Ilustrasi AI/Folitimes.id. Gambar ini bukan dokumentasi peristiwa yang diberitakan.
JAKARTA, folitimes.id – Presiden Prabowo Subianto meminta pengelolaan aset Badan Usaha Milik Negara bergerak lebih produktif. Arahan tersebut muncul dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (5/10/2026).
Presiden juga mendorong ruang kerja sama yang lebih besar antara BUMN dan dunia usaha.
Aset BUMN Harus Menghasilkan Nilai
Arahan Presiden menempatkan produktivitas sebagai ukuran utama.
Aset negara tidak cukup hanya tercatat dalam neraca. Pemerintah menginginkan aset menghasilkan manfaat ekonomi melalui perencanaan yang baik, terukur dan terstruktur.
Kerja Sama Swasta Dibuka
Pemerintah juga melihat dunia usaha sebagai mitra dalam optimalisasi aset.
Skema tersebut berpotensi membuka investasi dan meningkatkan pemanfaatan aset yang selama ini belum menghasilkan nilai maksimal.
Tata Kelola Menjadi Kunci
Dorongan produktivitas membawa konsekuensi lain.
Setiap kerja sama membutuhkan valuasi aset yang transparan, mekanisme pemilihan mitra yang dapat diaudit serta pembagian manfaat yang melindungi kepentingan negara.
BUMN Mengelola Aset Besar
Besarnya aset perusahaan negara membuat kebijakan optimalisasi memiliki dampak ekonomi luas.
Kesalahan valuasi atau struktur kerja sama dapat menimbulkan kerugian. Sebaliknya, pemanfaatan aset yang tepat dapat menciptakan investasi dan pendapatan baru.
Pemerintah Mengejar Efisiensi
Arahan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan negara.
Namun, ukuran keberhasilannya harus terlihat dari kinerja, pendapatan dan manfaat publik, bukan sekadar jumlah kesepakatan bisnis.
Transparansi Menjadi Ujian
Optimalisasi aset akan menjadi ujian tata kelola BUMN.
Publik membutuhkan kejelasan mengenai aset yang dikerjasamakan, nilai ekonominya, pihak yang menjadi mitra dan manfaat yang kembali kepada negara.
Sumber rujukan: Laporan dan keterangan terkait.














