PALANGKA RAYA, folitimes.id – Banyak orang melihat ponsel untuk terakhir kali sebelum tidur. Sesaat setelah bangun, tangan mereka kembali mencari perangkat yang sama.
Kebiasaan itu tampak ringan. Namun, penggunaan gawai pada malam hari dapat menggeser waktu tidur, mempertahankan rangsangan mental, dan mengurangi kesempatan tubuh untuk memulihkan diri.
Cahaya layar bukan satu-satunya persoalan. Aliran video, percakapan, pekerjaan, dan notifikasi membuat pikiran terus aktif ketika tubuh seharusnya mulai beristirahat.
Tubuh Tetap Bekerja Selama Tidur
Sebagian orang menganggap tidur sebagai keadaan pasif. Padahal, tubuh dan otak menjalankan berbagai proses penting selama seseorang beristirahat.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menyebut orang dewasa berusia 18–60 tahun memerlukan sedikitnya tujuh jam tidur setiap hari. Kebutuhan tersebut tidak hanya menyangkut durasi, tetapi juga kualitas dan keteraturan.
Tidur yang cukup membantu konsentrasi, ingatan, suasana hati, metabolisme, dan kesehatan jantung. Sebaliknya, kesulitan terlelap, gangguan tidur berulang, atau kelelahan pada pagi hari dapat menandakan kualitas istirahat yang buruk.
Dr. Marishka Brown, pakar tidur pada National Institutes of Health Amerika Serikat, menjelaskan bahwa tidur sehat mencakup durasi, kualitas, dan jadwal yang konsisten.
“Tidur sehat mencakup jumlah, kualitas, dan jadwal tidur yang konsisten.”
Pernyataan tersebut menunjukkan satu persoalan penting. Tidur selama delapan jam belum tentu memulihkan tubuh apabila seseorang sering terjaga atau terus mengubah jadwal istirahat.
Ponsel Memperpanjang Hari secara Diam-Diam
Banyak orang membuka ponsel dengan alasan ingin bersantai. Namun, satu video dapat membawa pengguna menuju puluhan tayangan lainnya.
Begitu pula dengan percakapan digital. Obrolan yang awalnya singkat dapat terus berlanjut hingga melewati tengah malam.
Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat menghindari perangkat elektronik menjelang tidur. Sementara itu, CDC menganjurkan pengguna mematikan perangkat sedikitnya 30 menit sebelum beristirahat.
Masalah semakin serius ketika seseorang membawa ponsel ke tempat tidur. Akibatnya, ruang istirahat berubah menjadi tempat bekerja, menonton hiburan, berbelanja, dan berdebat.
Pakar menyebut kebiasaan menunda tidur demi memperoleh waktu pribadi sebagai revenge bedtime procrastination. Seseorang memilih tetap terjaga karena merasa tidak mempunyai cukup waktu bagi dirinya sendiri pada siang hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan tidur tidak selalu muncul akibat kurangnya disiplin. Beban kerja, tekanan keluarga, kecemasan, dan pola hidup juga dapat mendorong seseorang mencari pelarian pada malam hari.
Perubahan Kecil Lebih Masuk Akal
Larangan total terhadap penggunaan ponsel sulit memberikan hasil bagi semua orang. Karena itu, pengguna dapat mengambil langkah realistis dengan menciptakan jarak antara layar dan tempat tidur.
Sebagai langkah awal, pengguna dapat menghentikan aktivitas digital sekitar 30–60 menit sebelum tidur. Mereka juga dapat meletakkan ponsel di meja yang jauh dari jangkauan kasur.
Selain itu, pengguna perlu mematikan notifikasi yang tidak penting. Jadwal tidur dan bangun juga harus tetap konsisten, termasuk pada akhir pekan.
Kamar yang tenang, gelap, dan sejuk dapat membantu tubuh mengenali waktu istirahat. Pada saat yang sama, seseorang perlu mengurangi konsumsi kafein pada sore atau malam hari.
Namun, perubahan kebiasaan tidak dapat mengatasi semua gangguan tidur. Seseorang perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila masalah berlangsung terus-menerus, mengganggu pekerjaan, atau memicu kantuk berat pada siang hari.
Ponsel memang bukan satu-satunya penyebab gangguan tidur. Namun, perangkat tersebut telah memperpanjang aktivitas manusia hingga memasuki waktu yang seharusnya memberikan kesempatan bagi tubuh untuk pulih.






