PULANG PISAU, folitimes.id – Asap menghalangi pandangan ketika petugas mengarahkan selang ke permukaan gambut. Api terlihat mengecil, tetapi bara masih bergerak di bawah tanah.
- Api Bergerak di Bawah Permukaan
- Tubuh Menanggung Beban Pemadaman
- Air Menjadi Persoalan Utama
- Helikopter Menjatuhkan Jutaan Liter Air
- Ribuan Personel Tidak Boleh Menutupi Kebutuhan Dasar
- Dua Titik Masih Membutuhkan Pendinginan
- Penyelidikan Tidak Boleh Tenggelam dalam Asap
- Biaya Udara Menunjukkan Mahalnya Keterlambatan
- Petugas Memadamkan Akibat, Kebijakan Harus Menyentuh Penyebab
- Hak Jawab dan Koreksi
Kondisi itu memaksa tim gabungan terus menyiram dan memeriksa lahan. Mereka tidak dapat meninggalkan lokasi hanya karena kobaran sudah menghilang.
Kebakaran di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, mulai muncul pada 2 Juli 2026. Api kemudian meluas dan menguji daya tahan petugas selama lebih dari dua pekan.
Tim menghadapi suhu tinggi, asap pekat, dan medan yang sulit. Keterbatasan sumber air menambah beban pemadaman di atas gambut kering.
Pada 17 Juli 2026, pemantauan drone menemukan api diperkirakan tersisa di dua titik. Namun, kondisi permukaan belum menjamin seluruh bara telah mati.
Api Bergerak di Bawah Permukaan
Kebakaran gambut berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Api dapat masuk ke lapisan organik dan bergerak melalui bagian bawah permukaan.
Petugas harus memasukkan air hingga mencapai sumber panas. Penyiraman permukaan saja dapat meninggalkan bara yang kembali menyala.
Angin dan suhu tinggi meningkatkan risiko kemunculan api baru. Retakan gambut juga memungkinkan oksigen masuk dan mempertahankan pembakaran.
Karena itu, pemadaman membutuhkan waktu panjang. Petugas harus menyisir lahan berulang kali meski lokasi terlihat gelap dan basah.
Pada hari keenam penanganan, api sempat melemah. Namun, kobaran kembali membesar pada hari berikutnya.
Perubahan tersebut menunjukkan betapa sulitnya membaca gambut. Api dapat terlihat kalah pada sore hari, kemudian muncul kembali ketika lahan mengering.
Tubuh Menanggung Beban Pemadaman
Pemadaman darat mengandalkan tenaga manusia. Petugas harus membawa selang, mesin pompa, bahan bakar, dan perlengkapan keselamatan menuju titik api.
Medan gambut membuat langkah tidak stabil. Permukaan yang terlihat keras dapat menyimpan rongga panas di bawahnya.
Asap terus masuk ke area kerja. Masker membantu mengurangi paparan, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko.
Petugas juga menghadapi dehidrasi dan kelelahan. Panas dari matahari bercampur dengan suhu kebakaran di sekitar lokasi.
Pergantian personel menjadi kebutuhan penting. Tim yang terlalu lelah dapat kehilangan konsentrasi dan menghadapi kecelakaan.
Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa’i mengingatkan risiko tersebut saat mengunjungi lokasi pada Juli 2026.
“Kami mengingatkan seluruh personel agar selalu mengutamakan keselamatan selama menjalankan tugas,” kata Ahmad.
Pernyataan itu perlu diterjemahkan menjadi perlindungan nyata. Petugas membutuhkan alat pelindung, air minum, makanan, pemeriksaan kesehatan, dan waktu istirahat yang cukup.
Air Menjadi Persoalan Utama
Pemadaman gambut membutuhkan air dalam jumlah besar. Namun, sumber air tidak selalu berada dekat titik kebakaran.
Tim harus menarik selang panjang atau memindahkan mesin pompa. Penurunan muka air saat kemarau memperumit pekerjaan.
Air yang sampai ke permukaan juga belum tentu mencapai lapisan terbakar. Petugas perlu melakukan pembasahan berulang hingga suhu tanah turun.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pemadaman tidak selesai dalam satu hari. Luas lahan bukan satu-satunya ukuran kesulitan.
Kedalaman gambut, arah angin, ketersediaan air, dan jarak tempuh menentukan beban kerja. Setiap titik dapat membutuhkan penanganan berbeda.
Helikopter Menjatuhkan Jutaan Liter Air
Pemerintah memperkuat tim darat dengan operasi udara. Empat helikopter ikut menangani karhutla Kalimantan Tengah pada Juli 2026.
Dua helikopter menjalankan pengeboman air. Dua unit lain melakukan patroli untuk mendeteksi dan memantau titik kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBPK Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menjelaskan perkembangan operasi pada Juli 2026.
“Sejak mulai beroperasi pada 7 Juli hingga 12 Juli 2026, helikopter water bombing telah menjatuhkan sekitar 2,36 juta liter air,” kata Ahmad.
Operasi tersebut mencakup Tumbang Nusa, Bukit Tunggal di Palangka Raya, serta sejumlah wilayah Kotawaringin Timur.
Jumlah air itu menggambarkan besarnya operasi. Namun, pengeboman air dari udara tidak menggantikan kerja tim darat.
Air dari helikopter menekan kobaran dan membatasi penyebaran. Petugas darat tetap harus mencari serta mendinginkan bara.
Ahmad menyebut kolaborasi darat dan udara sebagai strategi utama. “Kolaborasi tim darat dan udara diperlukan agar kebakaran dapat dikendalikan dengan cepat,” ujarnya.
Ribuan Personel Tidak Boleh Menutupi Kebutuhan Dasar
Pemerintah menyatakan ribuan personel terlibat dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Mereka berasal dari BPBD, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.
Jumlah besar menunjukkan mobilisasi lintas lembaga. Namun, angka personel belum menjelaskan kondisi setiap posko.
Pemerintah perlu membuka data mengenai perlengkapan keselamatan, jam kerja, pergantian tim, dan dukungan kesehatan. Informasi tersebut penting karena pemadaman berlangsung dalam kondisi berbahaya.
Relawan dan Masyarakat Peduli Api juga membutuhkan perlindungan setara. Mereka tidak boleh bekerja hanya dengan perlengkapan seadanya.
Setiap kecelakaan, gangguan pernapasan, atau cedera harus tercatat. Catatan itu dapat menjadi dasar untuk memperbaiki standar keselamatan.
Dua Titik Masih Membutuhkan Pendinginan
Koordinator Posko Dalkarhutla Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Elisabet, menjelaskan kondisi terbaru yang terverifikasi pada 17 Juli 2026.
Pemantauan drone memperkirakan kebakaran tersisa di dua titik. Tim kemudian memusatkan pekerjaan pada pendinginan dan penyekatan bara.
“Karhutla di Tumbang Nusa sudah ada penurunan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dipadamkan sepenuhnya,” kata Elisabet.
Pernyataan tersebut menunjukkan kemajuan, tetapi belum menyatakan pemadaman selesai. Verifikasi akhir tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan.
Hingga artikel ini terbit pada 20 Juli 2026, Folitimes.id belum memperoleh pembaruan resmi yang memastikan seluruh bara telah padam. Status akhir perlu diumumkan oleh posko penanganan.
Keterbukaan informasi penting agar masyarakat tidak menerima kesan aman terlalu cepat. Gambut dapat kembali terbakar jika petugas meninggalkan titik panas.
Penyelidikan Tidak Boleh Tenggelam dalam Asap
Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran Tumbang Nusa. Pemeriksaan harus menentukan apakah api muncul akibat kelalaian, kesengajaan, atau faktor lain.
Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan memerintahkan penyelidikan pada 14 Juli 2026. Ia menegaskan proses hukum apabila polisi menemukan unsur kesengajaan.
“Jika terbukti terdapat unsur kesengajaan, proses hukum akan dilakukan sesuai ketentuan,” kata Iwan.
Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Polisi perlu menelusuri penguasaan lahan, kepentingan ekonomi, dan pihak yang mendapat manfaat.
Pemerintah juga perlu membuka status lahan yang terbakar. Informasi mengenai pemilik, pemegang izin, dan penggunaan lahan membantu publik mengawasi penyelidikan.
Tanpa transparansi, penyebab kebakaran akan kembali menjadi dugaan tahunan. Petugas terus memadamkan api, sementara sumber masalah tidak tersentuh.
Biaya Udara Menunjukkan Mahalnya Keterlambatan
Pengerahan helikopter membutuhkan biaya besar. Operasi juga memakai bahan bakar, mesin pompa, logistik, dan tenaga manusia.
Pemerintah perlu membuka penggunaan anggaran penanganan darurat. Publik berhak mengetahui biaya operasi darat dan udara.
Keterbukaan itu tidak bertujuan menghambat pemadaman. Transparansi justru membantu mengukur apakah pencegahan mendapat anggaran yang memadai.
Biaya menjaga gambut tetap basah dapat lebih rendah daripada operasi berhari-hari. Patroli, sekat kanal, sumur bor, dan kesiapan desa perlu berjalan sebelum api muncul.
Pemerintah juga harus memeriksa kondisi tata air. Gambut yang kehilangan kelembapan berubah menjadi lapisan bahan bakar.
Petugas Memadamkan Akibat, Kebijakan Harus Menyentuh Penyebab
Tim lapangan bekerja ketika api sudah muncul. Mereka menghadapi dampak dari tata kelola lahan, cuaca, kelalaian, atau kemungkinan pembakaran.
Beban itu tidak boleh terus berpindah kepada petugas. Pencegahan harus melibatkan pemerintah, pemegang izin, aparat, dan masyarakat.
Pengawasan lahan rawan perlu berlangsung sepanjang tahun. Pemerintah harus mengetahui lokasi yang mengering sebelum memasuki puncak kemarau.
Perusahaan di sekitar wilayah rawan wajib menyiapkan personel dan peralatan. Pemerintah perlu menguji kesiapan tersebut, bukan hanya menerima laporan.
Informasi operasi udara dapat dilihat dalam laporan penanganan 14 Juli 2026 mengenai pengerahan helikopter dan pengeboman air. Perkembangan dua titik pada 17 Juli juga tercatat dalam pemantauan Posko Dalkarhutla.
Di balik setiap angka luas lahan, terdapat manusia yang menghirup asap dan membawa selang. Keselamatan mereka harus menjadi ukuran utama penanganan.
Hak Jawab dan Koreksi
Folitimes.id membuka ruang hak jawab bagi BPBPK Kalimantan Tengah, BPBD Pulang Pisau, Dinas Kehutanan, kepolisian, pemegang hak atas lahan, serta pihak lain yang berkaitan.
Pihak terkait dapat menyampaikan status pemadaman terbaru, luas lahan, penyebab kebakaran, kondisi petugas, dan penggunaan anggaran. Redaksi akan memperbarui naskah setelah menerima data terverifikasi.















