SAMPIT, folitimes.id – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai memicu krisis kesehatan. Lebih dari 15 ribu warga tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA hingga Selasa, 28 Juli 2026.
Pada saat bersamaan, luas lahan yang terbakar telah melampaui 200 hektare. Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur merespons keadaan itu dengan membagikan 15 ribu masker kepada warga dan pelajar.
Angka tersebut menunjukkan dampak karhutla telah bergerak dari kawasan gambut menuju ruang hidup masyarakat. Namun, pemerintah masih perlu membuka periode pencatatan kasus ISPA agar publik dapat mengukur kaitannya dengan paparan asap.
Api Bertahan Selama Tiga Pekan
Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, menjadi salah satu kawasan dengan kebakaran cukup parah. Api telah membakar wilayah tersebut selama tiga pekan dan belum sepenuhnya padam.
Petugas BPBD, Manggala Agni, TNI, dan Polri terus berupaya mengendalikan kebakaran. Mereka menghadapi lahan kering, sumber air terbatas, serta api yang merambat di bawah permukaan gambut.
Api gambut tidak selalu terlihat dari permukaan. Bara dapat bertahan di dalam tanah dan kembali menyala saat angin membawa oksigen.
Keadaan itu membuat petugas membutuhkan air dalam jumlah besar. Mereka juga harus membasahi gambut hingga lapisan bawah agar api tidak kembali muncul.
Luas Kebakaran Melampaui 200 Hektare
Hingga Selasa, 28 Juli 2026, karhutla telah membakar lebih dari 200 hektare lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Kebakaran tersebut menghasilkan asap yang mulai menyelimuti kawasan permukiman.
Besarnya luas kebakaran menuntut pemerintah membuka data secara lebih terperinci. Publik perlu mengetahui lokasi, pemilik atau pengelola lahan, penyebab kebakaran, serta perkembangan pemadaman pada setiap titik.
Tanpa rincian tersebut, angka 200 hektare hanya menunjukkan skala kerusakan. Data itu belum menjelaskan pihak yang harus bertanggung jawab atau kelemahan pencegahan di lapangan.
Pemerintah daerah juga perlu menjelaskan apakah angka tersebut berasal dari pengukuran lapangan, pemetaan udara, atau akumulasi laporan petugas. Kejelasan metode penting untuk memastikan ketepatan data.
Kasus ISPA Tembus 15 Ribu
Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur mencatat lebih dari 15 ribu warga mengalami ISPA. Kabut asap dapat memperburuk kondisi masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Namun, data yang tersedia belum memuat periode pencatatan kasus. Pemerintah juga belum menjelaskan jumlah kasus sebelum kabut asap muncul sebagai bahan perbandingan.
Rincian tersebut penting untuk menilai peningkatan kasus secara objektif. Pemerintah perlu memisahkan kasus baru, kunjungan berulang, dan pasien dengan penyakit penyerta.
Tanpa data pembanding, publik belum dapat mengetahui berapa besar peningkatan ISPA yang berkaitan langsung dengan karhutla. Transparansi diperlukan agar kebijakan kesehatan tidak hanya berakhir pada pembagian masker.
Dinkes Membagikan 15 Ribu Masker
Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur membagikan masker kepada pengendara di jalan raya dan pelajar di sejumlah sekolah. Pemerintah menyiapkan 12 ribu masker untuk orang dewasa dan tiga ribu masker untuk anak-anak.
Petugas Pelaksana Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur, Risky Saputra, menyampaikan langkah pencegahan melalui pembagian masker. Dinkes juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kabut asap semakin pekat.
Pembagian masker menjadi langkah darurat yang penting. Namun, jumlah masker itu hanya setara dengan angka warga yang tercatat mengalami ISPA.
Pemerintah perlu menjelaskan cakupan penerima dan mekanisme distribusinya. Masker juga perlu menjangkau kelompok rentan serta warga yang tinggal dekat lokasi kebakaran.
Kasus Diare Ikut Meningkat
Selain ISPA, Dinas Kesehatan menemukan peningkatan kasus diare. Pemerintah mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri, makanan, air, dan lingkungan.
Namun, Dinkes belum menyampaikan jumlah kasus serta tingkat kenaikannya. Data tersebut perlu dibuka agar masyarakat memahami besarnya ancaman dan wilayah yang paling terdampak.
Pemerintah tidak cukup hanya meminta warga menjaga kesehatan. Dinas terkait harus memastikan akses air bersih, layanan kesehatan, obat-obatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Karhutla telah membakar lebih dari 200 hektare dan menekan kesehatan ribuan warga. Pemerintah perlu menghentikan sumber api, membuka data kesehatan secara berkala, serta memastikan penanganan menjangkau masyarakat yang paling berisiko.














