Curah Hujan Kalteng Menurun, Wilayah Gambut Rawan Mengering

Peralihan Cuaca Juni, BMKG Ingatkan Wilayah Rawan Karhutla di Kalteng

Ilustrasi peralihan cuaca di Kalimantan Tengah pada Juni. BMKG mengingatkan potensi hujan lokal, cuaca panas, hingga risiko karhutla saat wilayah mulai memasuki periode lebih kering.

PALANGKA RAYA, folitimes.id — Kalimantan Tengah mulai memasuki fase peralihan cuaca pada Juni 2026. Hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, tetapi tren curah hujan diperkirakan mulai menurun menuju kondisi yang lebih kering.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra, mengatakan masyarakat perlu mewaspadai perubahan pola cuaca pada awal hingga pertengahan Juni. Menurutnya, masa peralihan tidak selalu berarti hujan langsung berhenti, tetapi intensitas dan sebarannya mulai berubah.

“Pada Juni, wilayah Kalimantan Tengah mulai memasuki masa peralihan menuju kondisi yang lebih kering. Namun, potensi hujan masih tetap ada, terutama hujan lokal dengan durasi singkat,” kata Chandra di Palangka Raya, Senin, 25 Mei 2026.

Berdasarkan prediksi BMKG Kalimantan Tengah, curah hujan pada Juni 2026 secara umum berada pada kategori menengah, yakni 100 hingga 200 milimeter. Namun, curah hujan kategori rendah, sekitar 50 hingga 100 milimeter, diprediksi mulai terjadi di sebagian kecil Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, dan Kotawaringin Timur.

Chandra menjelaskan, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena perubahan cuaca dapat terjadi dalam waktu cepat. Pada siang hingga sore hari, cuaca panas masih bisa diikuti pembentukan awan hujan, terutama di wilayah yang kelembapan udaranya masih cukup tinggi.

“Dalam masa peralihan, cuaca dapat berubah cukup cepat. Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi resmi BMKG sebelum beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Wilayah bagian selatan Kalimantan Tengah menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian. Kapuas bagian selatan, Pulang Pisau bagian selatan, Katingan bagian selatan, Palangka Raya, serta sebagian Kotawaringin Timur memiliki karakter lahan gambut, rawa, semak, dan kawasan terbuka yang rawan mengering saat curah hujan mulai turun.

Pada wilayah tersebut, potensi yang perlu diantisipasi adalah kebakaran hutan dan lahan, asap lokal, penurunan kualitas udara, serta gangguan jarak pandang apabila titik api mulai muncul. Masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

“Warga kami imbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Memasuki periode yang lebih kering, potensi kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi sejak dini,” kata Chandra.

Untuk wilayah perkotaan seperti Palangka Raya, risiko cuaca peralihan tidak hanya berkaitan dengan karhutla. Hujan lokal berdurasi singkat masih dapat memicu genangan di kawasan permukiman padat, ruas jalan dengan drainase terbatas, serta area rendah yang biasa menampung limpasan air.

Sementara itu, wilayah aliran sungai seperti Kapuas, Katingan, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, dan Murung Raya tetap perlu memperhatikan perubahan cuaca harian. Meski memasuki tren lebih kering, hujan lokal di bagian hulu dapat memengaruhi debit sungai dan aktivitas transportasi air.

Di wilayah pedalaman dan perbukitan seperti Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, serta bagian utara Kapuas, potensi hujan lokal masih dapat terjadi karena faktor topografi. Kondisi ini dapat memicu jalan licin, gangguan perjalanan darat, serta potensi pohon tumbang saat hujan disertai angin.

Untuk wilayah barat dan pesisir seperti Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Seruyan, dan Kotawaringin Timur, masyarakat diminta mewaspadai perubahan angin, cuaca panas, serta potensi penurunan kelembapan lahan. Kawasan perkebunan, semak, dan lahan terbuka di wilayah ini perlu diawasi untuk mencegah munculnya titik api.

Memasuki Juli dan Agustus, tren penurunan curah hujan diperkirakan semakin luas. BMKG memprediksi curah hujan di Kalimantan Tengah pada Juli secara umum berada pada kategori rendah, yakni 20 hingga 100 milimeter. Pada Agustus, curah hujan diperkirakan tetap rendah, berkisar 0 hingga 100 milimeter.

Selain itu, sifat hujan di Kalimantan Tengah pada Juni diprediksi secara umum berada di bawah normal. Kondisi bawah normal juga diperkirakan berlanjut pada Juli dan Agustus, sehingga kewaspadaan terhadap dampak musim kering perlu dilakukan lebih awal.

Chandra mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan perkiraan umum bulanan. Informasi cuaca harian dan peringatan dini tetap perlu dipantau karena kondisi atmosfer dapat berubah dalam waktu singkat.

Selain karhutla, perubahan cuaca juga dapat berdampak pada pertanian, kesehatan, transportasi darat, transportasi sungai, dan aktivitas warga di kawasan terbuka. Warga diminta menjaga kesehatan saat cuaca panas, mencukupi kebutuhan air, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Peralihan cuaca pada Juni menjadi penanda bahwa Kalimantan Tengah mulai bergerak menuju periode lebih kering. Meski hujan belum sepenuhnya hilang, kewaspadaan terhadap karhutla, genangan lokal, penurunan kualitas udara, dan gangguan aktivitas masyarakat perlu disiapkan sejak awal.

iklan Siap Pasang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *