PALANGKA RAYA, folitimes.id – Musim kemarau 2026 kembali menguji ketahanan Kalimantan Tengah dalam menghadapi bencana. Hingga 13 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 640 kejadian bencana di seluruh wilayah provinsi.
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menjadi ancaman paling dominan. Jenis bencana tersebut mencakup hampir tujuh dari setiap sepuluh kejadian yang tercatat sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau kembali meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan, lahan gambut, serta permukiman di sekitar wilayah rawan kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan pemerintah daerah terus meningkatkan kewaspadaan. Langkah itu penting karena karhutla kembali mendominasi dibandingkan jenis bencana lainnya.
“Data hingga 13 Juli 2026 mencatat terdapat 640 kejadian bencana di Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, kejadian paling banyak adalah kebakaran hutan dan lahan,” kata Ahmad Toyib, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, di Palangka Raya, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Ahmad Toyib, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memperkuat pencegahan dan penanganan. Upaya itu bertujuan mencegah potensi kebakaran berkembang semakin besar selama puncak musim kemarau.
Karhutla Menyumbang Lebih dari Dua Pertiga Bencana
Catatan BPBD memperlihatkan dominasi karhutla sepanjang tahun ini. Dari total 640 kejadian, sebanyak 435 kasus merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Jumlah tersebut setara sekitar 68 persen dari seluruh kejadian bencana. Dengan demikian, karhutla menjadi persoalan utama yang membutuhkan perhatian lebih besar dibandingkan ancaman lainnya.
| Jenis Bencana | Jumlah Kejadian | Persentase |
|---|---|---|
| Kebakaran hutan dan lahan | 435 | 67,97 persen |
| Kebakaran permukiman | 99 | 15,47 persen |
| Cuaca ekstrem | 50 | 7,81 persen |
| Banjir | 47 | 7,34 persen |
| Kekeringan | 4 | 0,63 persen |
| Abrasi | 3 | 0,47 persen |
| Tanah longsor | 2 | 0,31 persen |
| Total | 640 | 100 persen |
Dominasi tersebut memperlihatkan perubahan pola ancaman pada pertengahan tahun. Risiko banjir yang identik dengan musim hujan mulai bergeser menuju kebakaran ketika curah hujan menurun.
Karhutla juga memerlukan penanganan khusus. Api di lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan dan bertahan lebih lama daripada kebakaran pada tanah mineral.
Palangka Raya Mencatat Kejadian Terbanyak
Data BPBD memperlihatkan konsentrasi bencana tertinggi berada di Kota Palangka Raya. Ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut mencatat 217 kejadian.
Angka itu setara hampir 34 persen dari keseluruhan kejadian di Kalimantan Tengah. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 101 kejadian.
Barito Utara mencatat 83 kejadian. Sementara itu, Kotawaringin Barat berada di posisi berikutnya dengan 52 kejadian.
| Peringkat | Kabupaten/Kota | Jumlah Kejadian |
|---|---|---|
| 1 | Kota Palangka Raya | 217 |
| 2 | Kotawaringin Timur | 101 |
| 3 | Barito Utara | 83 |
| 4 | Kotawaringin Barat | 52 |
| 5 | Sukamara | 30 |
| 6 | Gunung Mas | 29 |
| 7 | Pulang Pisau | 24 |
| 8 | Lamandau | 22 |
| 9 | Murung Raya | 22 |
| 10 | Katingan | 18 |
| 11 | Kapuas | 16 |
| 12 | Seruyan | 13 |
| 13 | Barito Selatan | 11 |
| 14 | Barito Timur | 2 |
| Total | 640 | |
Tingginya jumlah kejadian di Palangka Raya memperlihatkan bahwa wilayah perkotaan juga menghadapi risiko besar. Keberadaan lahan gambut, aktivitas masyarakat, dan cuaca kering dapat mempercepat kemunculan serta penyebaran api.
Namun, jumlah kejadian belum otomatis menggambarkan luas kerusakan pada setiap daerah. BPBD perlu membuka data lebih rinci mengenai jenis bencana dan luas wilayah terdampak di masing-masing kabupaten atau kota.
Puluhan Ribu Warga Menanggung Dampak
Bencana sepanjang 2026 telah memengaruhi kehidupan 68.493 jiwa. BPBD juga mencatat 10 orang mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia.
Dampak tersebut tidak berhenti pada korban manusia. Ribuan rumah dan fasilitas umum turut terkena dampak berbagai kejadian bencana.
| Dampak terhadap Permukiman | Jumlah |
|---|---|
| Rumah terendam | 8.412 unit |
| Rumah rusak berat | 193 unit |
| Rumah rusak sedang | 25 unit |
| Rumah rusak ringan | 57 unit |
Kerusakan dan gangguan juga menjangkau fasilitas pelayanan masyarakat. Situasi ini dapat menghambat pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan, dan mobilitas warga.
| Fasilitas Terdampak | Jumlah |
|---|---|
| Rumah ibadah | 43 unit |
| Satuan pendidikan | 89 unit |
| Fasilitas kesehatan | 25 unit |
| Kantor | 16 unit |
| Ruas jalan | 91 lokasi |
| Jembatan | 60 unit |
Besarnya dampak itu menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menjadi persoalan keselamatan. Bencana juga menyentuh layanan dasar yang dibutuhkan masyarakat setiap hari.
Lahan Terbakar Mencapai 674,04 Hektare
Karhutla tidak hanya mendominasi jumlah kejadian. BPBD juga mencatat luas lahan terbakar mencapai 674,04 hektare hingga 13 Juli 2026.
Angka tersebut dapat terus bertambah apabila kebakaran baru muncul selama puncak musim kemarau. Penurunan curah hujan membuat vegetasi mengering dan lebih mudah terbakar.
Risiko semakin besar pada kawasan gambut. Api dapat masuk ke lapisan tanah, lalu menyebar tanpa terlihat jelas dari permukaan.
Kondisi semacam itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu, personel, dan sumber air yang memadai. Keterlambatan penanganan dapat memperbesar luas kebakaran dan memicu kabut asap.
Angka Tinggi Memunculkan Pertanyaan Pencegahan
Data 640 kejadian memperlihatkan besarnya beban penanggulangan bencana di Kalimantan Tengah. Namun, data tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pencegahan.
Pemerintah perlu menjelaskan berapa banyak kebakaran yang muncul akibat aktivitas manusia. Informasi mengenai penyebab kebakaran penting untuk menentukan pola penindakan dan edukasi.
BPBD juga perlu membandingkan jumlah kejadian dengan periode yang sama pada 2025. Perbandingan itu dapat menunjukkan apakah risiko bencana meningkat atau justru menurun.
Tanpa perbandingan tersebut, publik hanya menerima angka besar tanpa memperoleh gambaran tentang perkembangan kondisi dari tahun sebelumnya.
Pencegahan Menentukan Kondisi Bulan Berikutnya
BPBD Kalimantan Tengah menilai pencegahan menjadi langkah utama untuk mengurangi karhutla. Ahmad Toyib meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar, dan segera laporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat,” ujar Ahmad Toyib, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah.
Pemerintah daerah bersama BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan perlu memperkuat patroli. Tim gabungan juga harus memastikan peralatan dan sumber air tersedia di wilayah rawan.
Pencegahan tidak cukup berhenti pada imbauan. Pemerintah perlu menelusuri penyebab setiap kebakaran dan menindak pelaku apabila menemukan unsur kesengajaan.
Catatan hingga pertengahan Juli menjadi peringatan bahwa ancaman belum berakhir. Kalimantan Tengah masih harus menghadapi sisa musim kemarau dengan risiko karhutla yang dapat terus meningkat.















