IHSG Anjlok Saat Prabowo Pidato, Saham Komoditas Bergejolak

IHSG Turun 1,49 Persen, Investor Cermati Arah Ekspor SDA

Ilustrasi IHSG melemah saat pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR, disertai pergerakan saham komoditas yang bergejolak pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026

Jakarta- folitimes.id — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergerak tertekan pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, saat pasar mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR terkait arah kebijakan ekonomi, fiskal, dan pengelolaan ekspor sumber daya alam.

Tekanan terhadap IHSG terlihat sejak sesi perdagangan berlangsung. Indeks sempat bergerak fluktuatif, namun tekanan jual meningkat ketika investor membaca sinyal kebijakan pemerintah yang berpotensi mengubah tata kelola ekspor komoditas strategis.

Pada perdagangan siang, IHSG sempat turun 94,76 poin atau 1,49 persen ke posisi 6.275. Pelemahan itu menunjukkan pasar belum sepenuhnya tenang membaca arah kebijakan ekonomi pemerintah, terutama setelah muncul sinyal penguatan peran negara dalam pengelolaan ekspor sumber daya alam.

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung pentingnya penguatan kendali negara terhadap komoditas strategis. Isu tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan sektor-sektor berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia, terutama energi, bahan baku, pertambangan, dan emiten berbasis komoditas ekspor.

Respons pasar terlihat dari tekanan yang meluas ke sejumlah sektor. Saham-saham berbasis komoditas, energi, bahan baku, transportasi, dan infrastruktur ikut menjadi perhatian karena dinilai memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan arah kebijakan ekspor.

Salah satu saham yang paling disorot adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA. Saham emiten tersebut tercatat melemah sekitar 14,74 persen ke level Rp2.660. Koreksi tajam TPIA menjadi salah satu penekan utama di tengah sentimen negatif terhadap sektor bahan baku.

Tekanan juga terjadi pada saham PT Golden Eagle Energy Tbk atau SMMT. Saham emiten energi tersebut melemah sekitar 13,53 persen ke level Rp1.630. Pergerakan SMMT memperlihatkan bahwa kekhawatiran pasar ikut menjalar ke saham sektor energi yang berkaitan erat dengan isu sumber daya alam.

Selain TPIA dan SMMT, saham PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk atau RELI juga masuk daftar saham yang melemah tajam. RELI tercatat turun sekitar 13,33 persen ke level Rp520.

Saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk atau WBSA turut terkoreksi sekitar 12,50 persen ke level Rp805. Sementara itu, saham PT Equity Development Investment Tbk atau GSMF melemah sekitar 12,12 persen ke level Rp116.

Saham lain yang ikut berada di zona merah adalah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk atau RLCO. Saham ini terkoreksi sekitar 11,78 persen ke level Rp2.920.

Meski tekanan terhadap IHSG cukup kuat, tidak seluruh saham bergerak melemah. Sejumlah saham justru mencatat penguatan signifikan di tengah gejolak pasar.

Saham PT Mega Perintis Tbk atau ZONE tercatat menguat sekitar 22,35 persen ke level Rp416. Kenaikan ini menjadikan ZONE salah satu saham dengan penguatan terbesar pada sesi perdagangan tersebut.

Saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk atau PIPA juga bergerak naik sekitar 17,21 persen ke level Rp143. Sementara saham PT Tanah Laut Tbk atau INDX menguat sekitar 17,20 persen ke level Rp109.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk atau BEER yang naik sekitar 16,67 persen ke level Rp112. Saham PT Indo-Rama Synthetics Tbk atau INDR ikut menguat sekitar 16,50 persen ke level Rp2.400.

Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau MORA juga mencatat kenaikan tajam sekitar 16,39 persen ke level Rp6.925.

Pergerakan ekstrem tersebut menunjukkan pasar sedang berada dalam fase sangat selektif. Di satu sisi, investor melepas saham-saham yang dinilai berisiko terdampak langsung oleh perubahan kebijakan ekspor sumber daya alam. Di sisi lain, sebagian pelaku pasar melakukan rotasi cepat ke saham-saham yang dianggap masih memiliki ruang penguatan secara teknikal.

Secara psikologis, pelemahan IHSG saat pidato Prabowo mencerminkan kegelisahan investor terhadap ketidakpastian arah kebijakan. Pasar belum memperoleh gambaran teknis mengenai bagaimana mekanisme pengelolaan ekspor komoditas strategis akan dijalankan, siapa pihak yang akan diberi mandat, serta bagaimana dampaknya terhadap emiten swasta yang selama ini memiliki kontrak bisnis dan pasar ekspor sendiri.

Bagi pasar modal, ketidakpastian kerap direspons lebih cepat dibanding realisasi kebijakan. Karena itu, sinyal perubahan tata kelola ekspor sumber daya alam dapat langsung memicu tekanan jual, terutama pada saham-saham yang memiliki eksposur terhadap komoditas, energi, dan bahan baku.

Jika pemerintah ingin meredam gejolak pasar, kejelasan teknis menjadi kunci. Pelaku pasar membutuhkan kepastian mengenai posisi swasta, peran BUMN, mekanisme harga, skema ekspor, serta perlindungan terhadap keberlanjutan usaha emiten yang telah tercatat di bursa.

Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Sentimen pidato Presiden Prabowo, arah kebijakan fiskal, respons pelaku pasar terhadap sektor komoditas, pergerakan rupiah, serta arus dana asing akan menjadi faktor utama yang menentukan arah perdagangan berikutnya.


Analisis Folitimes.id

Pelemahan IHSG saat pidato Presiden Prabowo bukan sekadar reaksi sesaat pasar terhadap pidato politik ekonomi. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan besar dalam tata kelola ekspor komoditas nasional.

Sektor komoditas selama ini menjadi salah satu penopang penting pasar modal Indonesia. Karena itu, setiap sinyal perubahan kebijakan terhadap ekspor batu bara, kelapa sawit, mineral, dan bahan baku strategis akan langsung dibaca sebagai risiko baru oleh pelaku pasar.

Masalah utamanya bukan semata-mata pada gagasan penguatan peran negara, melainkan pada belum jelasnya desain kebijakan. Pasar membutuhkan kepastian apakah kebijakan tersebut akan memperkuat nilai tambah nasional atau justru menekan fleksibilitas bisnis emiten yang selama ini bergantung pada ekspor langsung.

Selama detail kebijakan belum dijelaskan secara terbuka, saham-saham berbasis komoditas berpotensi tetap bergerak volatil. Investor akan menunggu penjelasan lanjutan pemerintah, terutama terkait mekanisme pelaksanaan, dampak terhadap kontrak ekspor, dan posisi emiten swasta dalam skema baru tersebut.

iklan Siap Pasang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *