PALANGKA RAYA, folitimes.id — Pertarungan melawan ekstremisme tidak lagi hanya berlangsung setelah sebuah ancaman muncul. Satgaswil Kalimantan Tengah Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri kini mendorong pencegahan dari lingkungan sosial melalui Gerakan Resiliensi Sosial. Program tersebut menyasar sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, instansi terkait, hingga ruang digital yang menjadi jalur cepat penyebaran informasi.
Agenda sosialisasi berlangsung di SMP Muhammadiyah Palangka Raya, Jumat, 21 Agustus 2026. Pesan utamanya jelas, masyarakat perlu memiliki kemampuan mengenali, menyaring, dan menolak narasi intoleransi, radikalisme, ekstremisme, serta terorisme sebelum berkembang menjadi pembenaran terhadap kekerasan.
Densus 88 Bergerak dari Hulu
Brigadir Sabrina, S.H., Bintara Unit Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, dalam bahan kegiatan menekankan perlunya keterlibatan berbagai unsur untuk membangun ketahanan sosial. Sinergi tersebut diarahkan sebagai langkah preventif dan edukatif menghadapi penyebaran paham IRET serta paham yang dapat mengarah pada ekstremisme berbasis kekerasan.
“Gerakan Resiliensi Sosial perlu dibangun secara bersama melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan, jajaran instansi terkait, serta seluruh lapisan masyarakat sebagai langkah preventif dan edukatif untuk mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.”ungkapnya
Langkah tersebut memperlihatkan perubahan titik tekan. Penanganan ancaman tidak hanya menunggu persoalan masuk ke ranah hukum. Daya tahan sosial juga dibangun sejak lingkungan pendidikan dan komunitas. Logikanya sederhana: semakin kuat kemampuan warga membaca sebuah narasi, semakin kecil ruang bagi propaganda kekerasan untuk memperoleh penerimaan.
Dua Medan Pencegahan
Satgaswil Kalteng menggunakan dua jalur. Pertama, direct approach melalui sosialisasi tatap muka, edukasi publik, imbauan kamtibmas, dan dialog bersama berbagai elemen. Kedua, online approach dengan membuat kontra-narasi, memperkuat literasi digital, serta menyebarkan kampanye perdamaian melalui media sosial dan platform digital.
Pilihan kedua menjadi penting karena arus informasi kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan komunikasi tatap muka. Konten provokatif dapat berpindah dari satu pengguna ke pengguna lain tanpa mengenal batas wilayah. Dalam kondisi seperti itu, sekadar meminta warga berhati-hati tidak cukup. Mereka perlu memahami bagaimana sebuah informasi bekerja, siapa yang menyebarkannya, konteks apa yang sengaja dihilangkan, dan apakah sebuah pesan sedang mendorong kebencian terhadap kelompok tertentu.
Sekolah Menjadi Titik Strategis
Pemilihan SMP Muhammadiyah Palangka Raya sebagai lokasi sosialisasi menunjukkan bahwa lembaga pendidikan memiliki posisi penting dalam agenda tersebut. Pelajar hidup dalam lingkungan informasi yang sangat terbuka. Narasi ekstrem tidak selalu hadir dalam bentuk propaganda yang terang-terangan. Ia dapat muncul melalui video pendek, unggahan provokatif, potongan pernyataan, atau konten yang tampak biasa tetapi perlahan membangun permusuhan terhadap kelompok lain.
Karena itu, literasi digital perlu berjalan bersama pendidikan toleransi. Pelajar tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah konten berbahaya. Mereka perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, menolak ajakan kebencian, dan mengetahui langkah yang tepat ketika menemukan materi yang mengarah pada kekerasan.
Jangan Berhenti pada Sosialisasi
Di sinilah tantangan terbesar Gerakan Resiliensi Sosial muncul. Sosialisasi merupakan langkah awal, bukan ukuran akhir keberhasilan. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting, berapa banyak pelajar yang benar-benar memahami materi, bagaimana perubahan perilakunya, seberapa luas jangkauan kontra-narasi, dan bagaimana efektivitas program tersebut diukur?
Tanpa indikator yang jelas, keberhasilan mudah terjebak pada jumlah kegiatan dan peserta. Padahal, tujuan akhirnya bukan sekadar menghadirkan warga dalam sebuah forum. Target yang lebih penting ialah membangun kemampuan menghadapi propaganda, menjaga toleransi, menyaring informasi, dan menolak pembenaran terhadap kekerasan.
Benteng Pertama Ada di Masyarakat
Sosialisasi Densus 88 di Palangka Raya memperlihatkan bahwa pencegahan ekstremisme kini bergerak ke wilayah yang lebih luas. Sekolah, keluarga, komunitas, tokoh agama, dan ruang digital menjadi bagian dari mata rantai pertahanan sosial.
Namun, efektivitas Gerakan Resiliensi Sosial akan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah sosialisasi berakhir. Jika edukasi hanya berhenti di ruang pertemuan, ancaman di ruang digital tetap bergerak tanpa pengawasan. Sebaliknya, jika pengetahuan berubah menjadi kemampuan membaca informasi dan keberanian menolak narasi kekerasan, masyarakat memiliki benteng yang jauh lebih kuat.














