah membangun sistem sosialnya sendiri.

Menurut Sosiolog Muda Syahrul Mubarok, S.Sos, Gereja Imanuel Mandomai merupakan salah satu institusi pembentuk modal sosial awal masyarakat Kalimantan Tengah.

“Gereja ini tidak hadir ketika masyarakat telah mapan, tetapi justru ikut membentuk fondasi sosial masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Dalam bahasa sosiologi, kondisi tersebut disebut sebagai social institution formation, yaitu proses ketika lembaga sosial berperan membangun norma, nilai, dan pola interaksi masyarakat.

Sungai Kapuas Bukan Sekadar Jalur Transportasi

Keunikan kedua justru terletak pada lokasi gereja.

Sebagian besar gereja tua di Indonesia tumbuh di sekitar pusat pemerintahan kolonial atau kawasan perdagangan kota besar.

Gereja Imanuel memilih jalur berbeda.

Bangunan itu berdiri menghadap Sungai Kapuas.

Pilihan lokasi tersebut bukan keputusan arsitektur semata.

Pada masa itu sungai merupakan pusat ekonomi, komunikasi, dan mobilitas masyarakat Dayak serta para pedagang dari berbagai daerah.

Dalam perspektif sosiologi ruang, siapa yang menguasai ruang interaksi maka ia ikut membentuk pola hubungan sosial masyarakat.

Sungai pada masa itu berfungsi layaknya jalan nasional pada era sekarang.

Semua orang melintasinya.

Semua orang bertemu di sana.

Menurut Syahrul Mubarok, kondisi tersebut menjadikan Sungai Kapuas sebagai ruang produksi nilai sosial masyarakat Kalimantan Tengah.

“Sungai bukan hanya mengalirkan manusia dan barang, tetapi juga membawa pengetahuan, agama, pendidikan, dan cara hidup baru ke pedalaman Kalimantan,” jelasnya.

Tidak berlebihan jika menyebut sungai sebagai universitas pertama masyarakat Kalimantan Tengah.

Ketika Misionaris Menjadi Arsitek Perubahan Sosial

Nama C.C. Hendrich sering dikenang sebagai misionaris asal Jerman yang membawa ajaran Kristen ke wilayah ini.

Namun perannya sesungguhnya jauh melampaui aktivitas keagamaan.

Ia ikut merancang bentuk bangunan, memilih material, hingga menentukan konsep arsitektur gereja.

Dalam kajian sosiologi pembangunan, fenomena ini dikenal sebagai agent of change atau agen perubahan sosial.

Seorang agen perubahan tidak hanya memperkenalkan nilai baru, tetapi juga membangun infrastruktur yang memungkinkan nilai tersebut bertahan lintas generasi.

Bangunan gereja akhirnya berubah menjadi simbol permanen dari proses transformasi sosial tersebut.

Kaca Patri dan Identitas Global di Pedalaman Kalimantan

Di bagian dalam gereja terdapat mozaik kaca patri yang hingga kini menjadi salah satu daya tarik utamanya.

Konon desain serupa hanya ditemukan di Jerman, Brasil, dan Indonesia.

Fakta tersebut menghadirkan ironi yang menarik.

Sebuah desa kecil di tepian Sungai Kapuas ternyata memiliki hubungan historis dengan jaringan arsitektur dunia.

Menurut Syahrul Mubarok, keberadaan kaca patri tersebut menunjukkan bahwa globalisasi sesungguhnya bukan fenomena baru bagi Kalimantan Tengah.

“Jauh sebelum internet dan media sosial hadir, masyarakat Mandomai telah menjadi bagian dari pertukaran budaya internasional melalui agama, arsitektur, dan pendidikan,” katanya.

Dalam teori sosiologi modern, fenomena ini disebut sebagai glokalisasi, yakni pertemuan antara budaya global dan budaya lokal yang menghasilkan identitas baru tanpa menghilangkan akar budaya masyarakat setempat.

Ketika Eropa Bertemu Dayak

Bangunan Gereja Imanuel tidak sepenuhnya berwajah Eropa.

Kayu ulin khas Kalimantan menjadi material utama bangunan.

Bentuk konstruksi juga menyesuaikan iklim tropis dan kondisi lingkungan sungai.

Perpaduan tersebut menciptakan identitas arsitektur yang unik.

Dalam sosiologi budaya, peristiwa tersebut dikenal sebagai proses akulturasi.

Budaya baru tidak menggantikan budaya lama.

Keduanya bernegosiasi dan melahirkan bentuk baru.

Menurut Syahrul Mubarok, inilah salah satu alasan mengapa masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah mampu menerima perubahan tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Modernisasi di Kalimantan Tengah tidak berlangsung melalui pemutusan budaya, tetapi melalui dialog budaya,” ujarnya.

Awal Pendidikan Modern di Pedalaman Dayak

Mungkin inilah peran terbesar Gereja Imanuel Mandomai dalam sejarah Kalimantan Tengah.

Gereja ini tidak hanya melahirkan aktivitas keagamaan.

Ia juga membuka akses pendidikan, literasi baca tulis, pelayanan kesehatan, dan pembentukan kepemimpinan lokal.

Dalam teori sosiologi pendidikan, sekolah dan lembaga keagamaan merupakan alat mobilitas sosial.

Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam struktur tradisional memperoleh kesempatan untuk memasuki struktur sosial yang lebih luas.

Menurut Syahrul Mubarok, pendidikan yang tumbuh dari lembaga keagamaan menjadi fondasi lahirnya kelas menengah terdidik di Kalimantan Tengah.

“Perubahan sosial terbesar sering kali tidak dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi dari ruang belajar kecil yang membuka akses pengetahuan bagi masyarakat,” katanya.

Ketika Lonceng dan Beduk Tumbuh Bersama

Keunikan terbesar Mandomai mungkin bukan terletak pada usia gerejanya.

Keunikan itu justru hadir karena di wilayah yang sama berdiri pula salah satu masjid tertua di Kalimantan Tengah.

Dua simbol agama besar tumbuh di ruang geografis yang sama.

Menariknya, sejarah tidak mencatat konflik besar yang mengiringi keberadaan keduanya.

Sebaliknya, masyarakat membangun hubungan sosial yang berlangsung alami selama puluhan tahun.

Menurut Syahrul Mubarok, fenomena tersebut dapat disebut sebagai pluralisme organik Kalimantan Tengah.

Pluralisme ini tidak lahir dari undang-undang.

Ia lahir dari pasar.

Ia tumbuh dari perdagangan sungai.

Ia berkembang melalui pendidikan.

Ia hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang saling membutuhkan satu sama lain.

Masyarakat Dayak, Banjar, Jawa, Melayu, dan berbagai kelompok lainnya akhirnya membangun solidaritas sosial yang lebih kuat dibanding perbedaan identitas yang mereka miliki.

Mandomai dan Pelajaran untuk Kalimantan Tengah

Hari ini banyak orang mengenal toleransi sebagai slogan.

Mandomai telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu populer.

Di tepian Sungai Kapuas, lonceng gereja dan beduk masjid tumbuh bersama membentuk identitas Kalimantan Tengah modern.

Karena itu menjaga Gereja Imanuel Mandomai bukan hanya menjaga bangunan tua.

Yang dijaga sesungguhnya adalah memori kolektif masyarakat Kalimantan Tengah.

Memori tentang bagaimana pendidikan lahir.

Memori tentang bagaimana keberagaman tumbuh.

Memori tentang bagaimana masyarakat memilih hidup bersama meskipun berbeda.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari Mandomai.

Bahwa peradaban besar tidak selalu lahir di ibu kota.

Kadang ia lahir di tepian sungai, di sebuah kampung kecil bernama Mandomai.

Saluran Resmi
Ikuti WhatsApp Channel folitimes.id
Dapatkan update berita terbaru, isu publik, peristiwa daerah, dan kabar penting Kalimantan Tengah langsung dari saluran resmi folitimes.id.
folitimes.id — Membaca Untuk Memahami

iklan Siap Pasang
Kerja Sama Media

Jalin Kerja Sama Bersama folitimes.id

Buka peluang kolaborasi untuk publikasi, media partner, promosi usaha, branding, dan penyebarluasan informasi bersama folitimes.id untuk bisnis, lembaga, komunitas, maupun instansi.

Publikasi Media Partner Promosi Branding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *