PARIGI MOUTONG, folitimes.id – Kelompok Tani Karya Sari di Desa Tindaki, Kecamatan Parigi Selatan, mulai menanam padi dengan sistem Pertanian Modern–Advanced Agricultural System atau PM-AAS pada 27 September 2026. Langkah itu membawa teknologi budidaya ke lahan petani, tetapi hasilnya akan bergantung pada pendampingan yang konsisten setelah seremoni tanam selesai.
Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tengah mendampingi kegiatan tersebut bersama penyuluh pertanian lapangan. Petani menggunakan varietas Ciherang Sugih dalam pertanaman awal yang menjadi bagian dari pengenalan paket budidaya modern.
Paket teknologi di tingkat petani
PM-AAS menggabungkan benih bermutu, pengaturan populasi tanaman, mekanisasi, pemupukan berimbang, dan pengelolaan air yang efisien. Setiap unsur membutuhkan pelaksanaan yang saling terhubung agar biaya tambahan tidak berubah menjadi beban tanpa peningkatan produktivitas.
Kelompok tani tidak hanya membutuhkan mesin atau benih. Mereka perlu jadwal tanam yang jelas, catatan penggunaan pupuk, akses air yang terukur, serta ruang untuk melaporkan masalah hama maupun penyakit tanaman.
Tim BRMP Sulawesi Tengah hadir bersama ketua tim kerja kabupaten dan penyuluh untuk memberikan pendampingan teknis. Kehadiran ini penting karena perubahan cara budidaya sering menghadapi risiko pada musim pertama, terutama ketika petani harus menyesuaikan jarak tanam dan kebutuhan air.
Mengukur hasil, bukan hanya penanaman
Penerapan pertanian modern Parigi Moutong perlu diukur melalui data hasil panen, biaya produksi, penggunaan air, dan pendapatan petani. Tanpa pembanding sebelum dan sesudah program, publik sulit menilai apakah inovasi itu benar-benar menguntungkan kelompok tani.
Penyuluh dapat mencatat pertumbuhan tanaman per petak serta membandingkan pemakaian pupuk dengan pola lama. Catatan tersebut akan membantu petani mengambil keputusan pada musim berikutnya berdasarkan bukti, bukan semata pengalaman.
Pengelolaan air menjadi bagian paling menentukan, terutama ketika cuaca tidak selalu bergerak sesuai perkiraan. Petani perlu menyepakati pembagian air dan menjaga saluran agar teknologi budidaya tidak berhenti karena persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan bersama.
Akses pasar perlu mengikuti produksi
Peningkatan produksi tidak otomatis menaikkan kesejahteraan jika petani menjual gabah pada saat harga melemah. Karena itu, kelompok tani perlu menyiapkan informasi pembeli, biaya angkut, mutu gabah, dan pilihan penyimpanan sejak tanaman masih tumbuh.
Pemerintah daerah dapat menghubungkan kelompok tani dengan penggilingan, koperasi, atau offtaker yang memiliki standar penyerapan jelas. Hubungan tersebut akan membuat inovasi budidaya lebih dekat dengan tujuan utamanya, yakni pendapatan yang lebih pasti bagi petani.
BRMP Sulawesi Tengah belum mengumumkan target produksi dari tanam perdana ini. Tahap berikutnya akan menunjukkan apakah PM-AAS mampu bertahan sebagai praktik kerja petani, bukan sekadar proyek demonstrasi di satu musim tanam.
Kelompok tani juga perlu menyepakati siapa yang mencatat biaya dan hasil setiap tahap budidaya. Catatan bersama mencegah penilaian program hanya bertumpu pada kesan selama kunjungan lapangan. Pemerintah dapat memakai data itu untuk memutuskan apakah paket teknologi layak diperluas, perlu diubah, atau justru membebani petani.
Penyuluh perlu menyampaikan hasil pengamatan kepada seluruh anggota kelompok, termasuk petani yang tidak terlibat dalam petak awal. Forum terbuka membuat keputusan musim berikutnya tidak dikuasai segelintir orang dan memberi ruang bagi petani untuk menguji manfaat teknologi dengan kondisi lahannya sendiri.














