JAKARTA, folitimes.id – Bea Cukai melaporkan temuan beras dan barang yang diduga garam dalam pemeriksaan impor terkait PT ILW di Bogor. Laporan penindakan menyebut pemeriksaan pada 7 September 2026 berawal dari pengembangan informasi atas pengiriman lain di Tanjung Perak, Surabaya.
Barang dalam 15 kontainer itu tercantum dalam pemberitahuan sebagai bahan garam untuk penyamakan kulit. Namun, pemeriksaan fisik menurut otoritas menemukan jenis muatan yang tidak seluruhnya sesuai dengan pemberitahuan tersebut. [1]
Rincian Muatan Perlu Dibaca Terpisah
Laporan JPNN pada 22 September 2026 merinci temuan 194.900 kilogram beras serta 225.400 kilogram barang yang diduga garam. Nilai keseluruhan barang menurut laporan tersebut sekitar Rp8,006 miliar, sementara penelitian lebih lanjut masih berlangsung. [1]
Publikasi InfoPublik pada 23 September juga memuat rincian berat yang sama. Akan tetapi, judulnya menyebut 420 ton beras, padahal isi pemberitaan membedakan beras dari muatan garam. [2]
Penjumlahan kedua komponen menghasilkan 420.300 kilogram atau 420,3 ton. Angka itu merupakan total temuan fisik dua jenis barang, sehingga tidak tepat menggunakannya untuk menyebut berat beras saja.
Pemberitahuan impor mencantumkan 420.000 kilogram, berbeda 300 kilogram dari penjumlahan rincian temuan. Selisih aritmetis ini belum menjelaskan penyebab perbedaan karena bahan sumber tidak memuat uraian penimbangan atau koreksi dokumen.
Penindakan Berangkat dari Pengembangan Informasi
Menurut laporan JPNN, Direktorat Penindakan dan Penyidikan bekerja bersama Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Barat dan Bea Cukai Bogor. Petugas mengawasi pembongkaran setelah menerima informasi mengenai dugaan ketidaksesuaian barang. [1]
Keterangan InfoPublik menempatkan pemeriksaan tersebut dalam rangkaian penindakan impor selama Agustus hingga September 2026. Rangkaian itu mencakup beberapa lokasi, sehingga jumlah barang dan nilai keseluruhan operasi tidak boleh langsung dianggap sebagai angka khusus perkara Bogor. [2]
“Ini menodai sekali,” kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam keterangan yang dimuat InfoPublik mengenai masuknya beras ilegal. Pernyataan tersebut merupakan penilaian pejabat terhadap penindakan, bukan putusan pengadilan terhadap PT ILW. [2]
Temuan Belum Menentukan Seluruh Pertanggungjawaban
Perbedaan pemberitahuan dan kondisi fisik menjadi dasar pemeriksaan otoritas. Namun, informasi itu belum dengan sendirinya menjawab siapa yang menyusun dokumen, siapa yang mengetahui isi muatan, atau bagaimana hubungan antar pihak dalam pengiriman.
Pertanyaan tersebut memerlukan dokumen dan hasil pemeriksaan lanjutan. Menyebut dugaan pelanggaran tidak memberi dasar untuk menambahkan tuduhan lain, seperti keterlibatan jaringan tertentu, tanpa bukti yang mendukung.
Bahan yang ditelaah juga belum memuat tanggapan PT ILW terhadap rincian temuan. Ketiadaan tanggapan dalam sumber tidak menunjukkan perusahaan menolak memberikan penjelasan, sebab tidak ada informasi yang memastikan proses permintaan tanggapan telah berlangsung.
Nilai Barang Berbeda dari Kerugian Negara
Angka Rp8,006 miliar dalam laporan merupakan perkiraan nilai barang. Naskah ini tidak menyebutnya sebagai kerugian negara karena bahan yang tersedia tidak memberikan perhitungan kerugian dengan dasar tersebut.
Demikian pula, penjumlahan berat hanya membantu memperjelas data muatan. Perhitungan sederhana itu tidak menggantikan hasil pemeriksaan laboratorium, penetapan klasifikasi barang, maupun penilaian hukum dari otoritas yang menangani perkara.
Bea Cukai menyatakan penelitian dan penanganan lebih lanjut masih berjalan dalam laporan yang menjadi rujukan. Perkembangan status barang, pihak yang diperiksa, dan penjelasan perusahaan perlu mengikuti informasi berikutnya sebelum pemberitaan menarik kesimpulan tambahan.
Sumber: JPNN: kronologi dan rincian pemeriksaan Bogor; InfoPublik: keterangan penindakan Bea Cukai.
| Jenis barang | Berat (kilogram) |
|---|---|
| Beras | 194900 |
| Barang yang diduga garam | 225400 |
| Jumlah aritmetis | 420300 |
Sumber: JPNN dan InfoPublik, 22–23 September 2026. Total adalah gabungan dua komponen, bukan beras saja.














