JAKARTA, folitimes.id — Pencopotan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional atau BGN bukan sekadar pergantian pejabat. Keputusan Presiden Prabowo Subianto itu menjadi sinyal keras bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG sedang berada dalam sorotan serius.
BGN bukan lembaga biasa dalam pemerintahan Prabowo. Badan ini memegang kendali atas salah satu program paling ambisius negara: menyediakan makan bergizi gratis bagi penerima manfaat di berbagai daerah. Karena itu, ketika kepala badan dicopot di tengah jalan, publik layak membaca keputusan tersebut sebagai bentuk koreksi langsung terhadap tata kelola program.
Pergantian itu diumumkan pada Selasa malam, 2 Juni 2026. Dadan Hindayana dicopot dari posisi Kepala BGN dan digantikan oleh Nanik S. Deyang. Perombakan juga menyentuh dua posisi wakil kepala BGN. Artinya, perubahan tidak hanya berhenti pada satu kursi, tetapi merombak sebagian besar struktur pimpinan lembaga tersebut.
Skala perombakan ini penting dicermati. Bila hanya satu pejabat diganti, publik bisa membacanya sebagai rotasi biasa. Namun ketika kepala badan dan dua wakil kepala ikut bergeser, maka ada pesan politik dan administratif yang lebih besar: Istana tampaknya tidak puas dengan arah kerja BGN.
Program MBG sejak awal dibangun sebagai wajah utama pemerintahan Prabowo. Program ini menjanjikan pemenuhan gizi, penguatan sumber daya manusia, sekaligus perputaran ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan. Namun program sebesar itu juga membawa risiko besar bila pengawasan, distribusi, dan tata kelolanya tidak dikendalikan secara ketat.
Masalah utama MBG bukan hanya soal makanan sampai atau tidak sampai kepada penerima manfaat. Yang lebih mendasar adalah bagaimana negara memastikan seluruh prosesnya berjalan transparan: siapa penyedia bahan pangan, bagaimana standar dapur ditetapkan, siapa yang mengawasi kualitas makanan, bagaimana data penerima diverifikasi, dan bagaimana anggaran dipertanggungjawabkan.
Di titik inilah pencopotan Kepala BGN menjadi penting. Pergantian pimpinan tidak boleh berhenti sebagai kabar politik harian. Pemerintah harus menjelaskan kepada publik apa saja catatan evaluasi yang membuat pimpinan BGN perlu dirombak. Sebab, program MBG menggunakan sumber daya negara dan menyasar kelompok masyarakat luas.
Tanpa penjelasan yang terang, pencopotan Dadan hanya akan menyisakan ruang spekulasi. Publik bisa bertanya apakah perombakan ini berkaitan dengan lambannya pelaksanaan program, lemahnya koordinasi antarinstansi, persoalan distribusi, kualitas layanan, atau masalah pengawasan anggaran. Pertanyaan-pertanyaan itu wajar karena BGN mengelola program strategis yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Pemerintah memang dapat menyebut pergantian pejabat sebagai bagian dari evaluasi. Namun evaluasi yang sehat tidak cukup berhenti pada pergantian nama. Evaluasi harus menghasilkan pembukaan data, pembenahan sistem, dan standar kerja yang lebih terukur. Jika tidak, perombakan hanya menjadi respons permukaan terhadap masalah yang mungkin lebih dalam.
Kini beban itu berada di pundak Nanik S. Deyang. Sebagai Kepala BGN baru, ia tidak hanya mewarisi kursi jabatan, tetapi juga mewarisi pertanyaan besar mengenai efektivitas lembaga tersebut. Tugas pertamanya bukan sekadar melanjutkan program, melainkan membuktikan bahwa BGN mampu bekerja lebih rapi, terbuka, dan dapat diawasi.
BGN perlu segera menunjukkan langkah konkret. Data penerima manfaat harus diperjelas. Mekanisme pengadaan harus dibuka secara proporsional. Standar kualitas makanan harus diawasi secara ketat. Dapur layanan dan mitra pelaksana harus dievaluasi berkala. Setiap keluhan dari daerah harus ditangani sebagai bahan koreksi, bukan dianggap sebagai gangguan terhadap citra program.
Program MBG terlalu besar untuk dijalankan hanya dengan narasi optimistis. Program ini membutuhkan disiplin birokrasi, pengawasan publik, dan keberanian pemerintah membuka kekurangan di lapangan. Tanpa itu, MBG berisiko menjadi program besar dengan masalah besar.
Pencopotan Dadan Hindayana seharusnya menjadi titik balik. Bila perombakan ini diikuti pembenahan serius, pemerintah dapat memperbaiki kepercayaan publik terhadap BGN dan program MBG. Namun bila hanya berhenti pada pergantian pejabat, maka publik berhak menilai bahwa akar masalah belum benar-benar disentuh.
Ukuran keberhasilan Nanik S. Deyang bukan pada seberapa cepat ia memberi pernyataan, melainkan pada seberapa kuat ia membenahi sistem. MBG harus dibuktikan di lapangan, bukan hanya di ruang konferensi pers. Anak-anak dan masyarakat penerima manfaat membutuhkan makanan yang layak, bergizi, aman, dan tepat sasaran. Negara wajib memastikan itu terjadi.













