JAKARTA – folitimes.id- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (18/5/2026). Hingga penutupan sesi pertama, IHSG tercatat merosot 3,76 persen dan bertahan di level 6.470,34.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor saham. Kondisi ini dipicu kombinasi sentimen global, pelemahan rupiah, hingga aksi jual investor asing pasca rebalancing indeks global MSCI dan FTSE Russell.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan aktivitas transaksi pada sesi pertama berlangsung sangat tinggi. Volume perdagangan mencapai sekitar 21,55 miliar saham dengan nilai transaksi menyentuh Rp11,95 triliun. Sementara frekuensi transaksi tercatat ratusan ribu kali sepanjang perdagangan pagi hingga siang hari.
Mayoritas saham bergerak di zona merah. Tercatat lebih dari 680 saham mengalami pelemahan, sedangkan saham yang menguat hanya berada di kisaran puluhan emiten. Tekanan terbesar datang dari saham-saham berbasis energi, tambang, dan konglomerasi.
Beberapa saham yang mengalami koreksi terdalam pada sesi pertama di antaranya:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun sekitar 14,86 persen ke level Rp3.150 per saham.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 12,09 persen menjadi Rp2.400 per saham.
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 10,64 persen ke posisi Rp5.250 per saham.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi hingga 14,98 persen.
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot sekitar 14,88 persen.
Selain saham-saham tersebut, sejumlah emiten perbankan besar juga ikut melemah. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun ke kisaran Rp4.120 per saham, sementara saham-saham bank jumbo lainnya bergerak fluktuatif di tengah tekanan pasar.
Analis pasar menilai tekanan terhadap IHSG kali ini tidak hanya dipicu faktor domestik, tetapi juga kekhawatiran investor terhadap arus modal asing yang terus keluar dari pasar Indonesia. Penghapusan sejumlah saham Indonesia dari indeks global MSCI dinilai menjadi salah satu pemicu utama aksi jual besar-besaran pada awal pekan ini.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memperburuk psikologi pasar. Investor cenderung memilih melakukan aksi ambil untung dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Meski IHSG berada dalam tekanan, sejumlah analis masih melihat peluang pemulihan apabila arus dana asing mulai kembali masuk dan kondisi pasar global mereda dalam beberapa hari ke depan. Adm













