Duduk Terlalu Lama, Ancaman Tumbuh tanpa Disadari

Pola kerja modern mengurangi gerakan sementara ruang kota belum mendukung hidup aktif

kesehatan tubuh
Duduk terlalu lama saat bekerja dapat memicu ketegangan otot, nyeri punggung, serta menurunkan kebugaran dan konsentrasi.

PALANGKA RAYA, folitimes.id – Banyak pekerjaan modern tidak lagi menuntut tubuh bergerak. Seseorang dapat bekerja, makan, berkomunikasi, dan mencari hiburan tanpa meninggalkan kursi.

Namun, kemudahan itu menyimpan persoalan. Tubuh tetap membutuhkan gerakan meskipun manusia kini menyelesaikan banyak pekerjaan melalui layar.

Duduk selama berjam-jam bukan hanya memicu pegal. Kebiasaan tersebut juga mengurangi kebugaran dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Pekerjaan Berubah, Tubuh Tetap Membutuhkan Gerakan

Komputer dan ponsel telah memangkas banyak aktivitas fisik. Pertemuan beralih ke layar, aplikasi mengantarkan makanan, dan kendaraan mengambil alih perjalanan pendek.

Perubahan tersebut memang meningkatkan efisiensi. Namun, tubuh menanggung dampaknya ketika kenyamanan berubah menjadi kebiasaan pasif.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa posisi duduk yang tidak ergonomis dapat memicu ketegangan otot dan nyeri punggung bawah. Selain itu, risiko semakin meningkat ketika seseorang jarang mengubah posisi.

Masalah itu tidak selalu muncul seketika. Tubuh sering mengirim tanda kecil melalui leher kaku, pinggang nyeri, mata lelah, dan kesulitan berkonsentrasi.

Sayangnya, banyak pekerja menganggap keluhan tersebut sebagai bagian biasa dari pekerjaan. Padahal, pola kerja yang buruk memaksa tubuh mempertahankan posisi tidak sehat selama berjam-jam.

Karena itu, pekerja perlu mengenali keluhan sejak awal. Langkah sederhana dapat mencegah masalah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Krisis Gerak Bukan Masalah Pribadi Semata

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan hampir 1,8 miliar orang dewasa menghadapi risiko penyakit akibat kurang bergerak.

Dr. Fiona Bull, Kepala Unit Aktivitas Fisik WHO, menegaskan bahwa keputusan individu tidak dapat menyelesaikan persoalan sendirian.

“Masyarakat membutuhkan lingkungan yang membuat aktivitas fisik lebih mudah dan aman.”

Pernyataan tersebut membongkar anggapan bahwa masyarakat cukup menerima anjuran berolahraga. Sebaliknya, pemerintah juga harus menyediakan lingkungan yang mendukung kebiasaan aktif.

Trotoar rusak, ruang hijau terbatas, lalu lintas berbahaya, dan jam kerja panjang dapat menghambat masyarakat bergerak. Bahkan, kondisi itu mendorong warga memakai kendaraan untuk perjalanan yang sangat pendek.

Sementara itu, kantor tanpa budaya jeda membuat pekerja duduk tanpa batas. Target pekerjaan kemudian mengalahkan kebutuhan tubuh untuk bergerak.

Oleh sebab itu, kurang bergerak bukan hanya persoalan kemauan. Tata kota, lingkungan kerja, dan kebijakan perusahaan juga menentukan kebiasaan masyarakat.

Olahraga Tidak Menghapus Dampak Duduk Panjang

Seseorang mungkin berolahraga pada pagi hari, lalu duduk selama delapan jam. Aktivitas tersebut tentu lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Namun, olahraga singkat tidak menghapus seluruh dampak waktu duduk yang panjang. Tubuh tetap membutuhkan perubahan posisi dan gerakan selama bekerja.

Pekerja tidak harus mengambil jeda panjang. Mereka dapat berdiri, mengambil air, berjalan singkat, atau melakukan peregangan.

Selain itu, pekerja dapat memasang pengingat setiap 30–60 menit. Pengingat tersebut membantu mereka memutus kebiasaan duduk tanpa jeda.

Perusahaan juga dapat mengadakan rapat singkat sambil berdiri. Jika situasi memungkinkan, peserta dapat berjalan sambil membahas agenda tertentu.

Selanjutnya, pekerja perlu menyesuaikan meja dan kursi dengan postur tubuh. Posisi layar juga harus menjaga leher agar tidak terus menunduk.

Dengan demikian, perubahan kecil dapat membantu tubuh tetap aktif. Kebiasaan itu juga tidak mengganggu produktivitas apabila pekerja menjalankannya secara teratur.

Kota Harus Memberi Ruang untuk Bergerak

Anjuran hidup sehat akan kehilangan makna apabila warga tidak menemukan ruang yang aman. Karena itu, pemerintah harus menempatkan trotoar, taman, jalur sepeda, dan lapangan sebagai infrastruktur kesehatan.

Pemerintah juga harus memastikan kelompok lansia, anak, dan penyandang disabilitas dapat menggunakan fasilitas tersebut. Sebaliknya, akses yang buruk akan memperlebar ketimpangan kesehatan.

Pemerintah kota perlu menangani aktivitas fisik melalui kerja lintas sektor. Dinas kesehatan tidak dapat bekerja sendiri.

Dinas pekerjaan umum, perhubungan, pendidikan, dan perumahan juga memegang peran penting. Mereka menentukan bentuk jalan, permukiman, sekolah, taman, serta jalur pejalan kaki.

Selain pemerintah, perusahaan dan instansi harus mengevaluasi pola kerja. Produktivitas tidak seharusnya bergantung pada lamanya seseorang duduk di depan meja.

Perusahaan dapat memberikan jeda gerak singkat tanpa mengurangi waktu kerja secara signifikan. Bahkan, pekerja yang menjaga kebugaran dapat mempertahankan konsentrasi dengan lebih baik.

Pada akhirnya, tubuh tidak selalu membutuhkan gerakan besar. Namun, tubuh akan menanggung akibat ketika kenyamanan membuat manusia berhenti bergerak terlalu lama.

Saluran Resmi
Ikuti WhatsApp Channel folitimes.id
Dapatkan update berita terbaru, isu publik, peristiwa daerah, dan kabar penting Kalimantan Tengah langsung dari saluran resmi folitimes.id.
folitimes.id — Membaca Untuk Memahami

iklan Siap Pasang
Kerja Sama Media

Jalin Kerja Sama Bersama folitimes.id

Buka peluang kolaborasi untuk publikasi, media partner, promosi usaha, branding, dan penyebarluasan informasi bersama folitimes.id untuk bisnis, lembaga, komunitas, maupun instansi.

Publikasi Media Partner Promosi Branding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *