OPINI
Oleh Syahrul Mubarok, S.Sos.
Sosiolog Muda Kalimantan Tengah
- Pergantian Nama dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
- Kemenangan Berubah Menjadi Kenangan, Kekalahan Menjadi Pengadilan
- Saat Ingatan Mulai Menjadi Ukuran Kebenaran
- Tapih Gendong dan Ikatan yang Tidak Putus Bersama Jabatan
- Batas antara Kesetiaan dan Penilaian Profesional
- Antonio Gramsci dan Kekuasaan yang Belum Tentu Memperoleh Kepercayaan
- Ketika Hasil Kebijakan Menuntut Penjelasan
- Gabriel Tarde dan Ketika Pendapat Menular Lebih Cepat daripada Fakta
- Menguji Keyakinan yang Kita Pinjam dari Orang Lain
- René Girard dan Kebiasaan Mengakhiri Persoalan dengan Mencari Tersangka
- Apa yang Masih Tertinggal Setelah Pelatih Pergi
- Victor Turner dan Solidaritas yang Diuji Ketika Tim Tidak Menang
- Perbedaan Pandangan Bukan Hilangnya Kesetiaan
- Jean Baudrillard dan Kenyataan yang Terpotong di Layar
- Ketika Potongan Video Menggantikan Konteks
- Claude Lévi-Strauss dan Perangkap Dua Kubu
- Ketika Identitas Kelompok Menentukan Fakta
- Slavoj Žižek dan Janji Perubahan yang Terlalu Mudah Dipercaya
- Mengukur Janji setelah Kepemimpinan Berubah
- Revolusi Prancis dan Pelajaran tentang Harapan yang Berubah
- Harapan Suporter Tidak Pernah Sepenuhnya Seragam
- Pertanyaan yang Seharusnya Tidak Hilang Setiap Kali Pelatih Berganti
- Tanggung Jawab yang Tidak Berhenti di Federasi
- Kritik Sosial Harus Berani Mengoreksi Diri
- Sepak Bola Tidak Boleh Kehilangan Ingatan, tetapi Harus Memiliki Arah
- Mengubah Kenangan Menjadi Pelajaran Kelembagaan
- Cermin Terakhir Menghadap kepada Kita Semua
- Ketika Kritik Juga Harus Menghadap ke Dalam
- Pertanyaan yang Tertinggal Setelah Peluit Panjang
- Referensi
- Referensi sastra
- Referensi perkembangan sepak bola Indonesia
Opini, folitimes.id – Seorang pelatih dapat meninggalkan lapangan, mengosongkan ruang kerjanya, dan mengakhiri seluruh kewajiban dalam kontrak. Namun, ada sesuatu yang tidak ikut pergi bersamanya. Ingatan masyarakat dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa jabatan, bahkan kembali menguat ketika orang yang menggantikannya menghadapi kesulitan. Di situlah perjalanan Timnas Indonesia setelah kepergian Shin Tae-yong menyimpan persoalan sosial yang menarik untuk kita periksa.
Pada 6 Januari 2025, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengakhiri kerja sama dengan Shin Tae-yong. Federasi mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan tersebut melalui mekanisme organisasi. Namun, keputusan formal itu tidak serta-merta mengakhiri perdebatan mengenai kontribusi, keberlanjutan pembinaan, dan arah masa depan tim nasional. Pertanyaan yang semula berpusat pada alasan pergantian pelatih kemudian berkembang menjadi pemeriksaan terhadap hasil kebijakan itu sendiri.
Patrick Kluivert datang membawa harapan baru. Indonesia masih memiliki kesempatan melanjutkan perjuangan menuju Piala Dunia 2026, sehingga pergantian kepelatihan memperoleh perhatian besar. Namun, perjalanan tersebut berakhir setelah Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Irak pada Oktober 2025. Kerja sama dengan Kluivert pun berakhir, sementara pertanyaan mengenai arah pembinaan kembali mengemuka.
Pergantian Nama dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Pergantian berikutnya membawa John Herdman ke kursi pelatih Timnas Indonesia. Kehadirannya membuka periode baru yang tentu memerlukan penilaian berdasarkan pekerjaan dan hasilnya sendiri. Akan tetapi, pergantian figur tidak otomatis menghapus perdebatan yang tumbuh pada periode sebelumnya. Nama Shin Tae-yong masih muncul dalam percakapan tentang tim nasional, seolah-olah keputusan pada Januari 2025 belum sepenuhnya selesai dalam ingatan sebagian pendukung.
Situasi tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar menentukan pelatih mana yang paling disukai. Apakah sepak bola Indonesia sedang membangun sistem yang mampu bertahan melampaui pergantian individu, atau justru terus menggantungkan harapan kepada orang yang sedang duduk di kursi kepelatihan?
Pertanyaan itu tidak mengandung kesimpulan bahwa pergantian Shin Tae-yong pasti keliru. Kita tidak mengetahui hasil pertandingan yang akan terjadi seandainya ia tetap menjabat. Namun, ketidakmungkinan membuktikan sejarah alternatif tidak menghalangi kita untuk memeriksa keputusan yang benar-benar terjadi. Tujuan pergantian, ukuran keberhasilan, hasil pertandingan, dan kesinambungan program tetap merupakan persoalan yang dapat kita kaji.
Di sinilah kritik sosial perlu bekerja. Ia tidak cukup berhenti pada kemarahan terhadap kekalahan atau kegembiraan menyambut kemenangan. Kritik harus menelusuri hubungan antara kebijakan, tanggung jawab, dan cara masyarakat membentuk penilaiannya. Jika tidak, setiap pergantian pelatih hanya akan menghadirkan perdebatan baru dengan pertanyaan lama yang belum terjawab.
Kemenangan Berubah Menjadi Kenangan, Kekalahan Menjadi Pengadilan
Sebelum menilai apa yang terjadi setelah Shin Tae-yong pergi, kita perlu memahami mengapa kepergiannya memperoleh makna yang begitu kuat bagi sebagian pendukung. Pelatih asal Korea Selatan itu memimpin Timnas Indonesia dalam periode ketika sejumlah pencapaian menarik perhatian publik. Indonesia mencapai babak 16 besar Piala Asia 2023 dan mencatat kemenangan atas Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada November 2024. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang terus hidup dalam ingatan penggemar.
Namun, ingatan bukanlah rekaman yang selalu menghadirkan seluruh peristiwa dengan bobot seimbang. Manusia cenderung menghubungkan pengalaman tertentu dengan rasa bangga, kecewa, atau harapan yang pernah mereka miliki. Ketika seseorang mengenang periode kepelatihan, ia mungkin tidak hanya mengingat hasil pertandingan. Ia juga mengingat suasana ketika menyaksikan pertandingan itu, orang-orang yang bersamanya, dan perasaan yang muncul saat tim nasional meraih pencapaian.
Clifford Geertz membantu menjelaskan proses tersebut melalui pendekatan interpretatif terhadap kebudayaan. Dalam Deep Play, Notes on the Balinese Cockfight, Geertz memperlihatkan bagaimana sabung ayam di Bali menyimpan makna mengenai kehormatan, kedudukan, dan hubungan sosial. Pertarungan yang terlihat sebagai hiburan ternyata menjadi ruang tempat masyarakat menampilkan nilai yang mereka anggap penting. Pertandingan tidak berdiri sendiri karena manusia membawa pengalaman sosial ke dalamnya.
Saat Ingatan Mulai Menjadi Ukuran Kebenaran
Sepak bola Indonesia dapat kita baca melalui kerangka serupa. Ketika Timnas Indonesia bertanding, sebagian penonton membawa kebanggaan kebangsaan, harapan terhadap prestasi, dan pengalaman panjang mengikuti perkembangan tim. Sebuah kemenangan dapat memperoleh arti yang melampaui tiga poin atau tiket menuju babak berikutnya. Kekalahan pun dapat terasa lebih besar daripada hasil pertandingan itu sendiri.
Namun, ada persoalan yang mulai muncul ketika ingatan berubah menjadi ukuran tunggal. Keberhasilan pelatih lama dapat menjadi alasan untuk menolak setiap perubahan, sementara kegagalan pelatih baru dianggap sebagai pembuktian otomatis bahwa keputusan sebelumnya salah. Cara berpikir demikian tampak meyakinkan karena menghubungkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Padahal, urutan kejadian tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab akibat.
Kegagalan Indonesia mencapai Piala Dunia 2026 pada masa Patrick Kluivert merupakan fakta hasil kompetisi. Namun, fakta itu tidak membuktikan bahwa Indonesia pasti lolos apabila Shin Tae-yong tetap memimpin. Sebaliknya, pergantian pelatih juga tidak dapat memperoleh pembenaran hanya melalui keyakinan bahwa pendekatan baru akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kedua pandangan membutuhkan pemeriksaan terhadap keputusan dan hasil nyata, bukan dugaan mengenai masa depan yang tidak pernah terjadi.
Persoalan ini membawa kita pada kritik yang lebih mendasar. Kita sering menuntut orang lain berpikir objektif, tetapi apakah kita menggunakan ukuran yang sama ketika menilai tokoh yang kita kagumi? Apakah pencapaian masa lalu membuat kita enggan melihat kekurangan, atau justru kegagalan terbaru membuat kita menghapus seluruh pekerjaan yang pernah dilakukan seseorang? Di titik itulah sepak bola memperlihatkan bagaimana emosi dapat memengaruhi cara masyarakat menilai kenyataan.
Tapih Gendong dan Ikatan yang Tidak Putus Bersama Jabatan
Ada cara lain untuk memahami mengapa pengalaman masa lalu terus memengaruhi penilaian masyarakat. Dalam Tapih Gendong, Sebuah Renungan dan Catatan Perjalanan Seorang Perempuan, Muhammad Kadafy menghadirkan kain tapih sebagai lambang ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu. Berdasarkan gambaran cerita, kain tersebut tidak sekadar membantu seseorang menggendong anak. Ia juga menjadi simbol perlindungan, tempat bersandar, dan ingatan mengenai hubungan yang tumbuh melalui pengalaman hidup.
Nilai kain tapih tidak hanya terletak pada bentuk atau kegunaan fisiknya. Manusia memberinya arti melalui hubungan yang berlangsung bersama orang-orang terdekat. Sebuah benda dapat terlihat biasa bagi orang lain, tetapi menyimpan pengalaman yang sulit tergantikan bagi seseorang yang memilikinya. Dalam perspektif sosiologi kebudayaan, proses tersebut memperlihatkan bagaimana manusia membentuk makna melalui pengalaman dan hubungan sosial.
Gambaran cerita Muhammad Kadafy juga mempertemukan kehidupan modern dengan petuah tradisional. Nilai yang tumbuh melalui pengalaman antargenerasi menjadi bagian dari cara para tokoh menghadapi konflik. Dari sini kita dapat melihat bahwa perubahan keadaan tidak selalu menghapus makna yang pernah terbentuk. Manusia dapat membawa ingatan lama ketika menghadapi persoalan baru, meskipun keadaan yang melingkupinya sudah berbeda.
Batas antara Kesetiaan dan Penilaian Profesional
Dalam konteks sepak bola, sebagian pendukung mungkin menghubungkan Shin Tae-yong dengan pengalaman menyaksikan perjalanan Timnas Indonesia. Sosok pelatih menjadi bagian dari ingatan mengenai pertandingan, pencapaian, dan harapan yang pernah mereka bangun. Ketika kontrak berakhir, hubungan profesional memang selesai. Namun, kenangan yang tumbuh di luar dokumen kontrak tidak harus berakhir pada tanggal yang sama.
Tentu saja, hubungan ibu dan anak dalam Tapih Gendong tidak dapat disamakan dengan hubungan pelatih dan suporter. Keduanya mempunyai kedudukan, tanggung jawab, dan kedalaman hubungan yang berbeda. Perbandingan ini hanya membantu menjelaskan proses pembentukan makna simbolik. Ia bukan alasan untuk menempatkan seorang pelatih dalam kedudukan yang tidak dapat memperoleh evaluasi profesional.
Justru di sinilah letak pelajaran yang lebih penting. Kesetiaan yang lahir dari pengalaman tidak harus menghilangkan kemampuan untuk menilai kenyataan. Kita dapat menghargai seseorang tanpa menganggap seluruh tindakannya benar. Kita juga dapat menerima perubahan tanpa harus merendahkan kontribusi pihak yang pernah menjalankan tanggung jawab sebelumnya.
Namun, apakah kemampuan membedakan penghargaan dan evaluasi itu sudah menjadi kebiasaan dalam percakapan sepak bola kita? Atau justru setiap perdebatan selalu memaksa masyarakat memilih antara mempertahankan kenangan dan menerima masa depan?
Antonio Gramsci dan Kekuasaan yang Belum Tentu Memperoleh Kepercayaan
Persoalan berikutnya terletak pada hubungan antara kewenangan dan penerimaan sosial. Antonio Gramsci melalui konsep hegemoni menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya berlangsung melalui aturan. Pengaruh juga tumbuh melalui pembentukan persetujuan terhadap gagasan dan nilai yang berkembang dalam masyarakat. Karena itu, memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan berbeda dari memperoleh kepercayaan terhadap keputusan tersebut.
PSSI mempunyai hak menjalankan evaluasi kepelatihan sesuai aturan organisasinya. Namun, kewenangan tersebut tidak otomatis menjawab seluruh pertanyaan mengenai dasar kebijakan dan hasil yang hendak dicapai. Masyarakat dapat meminta penjelasan mengenai indikator keberhasilan, kesinambungan program, serta alasan profesional di balik perubahan. Permintaan itu tidak harus berarti penolakan terhadap kewenangan federasi.
Sebaliknya, ketidakpuasan publik tidak otomatis membuktikan bahwa federasi mengambil keputusan karena motif yang tidak sah. Dugaan mengenai kepentingan tersembunyi memerlukan bukti tersendiri. Kritik tidak boleh berubah menjadi tuduhan hanya karena hasil kebijakan mengecewakan sebagian orang. Ketelitian yang kita tuntut dari sebuah institusi juga harus berlaku terhadap orang yang mengkritiknya.
Ketika Hasil Kebijakan Menuntut Penjelasan
Namun, rangkaian pergantian pelatih setelah Januari 2025 tetap membuka pertanyaan kelembagaan yang layak diajukan. Ketika Kluivert gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026, apakah seluruh tujuan yang melandasi pergantian sebelumnya telah memperoleh evaluasi yang memadai? Bagian mana dari program yang menunjukkan perkembangan dan bagian mana yang tidak memenuhi sasaran? Bagaimana hasil evaluasi itu memengaruhi keputusan untuk memasuki periode kepelatihan berikutnya?
Pertanyaan tersebut tidak mengandaikan bahwa jawabannya pasti buruk. Justru karena kita belum memiliki seluruh informasi evaluasi internal, kesimpulan tidak boleh mendahului pembuktian. Namun, masyarakat berhak membedakan antara pengumuman pergantian personel dan penjelasan mengenai arah kebijakan. Keduanya bukan hal yang sama.
Dalam pembacaan Gramsci, kepercayaan tidak dapat diperintahkan melalui jabatan. Ia tumbuh ketika tindakan, penjelasan, dan pengalaman masyarakat membentuk hubungan yang dapat dipahami. Sebuah organisasi mungkin memiliki dasar administratif yang kuat, tetapi tetap menghadapi pertanyaan sosial mengenai konsistensi kebijakannya. Sebaliknya, popularitas seorang pelatih tidak membuat seluruh keputusan profesionalnya terbebas dari pemeriksaan.
Kritik sosial yang perlu kita ajukan bukan sekadar siapa yang memiliki kekuasaan. Pertanyaan yang lebih penting ialah bagaimana kekuasaan itu menjelaskan dirinya ketika hasil yang dijanjikan belum tercapai.
Gabriel Tarde dan Ketika Pendapat Menular Lebih Cepat daripada Fakta
Perdebatan mengenai Timnas Indonesia tidak hanya berlangsung di stadion. Ia bergerak melalui percakapan keluarga, kelompok pertemanan, pemberitaan, hingga media sosial. Satu pendapat dapat muncul dari pengalaman pribadi, lalu memperoleh dukungan setelah orang lain mengulanginya. Dalam waktu singkat, sebuah pandangan dapat terlihat seperti kesimpulan bersama, meskipun belum tentu seluruh orang yang menyebarkannya telah memeriksa dasar informasinya.
Gabriel Tarde menjelaskan proses peniruan sosial melalui Les Lois de l’Imitation. Menurut kerangka pemikirannya, manusia dapat mengadopsi tindakan dan gagasan melalui hubungan dengan orang lain. Peniruan bukan sesuatu yang selalu buruk karena masyarakat juga belajar melalui proses tersebut. Namun, penyebaran suatu pandangan tidak otomatis menjamin kebenaran isinya.
Dalam perdebatan sepak bola, pengulangan dapat membuat sebuah kesimpulan memperoleh kekuatan emosional. Ketika tim mengalami kekalahan, narasi mengenai kesalahan pelatih mungkin menyebar dengan cepat. Ketika tim menang, pendapat mengenai keberhasilan suatu kebijakan dapat memperoleh dukungan serupa. Namun, keduanya tetap membutuhkan pemeriksaan terhadap konteks pertandingan dan ukuran keberhasilan yang digunakan.
Menguji Keyakinan yang Kita Pinjam dari Orang Lain
Kita perlu berhati-hati ketika menilai pendapat publik hanya dari jumlah komentar atau unggahan. Aktivitas media sosial menunjukkan bahwa sebuah persoalan memperoleh perhatian, tetapi tidak otomatis mewakili pandangan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mengetahui alasan dan sikap suporter secara lebih luas, penelitian memerlukan metode pengumpulan data yang sesuai. Tanpa itu, kesimpulan mengenai kehendak seluruh pendukung hanya akan menjadi generalisasi.
Persoalan yang lebih mengganggu muncul ketika manusia mulai meminjam keyakinan orang lain tanpa memeriksa alasannya. Kita mungkin menerima kritik karena tokoh yang kita sukai menyampaikannya. Kita juga mungkin menolak informasi yang benar hanya karena berasal dari kelompok yang berbeda pandangan. Dalam keadaan demikian, penilaian tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada fakta, melainkan pada kedekatan sosial dengan orang yang menyampaikan informasi.
Di sinilah introspeksi perlu dimulai. Apakah kita benar-benar mempunyai alasan sendiri ketika menyampaikan pendapat mengenai pelatih? Atau kita hanya mengulang narasi yang paling sering muncul di lingkungan kita? Pertanyaan tersebut berlaku bagi pendukung Shin Tae-yong, pendukung pelatih penggantinya, pengurus, pengamat, dan media massa.
Sebuah pendapat tidak menjadi benar hanya karena ribuan orang mengulanginya. Namun, pendapat yang tidak populer juga tidak otomatis salah.
Kualitas kritik bergantung pada ketepatan informasi dan kekuatan argumentasi, bukan pada jumlah orang yang menyuarakannya.
René Girard dan Kebiasaan Mengakhiri Persoalan dengan Mencari Tersangka
Ketika sebuah tim gagal mencapai target, masyarakat membutuhkan penjelasan. Kebutuhan itu wajar karena prestasi olahraga melibatkan harapan, sumber daya, dan tanggung jawab profesional. Namun, penjelasan dapat berubah menjadi penyederhanaan apabila seluruh persoalan kita arahkan kepada satu orang. Di sinilah pemikiran René Girard mengenai mekanisme kambing hitam memperoleh relevansi.
Girard mengkaji bagaimana ketegangan dalam kelompok dapat mendorong pencarian pihak yang menanggung kesalahan bersama. Kerangka tersebut tidak berarti setiap kritik kepada seorang pelatih merupakan tindakan mencari kambing hitam. Pelatih memang memiliki tanggung jawab atas keputusan yang berada dalam kewenangannya. Namun, tanggung jawab itu tetap harus kita bedakan dari faktor lain yang memengaruhi hasil pertandingan.
Kegagalan Indonesia mencapai Piala Dunia 2026 terjadi pada masa Patrick Kluivert. Sebagai pelatih, ia mempunyai tanggung jawab profesional terhadap persiapan dan keputusan teknis tim. Namun, sebuah pertandingan juga melibatkan kualitas pemain, kemampuan lawan, kondisi fisik, pelaksanaan strategi, serta keadaan yang muncul selama laga. Seluruh faktor tersebut tidak dapat kita hapus hanya untuk memperoleh jawaban yang paling sederhana.
Apa yang Masih Tertinggal Setelah Pelatih Pergi
Persoalan yang sama berlaku ketika kita menilai masa kepelatihan Shin Tae-yong maupun John Herdman. Pencapaian tertentu tidak sepenuhnya berasal dari satu orang, sebagaimana kegagalan juga tidak selalu mempunyai satu penyebab. Penilaian yang adil perlu menempatkan tanggung jawab sesuai peran dan bukti yang tersedia. Tanpa pembedaan tersebut, kritik mudah berubah menjadi penyaluran kekecewaan.
Namun, ada pertanyaan lain yang lebih mendasar. Jika pergantian seorang pelatih belum menghasilkan seluruh perbaikan yang diharapkan, apakah evaluasi sudah menjangkau bagian sistem yang berada di luar kursi kepelatihan? Apakah pembinaan pemain, kesinambungan program, kualitas kompetisi, dan pengelolaan organisasi telah memperoleh perhatian yang sebanding?
Pertanyaan ini bukan tuduhan bahwa unsur-unsur tersebut pasti bermasalah. Ia merupakan cara untuk memastikan bahwa pemeriksaan tidak berhenti pada bagian yang paling mudah terlihat. Seorang pelatih dapat meninggalkan jabatan, tetapi persoalan kelembagaan yang berada di luar kewenangannya mungkin tetap membutuhkan penanganan.
Kritik sosial kehilangan makna ketika ia hanya mencari orang yang harus menanggung kemarahan. Sebaliknya, kritik memperoleh manfaat ketika mampu menjelaskan hubungan antara keputusan, tindakan, dan akibat yang dapat dibuktikan.
Mengganti orang mungkin mengakhiri satu masa kepemimpinan. Namun, pergantian itu belum tentu mengakhiri persoalan yang membuat sebuah organisasi membutuhkan perubahan.
Victor Turner dan Solidaritas yang Diuji Ketika Tim Tidak Menang
Ada pengalaman yang sulit kita temukan di luar stadion. Orang-orang dengan pekerjaan, penghasilan, dan latar belakang berbeda dapat berdiri bersama untuk mendukung satu kesebelasan. Mereka mungkin tidak saling mengenal, tetapi merasakan kedekatan ketika menyanyikan lagu kebangsaan atau merayakan gol. Dalam beberapa saat, identitas sebagai pendukung tim nasional menjadi lebih menonjol daripada perbedaan kehidupan sehari-hari.
Victor Turner membantu menjelaskan pengalaman tersebut melalui konsep communitas. Dalam kajiannya mengenai ritual dan liminalitas, Turner menunjukkan bagaimana kebersamaan dapat muncul ketika batas sosial tertentu menjadi kurang menonjol. Pertandingan sepak bola bukan ritual yang identik dengan objek utama penelitiannya. Namun, konsep tersebut dapat membantu kita membaca solidaritas yang muncul melalui pengalaman bersama.
Pertanyaannya, apakah solidaritas itu tetap bertahan ketika tim mengalami kekalahan? Apakah seseorang masih menghormati sesama pendukung yang memiliki penilaian berbeda mengenai pelatih? Atau kebersamaan hanya berlangsung selama seluruh orang merayakan hasil yang sama?
Perbedaan Pandangan Bukan Hilangnya Kesetiaan
Kita dapat menyaksikan dua orang mengenakan seragam Timnas Indonesia yang sama, tetapi mempunyai pendapat berlawanan mengenai keputusan PSSI. Salah seorang mungkin menilai pergantian pelatih sebagai kebutuhan profesional. Orang lain mungkin lebih mengutamakan kesinambungan program yang sudah berjalan. Perbedaan tersebut tidak otomatis membuat salah satu pihak kehilangan kecintaannya terhadap tim nasional.
Namun, perdebatan sering mengubah perbedaan penilaian menjadi persoalan kesetiaan. Kritik terhadap pelatih dapat memperoleh tafsir sebagai tindakan tidak mendukung tim. Sebaliknya, permintaan agar masyarakat memberi kesempatan kepada pelatih baru mungkin dianggap sebagai upaya menghapus pencapaian masa lalu. Ketika pandangan semacam itu menguasai percakapan, ruang untuk membahas persoalan secara utuh menjadi semakin sempit.
Solidaritas yang matang tidak menuntut seluruh orang berpikir sama. Ia justru memungkinkan perbedaan berlangsung tanpa menghilangkan penghormatan terhadap sesama. Dalam konteks sepak bola, dukungan kepada tim nasional dapat berjalan bersama evaluasi terhadap pelatih, pemain, maupun federasi. Keduanya tidak harus saling meniadakan.
Di sinilah masyarakat perlu memeriksa cara mereka memperlakukan orang lain. Apakah kita menghargai pendapat berbeda hanya ketika tim menang? Apakah kekecewaan terhadap hasil pertandingan memberi alasan untuk merendahkan sesama pendukung? Jika kebersamaan runtuh setiap kali muncul ketidaksepakatan, mungkin persoalan yang perlu kita benahi bukan hanya kualitas permainan di lapangan.
Jean Baudrillard dan Kenyataan yang Terpotong di Layar
Perkembangan media digital menghadirkan persoalan baru dalam cara masyarakat memahami sepak bola. Sebuah pertandingan berlangsung melalui rangkaian keputusan, perubahan situasi, dan interaksi antarpemain. Namun, orang yang tidak menyaksikan keseluruhan pertandingan mungkin membentuk penilaian melalui beberapa potongan video. Rekaman singkat dapat memperoleh pengaruh besar karena mudah beredar dan menarik perhatian.
Jean Baudrillard melalui pembahasan mengenai simulakra dan hiperrealitas mengajak kita memeriksa hubungan antara representasi dan kenyataan. Dalam konteks sepak bola, sebuah cuplikan dapat menjadi bagian dari bukti, tetapi tidak selalu menjelaskan keseluruhan peristiwa. Keaslian rekaman dan kelengkapan konteks tetap membutuhkan pemeriksaan. Tanpa itu, penilaian berisiko bertumpu pada gambaran yang tidak utuh.
Sebuah kekalahan dapat terlihat sebagai kegagalan strategi, tetapi analisis tetap perlu mempertimbangkan kondisi pemain, keputusan wasit, serta kualitas lawan. Sebuah kemenangan dapat menunjukkan keberhasilan pendekatan tertentu, tetapi belum tentu membuktikan bahwa seluruh persoalan pembinaan telah selesai. Kedua keadaan tersebut memerlukan penjelasan yang lebih luas daripada hasil akhir.
Ketika Potongan Video Menggantikan Konteks
Masalah menjadi semakin rumit ketika media sosial menghadirkan penilaian yang saling bertentangan. Potongan pernyataan dapat kehilangan makna awal apabila bagian pentingnya tidak ikut tampil. Komentar yang bernada tegas mungkin memperoleh perhatian lebih besar daripada penjelasan yang hati-hati. Akibatnya, masyarakat dapat mengenal sebuah peristiwa melalui pertengkaran mengenai peristiwa tersebut, bukan melalui pemeriksaan atas kejadian sebenarnya.
Media massa mempunyai tanggung jawab untuk tidak memperbesar persoalan melalui informasi yang belum lengkap. Judul yang menarik perhatian perlu tetap sesuai dengan isi pemberitaan. Kutipan harus mempertahankan konteksnya, sedangkan dugaan tidak boleh berubah menjadi fakta hanya karena memperoleh pengulangan. Dalam kerja jurnalistik, kecepatan menyampaikan informasi tidak dapat menggantikan kewajiban memeriksa kebenarannya.
Tanggung jawab serupa berlaku bagi penulis opini. Menggunakan istilah akademis tidak otomatis membuat suatu kesimpulan benar. Teori sosiologi dapat membantu menjelaskan kemungkinan hubungan antargejala, tetapi tidak membuktikan motif pribadi seseorang tanpa data. Jika saya menggunakan pemikiran Gramsci untuk menuduh pengurus mempunyai kepentingan tersembunyi tanpa bukti, saya telah menyalahgunakan teori yang seharusnya membantu memperjelas persoalan.
Kritik yang tajam bukan kritik yang paling keras menuduh. Kritik yang tajam ialah kritik yang mampu menunjukkan persoalan tanpa menyembunyikan batas pengetahuannya sendiri.
Claude Lévi-Strauss dan Perangkap Dua Kubu
Salah satu kebiasaan yang membuat perdebatan sepak bola sulit berkembang ialah kecenderungan membagi seluruh persoalan menjadi dua pilihan. Ada yang mempertentangkan dukungan kepada pelatih lama dengan penerimaan terhadap pelatih baru. Pilihan berikutnya seolah hanya mempertahankan kesinambungan atau menghendaki perubahan. Bahkan, kritik terhadap federasi kerap berhadapan dengan pembelaan terhadapnya.
Claude Lévi-Strauss melalui pendekatan strukturalisme membantu kita memahami bagaimana manusia menyusun makna melalui hubungan antarkategori. Pertentangan berpasangan dapat mempermudah seseorang mengenali perbedaan. Namun, kehidupan sosial tidak selalu mengikuti pembagian yang sesederhana itu. Banyak sikap berada di antara dua pilihan yang tampak saling berlawanan.
Seseorang dapat menghargai kontribusi Shin Tae-yong sambil mengakui hak PSSI melakukan evaluasi. Ia juga dapat mengkritik kegagalan pada masa Patrick Kluivert tanpa menganggap seluruh keputusan profesionalnya keliru. Begitu pula penilaian terhadap John Herdman perlu memperhatikan hasil dan konteks masa kepelatihannya sendiri. Tidak ada kewajiban untuk menghapus satu kenyataan demi mempertahankan kenyataan lainnya.
Ketika Identitas Kelompok Menentukan Fakta
Persoalan muncul ketika identitas kelompok menentukan cara seseorang menerima informasi. Fakta yang menguntungkan tokoh pilihan sendiri memperoleh perhatian, sedangkan informasi yang merugikan cenderung kita abaikan. Ketika pola tersebut berulang, perdebatan tidak lagi bertujuan memahami persoalan. Ia berubah menjadi upaya mempertahankan kesimpulan yang sudah kita tentukan sebelumnya.
Kebiasaan itu tidak hanya muncul dalam olahraga. Dalam kehidupan sosial yang lebih luas, manusia dapat memperlakukan perbedaan pandangan sebagai pertentangan identitas. Akibatnya, orang yang sebenarnya memiliki tujuan bersama justru sulit bekerja sama karena tidak menyepakati cara mencapainya. Sepak bola memberi contoh yang mudah kita lihat mengenai persoalan tersebut.
Kita perlu bertanya apakah masa depan Timnas Indonesia memang harus dipahami melalui pertarungan antara pendukung satu pelatih dan pendukung pelatih lainnya. Atau justru perhatian masyarakat seharusnya bergerak menuju persoalan yang dapat diperiksa bersama, seperti kesinambungan pembinaan, ukuran prestasi, dan pertanggungjawaban kebijakan?
Slavoj Žižek dan Janji Perubahan yang Terlalu Mudah Dipercaya
Setiap pergantian kepemimpinan biasanya membawa harapan mengenai perbaikan. Dalam sepak bola, pelatih baru dapat menawarkan pendekatan taktis, pengalaman, serta rencana kerja yang berbeda. Namun, perubahan nama tidak otomatis menghasilkan perubahan pada seluruh unsur organisasi. Slavoj Žižek melalui kritik ideologi menyediakan kerangka untuk mempertanyakan keyakinan yang sering kita terima sebagai sesuatu yang wajar.
Salah satu keyakinan yang patut diperiksa ialah anggapan bahwa persoalan dapat selesai hanya dengan menghadirkan figur baru. Dalam kenyataan, keberhasilan sebuah kesebelasan melibatkan banyak unsur yang saling berkaitan. Pelatih membutuhkan pemain yang sesuai dengan rencana permainan. Pembinaan jangka panjang juga memerlukan kompetisi, fasilitas, pengelolaan, dan kesinambungan kebijakan.
Karena itu, perubahan kepelatihan perlu kita nilai berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Apabila federasi menghendaki peningkatan kualitas permainan, indikatornya perlu memperoleh penjelasan. Apabila sasaran utamanya berupa pencapaian kompetisi, hasil pertandingan menjadi bagian penting dari evaluasi. Namun, hasil jangka pendek tidak selalu menjelaskan seluruh keadaan program pembinaan.
Mengukur Janji setelah Kepemimpinan Berubah
Kegagalan Indonesia mencapai Piala Dunia 2026 merupakan hasil yang dapat kita catat secara jelas. Akan tetapi, untuk menilai keseluruhan perkembangan sepak bola setelah kegagalan tersebut, masyarakat membutuhkan informasi yang lebih luas. Kita perlu memahami bagaimana federasi menetapkan sasaran berikutnya, bagaimana program berjalan, dan bagian mana yang menunjukkan perbaikan.
Di sinilah kritik sosial harus membedakan harapan dari pembuktian. Janji perubahan dapat menjadi alasan untuk memberi kesempatan kepada kepemimpinan baru. Namun, setelah program berjalan, masyarakat perlu memeriksa hasilnya berdasarkan ukuran yang relevan. Kepercayaan tidak berarti meniadakan evaluasi, sebagaimana evaluasi tidak selalu harus berakhir dengan pergantian orang.
Pertanyaan yang perlu kita pertahankan bukan hanya apakah pelatih baru lebih baik daripada pelatih sebelumnya. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah perubahan yang dilakukan benar-benar menyentuh persoalan yang hendak diperbaiki. Tanpa pemeriksaan tersebut, setiap pergantian berisiko melahirkan harapan baru yang kemudian menghadapi pertanyaan lama.
Revolusi Prancis dan Pelajaran tentang Harapan yang Berubah
Sejarah Revolusi Prancis memperlihatkan hubungan rumit antara kewenangan, harapan masyarakat, dan perubahan tatanan sosial. Peristiwa tersebut melibatkan persoalan politik, ekonomi, serta kepentingan berbagai kelompok. Tentu saja, pergantian pelatih Timnas Indonesia tidak dapat kita samakan dengan revolusi yang mengubah struktur negara. Namun, sejumlah pemikiran yang berkaitan dengan sejarah tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana harapan dan legitimasi memperoleh makna dalam kehidupan sosial.
Jean-Jacques Rousseau melalui The Social Contract mengembangkan gagasan mengenai kedaulatan dan dasar legitimasi politik. Pemikirannya dapat menjadi titik awal untuk membedakan kewenangan formal dari penerimaan sosial. Namun, organisasi olahraga bukan negara sehingga hubungan antara federasi dan suporter tidak identik dengan hubungan antara pemerintah dan warga negara. Analogi tersebut hanya berguna apabila kita menjaga batas perbandingannya.
Alexis de Tocqueville melalui The Old Regime and the Revolution membuka pembahasan mengenai hubungan antara perubahan keadaan dan perkembangan harapan masyarakat. Ketika sebuah kelompok mengalami kemajuan, ukuran penilaiannya dapat ikut berubah. Prestasi yang dahulu dianggap luar biasa mungkin berkembang menjadi tuntutan minimum pada periode berikutnya. Dalam sepak bola, kemungkinan tersebut dapat membantu kita merumuskan pertanyaan mengenai meningkatnya ekspektasi pendukung.
Harapan Suporter Tidak Pernah Sepenuhnya Seragam
Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seluruh kritik terhadap pergantian pelatih muncul karena harapan yang meningkat. Sikap masyarakat dapat terbentuk melalui pengalaman dan alasan yang beragam. Untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh, penelitian empiris tetap diperlukan. Teori hanya menyediakan kemungkinan penjelasan, bukan jawaban otomatis terhadap setiap peristiwa.
Georges Lefebvre melalui kajiannya mengenai Revolusi Prancis mengingatkan pentingnya memperhatikan keragaman kepentingan sosial. Masyarakat tidak bergerak sebagai satu individu yang mempunyai tujuan dan pengalaman identik. Hal yang sama berlaku bagi suporter Timnas Indonesia. Mereka dapat berbagi kecintaan terhadap kesebelasan nasional, tetapi memiliki ukuran berbeda dalam menilai pelatih maupun kebijakan federasi.
Pelajaran dari ketiga pemikir tersebut bukan ajakan untuk menyamakan sepak bola dengan perebutan kekuasaan negara. Justru sebaliknya, kita perlu memahami batas setiap perbandingan agar analisis tidak berubah menjadi dramatisasi. Kewenangan, harapan, dan kepentingan kelompok merupakan persoalan yang dapat saling berkaitan. Namun, hubungan di antara ketiganya harus kita jelaskan sesuai konteks.
Pertanyaan yang Seharusnya Tidak Hilang Setiap Kali Pelatih Berganti
Setelah menelusuri perjalanan Timnas Indonesia dan berbagai pendekatan sosiologis, saya melihat satu persoalan yang layak menjadi pusat introspeksi. Kita terlalu mudah memusatkan perdebatan pada figur, sementara pembahasan mengenai proses dan ukuran keberhasilan memerlukan perhatian yang tidak kalah besar. Nama pelatih menjadi simbol harapan, kekecewaan, bahkan pertentangan identitas. Namun, sepak bola nasional mempunyai kebutuhan kelembagaan yang berlangsung melampaui masa kerja seorang individu.
Bagi PSSI, introspeksi berkaitan dengan cara organisasi menetapkan tujuan dan mempertanggungjawabkan kebijakannya. Kewenangan memilih pelatih perlu berjalan bersama evaluasi yang mempunyai dasar jelas. Ketika hasil tidak sesuai sasaran, pemeriksaan seharusnya membantu menentukan faktor yang perlu diperbaiki. Pergantian personel mungkin menjadi salah satu pilihan, tetapi tidak otomatis menjawab seluruh persoalan.
Bagi pelatih, tanggung jawab profesional berkaitan dengan pekerjaan yang berada dalam kewenangannya. Strategi, persiapan, pemilihan pemain, dan keputusan selama pertandingan membutuhkan penilaian berdasarkan konteks. Pencapaian harus memperoleh pengakuan, sedangkan kekurangan perlu menjadi bahan evaluasi. Namun, penilaian tidak boleh mengabaikan faktor lain yang turut memengaruhi hasil.
Tanggung Jawab yang Tidak Berhenti di Federasi
Bagi pemain, tuntutan profesional juga perlu berjalan bersama pemahaman terhadap keadaan pertandingan. Kesalahan individu dapat menjadi bagian dari evaluasi tanpa harus berubah menjadi penghakiman terhadap keseluruhan kemampuan seseorang. Sebaliknya, dukungan publik tidak menghapus kebutuhan untuk memperbaiki kinerja. Setiap pihak mempunyai ruang tanggung jawab yang berbeda.
Bagi suporter, persoalannya mungkin lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita perlu memeriksa apakah kecintaan terhadap Timnas Indonesia membuat kita lebih teliti memahami persoalan atau justru lebih cepat menghakimi. Apakah kita bersedia mengakui pencapaian orang yang tidak kita sukai? Apakah kita mampu melihat kekurangan figur yang kita kagumi?
Bagi media, tanggung jawabnya terletak pada ketepatan informasi dan cara menyajikan perdebatan. Berita yang mengundang perhatian tidak harus mengorbankan konteks. Kutipan perlu memperoleh atribusi yang jelas, sedangkan dugaan tidak boleh tampil sebagai fakta. Ketika media hanya memperbesar pertentangan antarkelompok, masyarakat berisiko kehilangan ruang untuk memahami persoalan secara lebih utuh.
Kritik Sosial Harus Berani Mengoreksi Diri
Sebagai penulis opini, saya pun tidak berada di luar tuntutan tersebut. Perspektif sosiologis tidak memberi kewenangan untuk menganggap tafsir pribadi sebagai kebenaran terakhir. Teori merupakan alat untuk mengajukan pertanyaan dan membaca hubungan sosial. Ia tidak dapat menggantikan bukti mengenai motif, keputusan, atau pengalaman individu yang belum kita teliti.
Di sinilah kritik sosial harus berani mengoreksi dirinya sendiri. Tidak cukup meminta orang lain menjelaskan kesalahan apabila kita enggan memeriksa dasar keyakinan pribadi. Tuntutan perubahan sistem juga kehilangan makna apabila kita terus menilai segala sesuatu berdasarkan kedekatan terhadap figur. Pembicaraan tentang masa depan pun tidak akan berkembang apabila setiap perdebatan hanya menjadi pertarungan untuk membenarkan masa lalu.
Sepak Bola Tidak Boleh Kehilangan Ingatan, tetapi Harus Memiliki Arah
Kepergian Shin Tae-yong tidak menghapus pencapaian yang pernah diraih Timnas Indonesia pada masa kepelatihannya. Kegagalan pada periode Patrick Kluivert juga menjadi bagian dari perjalanan yang perlu memperoleh evaluasi. Sementara itu, masa kepelatihan John Herdman harus kita nilai berdasarkan pekerjaan, sasaran, dan hasil yang dapat diperiksa. Ketiga periode tersebut mempunyai konteks berbeda, tetapi terhubung melalui tanggung jawab kelembagaan yang berlangsung terus-menerus.
Kesinambungan tidak berarti mempertahankan seluruh keputusan lama. Perubahan juga tidak berarti menghapus seluruh pekerjaan sebelumnya. Sebuah sistem yang berkembang perlu mampu mengenali hal yang terbukti bermanfaat dan bagian yang membutuhkan perbaikan. Tanpa kemampuan tersebut, setiap kepemimpinan baru berisiko memulai kembali perdebatan yang seharusnya sudah menghasilkan pelajaran.
Dalam pembacaan terhadap Tapih Gendong, ingatan memperoleh makna karena hubungan yang pernah terbentuk. Namun, kehidupan terus bergerak dan manusia menghadapi keadaan baru. Pelajaran konseptualnya dapat kita bawa ke dalam sepak bola tanpa menyamakan jenis hubungan yang berbeda. Kita dapat menghormati pengalaman masa lalu sambil tetap memeriksa kebutuhan masa depan.
Mengubah Kenangan Menjadi Pelajaran Kelembagaan
Persoalan terpenting bukan apakah masyarakat harus berhenti mengenang Shin Tae-yong. Ingatan mengenai pencapaian merupakan bagian wajar dari kehidupan pendukung olahraga. Yang perlu kita periksa ialah bagaimana ingatan itu memengaruhi penilaian terhadap kebijakan sekarang. Apakah ia menjadi bahan pembelajaran, atau berubah menjadi ukuran tunggal yang membuat setiap perkembangan baru sulit memperoleh pemeriksaan mandiri?
Pertanyaan serupa berlaku bagi federasi. Apakah perubahan kepelatihan menjadi bagian dari program yang mempunyai kesinambungan, atau masyarakat belum memperoleh penjelasan memadai mengenai hubungan antarkeputusan tersebut? Jawabannya membutuhkan pemeriksaan terhadap kebijakan dan hasil yang tersedia. Kita tidak boleh mengisi kekosongan informasi dengan dugaan yang kemudian memperoleh kedudukan seolah-olah merupakan fakta.
Namun, ketiadaan jawaban lengkap tidak membuat pertanyaan tersebut kehilangan relevansi. Justru dalam keadaan itulah jurnalisme dan kritik sosial mempunyai pekerjaan yang penting. Keduanya perlu menelusuri fakta, menguji alasan, dan menjelaskan persoalan tanpa mengubah perbedaan pandangan menjadi permusuhan. Tujuannya bukan mencari pihak yang harus selalu menang dalam perdebatan, melainkan memperjelas persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Cermin Terakhir Menghadap kepada Kita Semua
Pada akhirnya, pergantian Shin Tae-yong dan perjalanan Timnas Indonesia sesudahnya tidak hanya menghadirkan persoalan olahraga. Rangkaian peristiwa tersebut membuka ruang untuk memahami bagaimana masyarakat membangun kesetiaan, menghadapi perubahan, dan menilai kewenangan. Ia juga memperlihatkan bagaimana ingatan kolektif dapat memengaruhi cara manusia membaca keadaan sekarang. Namun, semua hubungan tersebut perlu kita tempatkan sebagai pembacaan sosiologis, bukan kesimpulan empiris mengenai seluruh pendukung sepak bola Indonesia.
Dalam pandangan saya, persoalan yang paling patut kita renungkan bukan hanya mengapa seorang pelatih pergi. Kita perlu memeriksa mengapa perdebatan mengenai dirinya dapat terus hidup ketika organisasi telah memasuki periode kepemimpinan berikutnya. Kita juga perlu memahami apakah pergantian tersebut menghasilkan pembelajaran yang dapat memperkuat kesinambungan pembinaan. Pertanyaan itu lebih berguna daripada sekadar menentukan siapa yang harus memperoleh pembenaran atas seluruh kejadian.
PSSI mempunyai tanggung jawab menjelaskan kebijakan sesuai kewenangan dan ketentuan organisasinya. Pelatih serta pemain mempunyai tanggung jawab profesional berdasarkan pekerjaan masing-masing. Masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kritik yang didukung alasan. Media dan pengamat mempunyai kewajiban menjaga ketepatan informasi ketika membantu publik memahami persoalan.
Ketika Kritik Juga Harus Menghadap ke Dalam
Tidak satu pun pihak terbebas dari kebutuhan untuk mengevaluasi diri. Sebuah institusi dapat mempunyai kewenangan, tetapi tetap perlu membangun kepercayaan. Seorang pelatih dapat mempunyai pencapaian, tetapi tetap terbuka terhadap evaluasi. Seorang pendukung dapat memiliki kesetiaan yang kuat, tetapi tetap perlu memeriksa fakta yang tidak sesuai dengan keyakinannya.
Mungkin di sinilah letak persoalan sosial yang paling sulit kita hadapi. Kita lebih mudah menemukan kekurangan pada orang yang tidak kita sukai daripada mengakui kekeliruan dalam cara berpikir sendiri. Kita menuntut pertanggungjawaban dari pihak lain, tetapi kadang memperlakukan keyakinan pribadi seolah-olah tidak membutuhkan pemeriksaan. Dalam keadaan demikian, kritik dapat kehilangan tujuan pembelajarannya dan berubah menjadi cara mempertahankan identitas kelompok.
Sepak bola nasional membutuhkan penilaian yang mampu membedakan prestasi dari popularitas, kewenangan dari kepercayaan, serta penghargaan dari pembelaan tanpa batas. Semua itu tidak dapat kita peroleh hanya melalui pergantian pelatih. Ia memerlukan kebiasaan berpikir yang lebih teliti dan kesediaan menempatkan kepentingan pembinaan di atas pertentangan antartokoh.
Pertanyaan yang Tertinggal Setelah Peluit Panjang
Peluit panjang dapat mengakhiri pertandingan. Namun, ia tidak otomatis menjawab pertanyaan mengenai keputusan, tanggung jawab, dan pelajaran yang seharusnya kita peroleh.
Shin Tae-yong telah meninggalkan kursi pelatih. Patrick Kluivert juga telah mengakhiri masa kerjanya. John Herdman menjalani tanggung jawab pada periode berikutnya. Sementara itu, masyarakat terus membawa harapan yang sama terhadap kemajuan Timnas Indonesia, meskipun mempunyai pandangan berbeda mengenai jalan untuk mencapainya.
Pertanyaan terakhirnya bukan semata-mata siapa yang harus memimpin kesebelasan nasional. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah setiap pergantian telah membantu kita memahami apa yang perlu dipertahankan, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana hasilnya dapat diukur.
Sebab jika setiap kegagalan hanya membuat kita mencari nama baru untuk disalahkan, kapan kita mulai memeriksa persoalan yang tetap tinggal setelah orang itu pergi?
Oleh Syahrul Mubarok, S.Sos.
Sosiolog Muda Kalimantan Tengah
Referensi
1. Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books, New York. Memuat esai Deep Play, Notes on the Balinese Cockfight sebagai dasar pembahasan makna simbolik dalam pertandingan.
2. Gramsci, Antonio. (1971). Selections from the Prison Notebooks. Disunting dan diterjemahkan oleh Quintin Hoare dan Geoffrey Nowell Smith. International Publishers, New York. Rujukan mengenai hegemoni dan persetujuan sosial.
3. Tarde, Gabriel. (1890). Les Lois de l’Imitation. Félix Alcan, Paris. Rujukan mengenai imitasi dan penyebaran gagasan.
4. Girard, René. (1977). Violence and the Sacred. Johns Hopkins University Press, Baltimore. Rujukan mengenai mekanisme kambing hitam. Pembahasan hasrat mimetik juga merujuk pada Deceit, Desire, and the Novel.
5. Turner, Victor. (1969). The Ritual Process, Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing Company, Chicago. Rujukan mengenai liminalitas dan communitas.
6. Baudrillard, Jean. (1981). Simulacres et Simulation. Éditions Galilée, Paris. Rujukan mengenai simulakra dan hiperrealitas.
7. Lévi-Strauss, Claude. (1963). Structural Anthropology. Basic Books, New York. Rujukan mengenai strukturalisme dan hubungan antarkategori.
8. Žižek, Slavoj. (1989). The Sublime Object of Ideology. Verso, London. Rujukan mengenai kritik ideologi.
9. Rousseau, Jean-Jacques. (1762). Du contrat social ou Principes du droit politique. Rujukan mengenai legitimasi politik.
10. Tocqueville, Alexis de. (1856). L’Ancien Régime et la Révolution. Rujukan mengenai perubahan sosial dan perkembangan harapan.
11. Lefebvre, Georges. (1939). Quatre-Vingt-Neuf. Rujukan mengenai keragaman kepentingan sosial dalam Revolusi Prancis.
Referensi sastra
12. Kadafy, Muhammad. Tapih Gendong — Sebuah Renungan dan Catatan Perjalanan Seorang Perempuan. Tahun terbit, penerbit, dan ISBN.
Referensi perkembangan sepak bola Indonesia
13. Reuters. (6 Januari 2025). Indonesia sack coach Shin, citing World Cup target. Laporan mengenai keputusan PSSI mengakhiri kerja sama dengan Shin Tae-yong. https://www.reuters.com/sports/soccer/soccer-indonesia-sacks-national-football-coach-shin-citing-world-cup-target-2025-01-06/
14. ANTARA. (16 Oktober 2025). Resmi, PSSI Pecat Patrick Kluivert dan Tim Kepelatihannya Asal Belanda. Rujukan mengenai berakhirnya masa kepelatihan Kluivert setelah kegagalan Indonesia mencapai Piala Dunia 2026. https://www.antaranews.com/berita/5177841/resmi-pssi-pecat-patrick-kluivert-dan-tim-kepelatihannya-asal-belanda
15. Pusat Analisis Keparlemenan DPR RI. (Oktober 2025). Recruitment and Governance of National Team Coaches. Kajian mengenai perekrutan pelatih, evaluasi, dan kesinambungan pembinaan. Dokumen kajian DPR RI
16. ANTARA. (13 Januari 2026). Indonesia’s New Head Coach Open to More Naturalized Players. Rujukan mengenai periode kepelatihan John Herdman. https://en.antaranews.com/news/399733/indonesias-new-head-coach-open-to-more-naturalized-players














