BI Menahan Bunga, Rupiah Belum Keluar dari Tekanan

Bank sentral memilih insentif modal asing tanpa menambah beban bunga sektor domestik nasional

rupiah kembali tertekan
tekanan rupiah, harga pangan, dan energi setelah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen.

JAKARTA, folitimes.id – Bank Indonesia menahan suku bunga acuan ketika rupiah masih bergerak dekat Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Keputusan itu menjaga biaya pinjaman, tetapi belum membebaskan perekonomian dari tekanan kurs dan inflasi.

Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 22 Juli 2026, mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen. BI juga menahan fasilitas simpanan pada 4,75 persen dan fasilitas pinjaman sebesar 6,50 persen.

Mayoritas ekonom sebelumnya memperkirakan BI kembali menaikkan bunga. Sebanyak 20 dari 33 ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan kenaikan 25 basis poin.

BI mengambil jalur berbeda. Bank sentral memilih insentif arus modal dan efisiensi transaksi valuta asing.

Dua Pilihan dengan Risiko Berbeda

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan BI menghadapi dua pilihan. Bank sentral dapat menaikkan bunga atau memperkuat insentif untuk menarik modal asing.

“Insentif ini lebih efektif untuk menarik investasi asing dan mengendalikan nilai tukar tanpa memengaruhi suku bunga domestik,” kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, dalam konferensi pers daring, Rabu, 22 Juli 2026.

BI kemudian menurunkan biaya transaksi lindung nilai valuta asing. Bank sentral juga mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS.

Pilihan itu mencegah kenaikan langsung terhadap bunga kredit. Jika BI kembali menaikkan suku bunga, pelaku usaha dan konsumen dapat menanggung biaya lebih besar.

Namun, insentif modal asing membawa kelemahan. Dana portofolio dapat keluar dengan cepat ketika investor melihat peluang lebih aman di negara lain.

Rupiah Bergerak di Batas Rawan

Rupiah bergerak ke sekitar Rp17.875 per dolar AS setelah pengumuman tersebut. Sebelum konferensi pers, nilai tukar berada di kisaran Rp17.898.

Penguatan itu masih tipis. Rupiah juga tetap berada dekat batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pada 8 Juni 2026, rupiah sempat menyentuh sekitar Rp18.190. BI kemudian menggunakan kenaikan bunga untuk menarik dana dan meredam tekanan.

Sejak Mei 2026, BI telah mengerek suku bunga sebanyak 100 basis poin. Langkah agresif tersebut memperlihatkan beratnya upaya menjaga mata uang nasional.

Inflasi Mempersempit Ruang

Inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen. Angka itu mendekati batas atas sasaran BI sebesar 1,5–3,5 persen.

Perry memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran hingga 2027. Namun, El Niño dapat mengganggu pasokan dan mengerek harga pangan.

Ketegangan geopolitik juga memengaruhi harga minyak dunia. Indonesia sebagai pengimpor minyak bersih menghadapi risiko kenaikan biaya energi serta subsidi.

Pemerintah harus menjaga pasokan pangan, energi, dan kepercayaan pasar. Kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendirian jika belanja negara dan kebijakan perdagangan justru menambah ketidakpastian.

Keputusan menahan bunga memberi waktu kepada perekonomian domestik. Namun, waktu itu akan terbuang jika pemerintah gagal meredakan tekanan rupiah dan harga kebutuhan pokok.

Saluran Resmi
Ikuti WhatsApp Channel folitimes.id
Dapatkan update berita terbaru, isu publik, peristiwa daerah, dan kabar penting Kalimantan Tengah langsung dari saluran resmi folitimes.id.
folitimes.id — Membaca Untuk Memahami

iklan Siap Pasang
Kerja Sama Media

Jalin Kerja Sama Bersama folitimes.id

Buka peluang kolaborasi untuk publikasi, media partner, promosi usaha, branding, dan penyebarluasan informasi bersama folitimes.id untuk bisnis, lembaga, komunitas, maupun instansi.

Publikasi Media Partner Promosi Branding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *