PALANGKA RAYA, folitimes.id — Anak muda di Kalimantan Tengah mulai perlu melihat pasar saham bukan sekadar ruang spekulasi, tetapi sebagai sarana belajar mengelola keuangan dan membangun aset jangka panjang.
Di tengah kemudahan akses digital, investasi kini dapat dilakukan melalui aplikasi sekuritas resmi. Namun, kemudahan itu juga membawa risiko apabila anak muda masuk ke pasar saham hanya karena ikut tren, tergiur ajakan media sosial, atau mengejar keuntungan cepat.
Ekonom Muda Kalteng, Rio Kriswanto, S.AP., M.M., CRGP., CRM, mengatakan anak muda perlu memahami investasi saham secara bertahap. Menurutnya, saham tidak boleh diperlakukan seperti permainan untung-untungan.
“Anak muda di Kalimantan Tengah perlu mulai mengenal saham sebagai instrumen investasi jangka panjang. Tetapi yang paling penting, jangan masuk ke pasar saham hanya karena ikut-ikutan atau berharap cepat kaya,” kata Rio.
Rio menilai, investasi saham harus dimulai dari pemahaman dasar mengenai perusahaan, risiko pasar, dan kondisi keuangan pribadi. Ia mengingatkan agar investor pemula tidak menggunakan uang kebutuhan harian, uang kuliah, dana darurat, apalagi dana pinjaman.
“Investasi itu harus memakai uang dingin. Kalau uang untuk makan, kuliah, cicilan, atau kebutuhan keluarga dipakai membeli saham, itu sudah bukan investasi sehat. Itu bisa berubah menjadi tekanan baru bagi anak muda,” ujarnya.
Menurut Rio, anak muda dapat memulai dari nominal kecil sambil belajar membaca laporan keuangan sederhana, memahami sektor usaha emiten, dan melihat rekam jejak perusahaan. Ia menyebut saham perusahaan besar dan likuid lebih layak dijadikan bahan belajar dibanding saham yang bergerak liar karena rumor.
Beberapa sektor yang dapat dipelajari investor pemula antara lain perbankan besar, telekomunikasi, konsumsi, energi, dan infrastruktur. Sektor tersebut dinilai lebih mudah dipahami karena dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada sektor perbankan, emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dapat menjadi bahan belajar karena berasal dari bank besar dengan basis nasabah luas. Di sektor telekomunikasi, TLKM juga dapat dicermati karena layanan internet dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Sementara itu, saham sektor konsumsi seperti ICBP dan INDF kerap menjadi perhatian karena berkaitan dengan produk kebutuhan sehari-hari. Emiten seperti ASII juga dapat dipelajari karena memiliki bisnis yang tersebar di otomotif, alat berat, keuangan, agribisnis, dan infrastruktur.
Namun, penyebutan saham tersebut bukan ajakan membeli secara langsung. Daftar itu hanya contoh emiten besar yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi investor pemula. Keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan tujuan, profil risiko, dan kemampuan keuangan masing-masing.
Rio juga mengingatkan anak muda agar berhati-hati terhadap saham gorengan. Menurutnya, saham yang naik tajam karena isu atau dorongan kelompok tertentu dapat memberi risiko besar bagi investor baru.
“Kalau belum paham, jangan mudah tergoda saham yang katanya akan naik cepat. Anak muda harus belajar membedakan investasi dengan spekulasi. Pasar saham bisa memberi peluang, tetapi juga bisa merugikan kalau masuk tanpa pengetahuan,” katanya.
Ia menambahkan, anak muda yang belum siap memilih saham secara langsung dapat memulai dari reksa dana saham atau reksa dana indeks. Instrumen tersebut bisa menjadi pintu belajar karena dikelola manajer investasi dan risikonya lebih tersebar.
Bagi anak muda Kalteng, investasi saham juga harus dibarengi literasi keuangan. Sebelum membeli saham, mereka perlu menyusun anggaran bulanan, memiliki dana darurat, menghindari utang konsumtif, dan memahami tujuan investasi.
“Jangan menjadikan saham sebagai pengganti pekerjaan atau jalan pintas mencari uang. Saham itu bagian dari perencanaan masa depan. Kalau dilakukan disiplin dan jangka panjang, manfaatnya akan lebih terasa,” ucap Rio.
Pasar saham bukan tempat berjudi. Di dalamnya ada perusahaan, laporan keuangan, kinerja bisnis, dividen, risiko, dan keputusan ekonomi yang harus dipelajari.
Jika dilakukan dengan benar, investasi saham dapat menjadi jalan bagi anak muda Kalimantan Tengah untuk membangun kemandirian finansial. Namun, tanpa pemahaman yang cukup, saham justru bisa berubah menjadi ruang spekulasi yang merugikan.
Kuncinya adalah belajar sebelum membeli, menggunakan dana yang siap ditanggung risikonya, memilih instrumen resmi, serta berinvestasi secara bertahap dan disiplin.















