SAMPIT, folitimes.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengancam kawasan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Petugas gabungan menghadapi persoalan serius dalam operasi pemadaman pada Kamis, 8 Oktober 2026.
- Sumber Air Melimpah, Peralatan Justru Menjadi Kendala
- Sembilan Puluh Personel Berjuang Menjangkau Titik Api
- Perjalanan Dua Jam Menghambat Operasi Pemadaman
- Sebaran Kebakaran Bergeser ke Lima Kecamatan
- Seranau Menjadi Perhatian dalam Pemantauan Titik Panas
- Petugas Bangun Sekat Api hingga Sumur Bor
- Kebutuhan Peralatan Menjadi Persoalan Mendesak
Sumber air tersedia di sekitar lokasi kebakaran. Namun, keterbatasan mesin pompa dan selang menghambat upaya petugas menjangkau titik api di kawasan gambut.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan penting dalam penanganan karhutla. Ketersediaan air belum cukup menjamin keberhasilan pemadaman tanpa dukungan peralatan dan akses yang memadai.
Sumber Air Melimpah, Peralatan Justru Menjadi Kendala
Kobaran api masih menghanguskan pepohonan dan vegetasi di kawasan Mentaya Seberang. Petugas harus menembus medan sulit untuk mencapai lokasi kebakaran yang berada jauh dari permukiman.
Kondisi geografis menjadi salah satu hambatan utama. Kawasan gambut dan terbatasnya jalur kendaraan membuat petugas kesulitan membawa mesin pompa serta perlengkapan pemadaman.
Persoalan semakin rumit ketika panjang selang tidak mencukupi kebutuhan distribusi air. Petugas juga harus memperbaiki sejumlah peralatan saat operasi pemadaman masih berlangsung.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan sarana pemadaman dalam menghadapi kebakaran yang terus berpindah ke wilayah lain.
Sembilan Puluh Personel Berjuang Menjangkau Titik Api
Sebanyak 90 personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan unsur pemadam terlibat dalam penanganan kebakaran di Mentaya Seberang. Mereka berupaya mengendalikan api sekaligus mencegah penjalaran ke kawasan gambut lainnya.
Namun, pengerahan personel dalam jumlah besar belum sepenuhnya mengatasi hambatan di lapangan. Keterbatasan sarana distribusi air memperberat pekerjaan petugas.
Tim gabungan harus membawa perlengkapan menuju kawasan yang sulit mereka jangkau dengan kendaraan biasa. Kondisi ini menguras waktu dan tenaga sebelum proses pemadaman berlangsung.
Perjalanan Dua Jam Menghambat Operasi Pemadaman
Petugas membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam untuk mencapai sejumlah titik kebakaran. Jalur menuju lokasi memiliki akses terbatas dan hanya memungkinkan penggunaan kendaraan roda dua pada bagian tertentu.
Asap dan debu turut mengganggu perjalanan personel. Mereka harus melewati kawasan dengan jarak pandang terbatas sambil membawa kebutuhan operasional.
Hambatan tersebut memperpanjang waktu penanganan sejak petugas bergerak menuju lokasi. Jarak antara sumber air dan titik api juga menambah tantangan dalam menyalurkan air.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya dukungan transportasi lapangan, mesin pompa, serta jaringan selang yang sesuai dengan karakter kawasan gambut.
Sebaran Kebakaran Bergeser ke Lima Kecamatan
Memasuki bulan ketiga penanganan karhutla, pola sebaran kebakaran mulai mengalami perubahan. Dalam dua pekan terakhir, sejumlah titik kebakaran muncul semakin jauh dari kawasan perkotaan Sampit.
Laporan lapangan mencatat kebakaran di Kecamatan Seranau, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Kota Besi, dan Cempaga. Perkembangan ini memperluas wilayah yang membutuhkan pengawasan serta penanganan petugas.
Luas kumulatif hutan dan lahan yang mengalami kebakaran di Kotawaringin Timur diperkirakan telah melampaui 1.000 hektare. Angka tersebut masih memerlukan penegasan melalui pembaruan data resmi instansi terkait.
Perluasan wilayah terdampak juga menambah tantangan distribusi personel dan peralatan. Setiap lokasi memiliki kondisi medan serta kebutuhan pemadaman yang berbeda.
Seranau Menjadi Perhatian dalam Pemantauan Titik Panas
Kecamatan Seranau menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Laporan lapangan yang merujuk pemantauan satelit dan aplikasi Sipongi menyebut wilayah ini memiliki konsentrasi titik panas tertinggi di Kotawaringin Timur.
Namun, jumlah titik panas dan periode pengamatannya belum tercantum dalam laporan. Data tersebut penting untuk memastikan perkembangan ancaman kebakaran secara terukur.
Titik panas juga tidak selalu menunjukkan kebakaran yang telah terkonfirmasi. Petugas tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Perubahan sebaran titik panas perlu menjadi dasar penempatan personel dan peralatan. Langkah tersebut dapat membantu petugas menentukan wilayah yang membutuhkan respons lebih cepat.
Petugas Bangun Sekat Api hingga Sumur Bor
Tim gabungan menjalankan sejumlah langkah untuk membatasi penjalaran api. Mereka membuat sekat api, membangun sumur bor, serta menggali parit sebagai tempat penampungan air.
Petugas mengandalkan langkah tersebut untuk mendukung operasi pemadaman di kawasan yang sulit terjangkau jaringan distribusi air.
Meski demikian, keberadaan sumur bor dan parit tetap membutuhkan dukungan pompa serta selang. Tanpa perlengkapan memadai, petugas masih menghadapi kesulitan mengalirkan air menuju titik kebakaran.
Kebutuhan Peralatan Menjadi Persoalan Mendesak
Hambatan pemadaman di Mentaya Seberang memperlihatkan pentingnya kesiapan logistik dalam penanganan karhutla. Jumlah personel perlu sejalan dengan ketersediaan mesin pompa, selang, dan sarana transportasi.
Laporan lapangan belum merinci jumlah peralatan yang tersedia maupun tambahan sarana yang telah diajukan. Informasi tersebut penting untuk menilai kesesuaian kebutuhan operasional dengan dukungan yang diterima petugas.
Kapolres Kotawaringin Timur, AKBP I Kadek Yoga Sidhimantra, tercantum sebagai narasumber dalam laporan televisi dari lokasi kejadian. Namun, transkrip pernyataannya belum tersedia dalam bahan tertulis sehingga isi keterangannya belum dapat dikutip secara langsung.
Hingga Kamis, 8 Oktober 2026, petugas gabungan masih menjalankan pemadaman dan pendinginan di kawasan terdampak. Keterbatasan peralatan serta sulitnya akses menjadi tantangan utama untuk mencegah api menjalar lebih luas.












