JAKARTA, folitimes.id – BMKG mengumumkan fenomena Bulan Panen atau Harvest Moon pada Sabtu, 26 September 2026. Fenomena tersebut merujuk pada purnama yang berlangsung paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menjelaskan peristiwa itu dalam publikasi Jumat, 25 September 2026. Masyarakat dapat mengamati Bulan tanpa menggunakan pelindung mata khusus sebagaimana kebutuhan pengamatan Matahari. [1]
Sebutan Tradisional untuk Waktu Purnama
“Ekuinoks sendiri merupakan fenomena ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa,” kata Teguh Rahayu, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG. Penjelasan tersebut menghubungkan penamaan Bulan Panen dengan waktu pergantian musim di belahan utara. [1]
BMKG menerangkan bahwa sebutan itu berkaitan dengan kebiasaan petani Eropa dan Amerika Utara memanfaatkan cahaya purnama untuk melanjutkan panen. Nama tersebut merupakan latar budaya, bukan penetapan musim panen yang seragam bagi seluruh wilayah Indonesia.
NASA juga menggunakan istilah Harvest Moon untuk purnama terdekat dengan awal musim gugur. Dengan demikian, penamaan ini menandai posisi waktunya dalam kalender musim, bukan perubahan Bulan menjadi benda langit yang berbeda. [2]
Jadwal Pengamatan Memiliki Acuan Lokasi
BMKG menyebut Bulan mulai terbit sekitar pukul 17.29 WIB untuk Jakarta dan sekitarnya. Lembaga itu menyarankan pengamatan mulai sekitar pukul 20.00 WIB ketika posisinya sudah lebih tinggi di langit. [1]
Waktu tersebut perlu dibaca bersama lokasi acuannya. Pembaca di daerah lain tidak sebaiknya menganggap jam terbit Jakarta berlaku persis sama untuk seluruh Indonesia.
Pilihan tempat juga memengaruhi pandangan ke arah langit. Pengamat memerlukan ruang pandang yang tidak tertutup bangunan atau pepohonan, sementara keberadaan awan dapat membatasi penampakan meskipun fase purnama sedang berlangsung.
NASA Menyoroti Planet di Sekitar Bulan
Panduan pengamatan NASA untuk September 2026 turut menempatkan Bulan Panen pada tanggal 26. NASA menyebut Saturnus tampak berada di kawasan langit yang berdekatan, sedangkan Neptunus melengkapi susunan yang lebih lebar. [3]
Menurut panduan tersebut, pengamat dapat melihat Saturnus dengan mata tanpa alat dalam kondisi yang mendukung. Neptunus jauh lebih redup, sehingga pengamatan memerlukan bantuan alat optik dan keadaan langit yang sesuai.
Istilah berdekatan dalam panduan pengamatan merujuk pada penampakan arah dari Bumi. Keterangan itu tidak berarti Bulan dan kedua planet memiliki jarak fisik yang saling berdekatan di ruang angkasa.
Purnama Merupakan Bagian dari Siklus
Penjelasan NASA mengenai fase Bulan menerangkan bahwa bentuk yang tampak berubah mengikuti bagian permukaan terang yang menghadap Bumi. Bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri, melainkan memantulkan cahaya Matahari yang mengenai permukaannya. [4]
Saat purnama, pengamat di Bumi melihat bagian terang itu hampir sepenuhnya. Siklus fase berlangsung berulang sekitar satu bulan, sehingga pengamatan pada malam berbeda dapat memperlihatkan perubahan bentuk bagian yang tampak terang.
Konteks tersebut membantu membedakan purnama dari gerhana atau fenomena lain yang memiliki susunan dan syarat tersendiri. Penggunaan nama tradisional tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gerhana, perubahan warna tertentu, atau kejadian luar biasa lainnya.
Untuk pengamatan malam, pembaca dapat mencocokkan waktu setempat dengan informasi cuaca dan panduan astronomi yang relevan. Jadwal dari BMKG dan NASA menjadi acuan peristiwa, sementara kondisi langit di lokasi menentukan seberapa jelas pengamat dapat melihatnya.
Sumber: BMKG: Bulan Panen September 2026; NASA: pengertian Harvest Moon; NASA: panduan langit September 2026; NASA: fase Bulan.














