Ilustrasi AI kawasan industri. Gambar bukan dokumentasi peristiwa sebenarnya.
- Dua Puluh Tiga Perusahaan Akan Bergabung
- Lahan 35 Ribu Hektare Masuk Rencana Pengelolaan
- Pendapatan Tidak Lagi Bertumpu pada Tanah
- Danareksa Akan Kembali Fokus pada Pengelolaan Aset
- Efisiensi Harus Terlihat dalam Biaya Investasi
- Pekerja dan Kontrak Memerlukan Kepastian
- Target November Menjadi Ujian Pelaksanaan
JAKARTA, folitimes.id – Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia menyiapkan penggabungan 23 perusahaan kawasan industri milik negara menjadi satu entitas. Rencana tersebut mencakup pengelolaan lahan sekitar 35.000 hektare dan menargetkan pengumuman pada 5 November 2026.
Langkah itu berpotensi mengubah pengelolaan aset industri berskala besar. Namun, Danantara belum merampungkan seluruh rincian model bisnis perusahaan hasil konsolidasi.
Dua Puluh Tiga Perusahaan Akan Bergabung
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyampaikan rencana tersebut di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
“Pada 5 November akan diumumkan merger daripada 23 perusahaan industrial estate kita menjadi satu perusahaan industrial estate,” kata Dony.
Pernyataan tersebut menegaskan target pengumuman konsolidasi. Namun, pengumuman rencana tidak sama dengan penyelesaian seluruh proses penggabungan secara hukum.
Danantara belum memublikasikan daftar lengkap 23 perusahaan beserta tahapan integrasinya dalam keterangan yang tersedia.
Lahan 35 Ribu Hektare Masuk Rencana Pengelolaan
Dony menyebut perusahaan hasil konsolidasi akan mengelola sekitar 35.000 hektare kawasan industri.
Skala tersebut dapat menempatkan entitas baru sebagai pengelola kawasan industri berukuran besar di Asia Tenggara.
Namun, angka luas lahan belum menjelaskan berapa hektare yang sudah beroperasi, telah terisi investor, atau masih membutuhkan infrastruktur.
Pemisahan data itu penting. Luas kawasan tidak otomatis menggambarkan tingkat produktivitas maupun pendapatan perusahaan.
Pendapatan Tidak Lagi Bertumpu pada Tanah
Danantara juga berencana mengubah cara kawasan industri menghasilkan pendapatan.
Dalam model yang sedang dirancang, pengelola akan meningkatkan peran fasilitas dan layanan bagi investor. Pendapatan tidak hanya bergantung pada transaksi tanah.
Perubahan ini dapat mencakup layanan pendukung operasional industri. Namun, rincian tarif, kontrak, dan jenis layanan belum diumumkan secara final.
Tanpa informasi tersebut, dampak model baru terhadap biaya investasi belum dapat dihitung.
Danareksa Akan Kembali Fokus pada Pengelolaan Aset
Rencana konsolidasi juga menyentuh pembagian fungsi bisnis BUMN.
Dony menjelaskan bahwa Danareksa akan berfokus pada pengelolaan aset. Sementara itu, bisnis kawasan industri akan berada dalam entitas tersendiri.
Pemisahan tersebut bertujuan memperjelas fokus usaha.
Namun, perubahan struktur tetap membutuhkan penjelasan mengenai kepemilikan aset, kewajiban perusahaan, dan hubungan dengan investor yang telah beroperasi.
Efisiensi Harus Terlihat dalam Biaya Investasi
Penggabungan 23 perusahaan dapat membuka peluang penyederhanaan tata kelola.
Investor berpotensi memperoleh layanan melalui struktur pengelolaan yang lebih terpusat. Namun, manfaat tersebut masih merupakan tujuan kebijakan.
Ukuran keberhasilannya harus mencakup biaya layanan, kecepatan perizinan, tingkat keterisian kawasan, dan realisasi investasi baru.
Tanpa indikator tersebut, konsolidasi berisiko hanya terlihat sebagai perubahan struktur perusahaan.
Pekerja dan Kontrak Memerlukan Kepastian
Penggabungan banyak perusahaan juga memunculkan persoalan operasional.
Pemerintah perlu menjelaskan keberlanjutan kontrak dengan penyewa kawasan, status pegawai, serta pembagian tanggung jawab pengelolaan.
Belum ada pengumuman terperinci mengenai perubahan jumlah tenaga kerja dalam rencana tersebut.
Karena itu, tidak ada dasar untuk menyimpulkan akan terjadi pemutusan hubungan kerja ataupun penambahan pegawai dalam jumlah tertentu.
Target November Menjadi Ujian Pelaksanaan
Danantara menargetkan pengumuman merger pada 5 November 2026.
Sebelum tanggal itu, publik membutuhkan daftar perusahaan, struktur entitas baru, serta penjelasan aset dan kewajiban yang akan bergabung.
Kejelasan tersebut menentukan apakah konsolidasi dapat mempercepat investasi atau justru memunculkan ketidakpastian selama masa transisi.












