Drama Penalti, PSG Taklukkan Arsenal di Final Liga Champions

PSG Juara, Arsenal Tumbang dalam Perebutan Gelar Raja Eropa

Duel PSG melawan Arsenal dalam final Liga Champions yang berakhir melalui drama adu penalti.

Budapest, folitimes.id — Final Liga Champions 2025/2026 di Puskás Aréna, Budapest, menjadi panggung yang memperlihatkan dua pendekatan berbeda. Arsenal bermain dengan garis pertahanan rapat, transisi cepat, dan keberanian menekan sejak awal. Paris Saint-Germain atau PSG memilih lebih sabar, menjaga penguasaan bola, lalu menunggu celah ketika pertandingan mulai terbuka.

Arsenal langsung memberi tekanan pada menit-menit awal. Tim asuhan Mikel Arteta tidak menunggu terlalu lama untuk menyerang ruang di belakang lini tengah PSG. Pola itu membuahkan hasil pada menit ke-6.

Kai Havertz membawa Arsenal unggul 1-0 setelah memanfaatkan bola pantul dari situasi serangan cepat. Penyerang asal Jerman itu bergerak dari area tengah, masuk ke ruang kosong, lalu melepaskan penyelesaian keras ke arah tiang dekat. Gol cepat tersebut membuat Arsenal memegang kendali psikologis pertandingan.

Setelah unggul, Arsenal tidak terburu-buru menambah tekanan. Mereka memilih merapatkan blok pertahanan, menjaga jarak antarlini, dan memaksa PSG mengalirkan bola ke area yang tidak terlalu berbahaya. Bukayo Saka dan Declan Rice beberapa kali menjadi poros transisi ketika Arsenal berusaha keluar dari tekanan.

PSG lebih banyak menguasai bola, tetapi tidak mudah menembus pertahanan Arsenal. Khvicha Kvaratskhelia yang menjadi salah satu tumpuan serangan PSG kerap mendapat penjagaan ketat. Ousmane Dembele juga beberapa kali dipaksa bergerak melebar untuk mencari ruang.

Memasuki babak kedua, tekanan PSG mulai meningkat. Sekitar menit ke-55, Arsenal mulai kehilangan keleluasaan untuk melakukan serangan balik bersih. PSG menekan lebih tinggi dan memaksa lini belakang Arsenal lebih sering membuang bola.

Peluang PSG mulai terlihat ketika Achraf Hakimi mendapat ruang melalui eksekusi bola mati pada awal babak kedua. Tendangannya belum cukup membahayakan gawang David Raya, tetapi menjadi tanda bahwa PSG mulai menemukan jalur serangan.

Momentum besar terjadi pada menit ke-65. Kvaratskhelia berhasil masuk ke kotak penalti dan dijatuhkan Cristhian Mosquera. Wasit kemudian menunjuk titik putih setelah situasi itu ditinjau. Dembele yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan tenang. Ia mengarahkan bola untuk mengecoh Raya dan mengubah skor menjadi 1-1.

Gol itu mengubah arah pertandingan. Arsenal yang sebelumnya tampak nyaman dalam pola bertahan mulai lebih sering tertekan. PSG justru tampil lebih percaya diri, terutama melalui pergerakan dari sisi sayap.

Sekitar menit ke-80, PSG beberapa kali membangun serangan cepat yang membuat pertahanan Arsenal harus bekerja lebih keras. Arsenal masih punya peluang dari transisi, tetapi penyelesaian akhir mereka tidak setajam pada awal laga.

Menjelang akhir waktu normal, Bradley Barcola yang baru masuk hampir menciptakan peluang berbahaya dengan sentuhan pertamanya. Namun, Raya cepat keluar dari sarangnya untuk memotong bola sebelum situasi berubah menjadi peluang terbuka.

Pada masa tambahan waktu babak kedua, PSG kembali mengancam melalui Vitinha. Sepakannya belum mengarah tepat ke gawang dan hanya mengenai sisi luar jaring. Peluang itu menjadi salah satu sinyal bahwa PSG mulai lebih dekat dengan gol kemenangan sebelum laga masuk babak tambahan.

Di babak tambahan, pertandingan berubah menjadi duel daya tahan. Arsenal sempat meminta penalti ketika Noni Madueke terjatuh di kotak terlarang sekitar akhir babak pertama extra time. Namun, wasit tidak menganggap kejadian itu sebagai pelanggaran.

Arsenal kembali mendapat momen dari bola mati sekitar menit ke-108. Declan Rice mengirim bola ke area berbahaya, tetapi pertahanan PSG masih mampu menghalau ancaman tersebut. Menjelang akhir extra time, Arsenal juga mendapat peluang dari sepak pojok, tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi gol.

Semakin lama pertandingan berjalan, PSG terlihat lebih tenang dalam mengelola tekanan. Mereka tidak selalu dominan dalam menciptakan peluang bersih, tetapi lebih siap ketika laga harus ditentukan lewat momen kecil.

Hasil akhir baru ditentukan melalui adu penalti setelah skor 1-1 bertahan hingga 120 menit. Arsenal unggul lebih dulu melalui gol Kai Havertz pada menit ke-6, sebelum PSG menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada menit ke-65.

Dalam adu penalti, PSG menang 4-3. Arsenal gagal menjaga peluang setelah dua eksekutornya tidak mampu menuntaskan tugas, termasuk Gabriel Magalhaes yang gagal pada tendangan penentu. PSG pun keluar sebagai juara Liga Champions 2025/2026.

Kemenangan ini menegaskan ketenangan PSG dalam pertandingan besar. Bagi Arsenal, kekalahan tersebut menjadi luka panjang karena mereka sempat memimpin, mampu bertahan lama, tetapi kehilangan kendali pada fase paling menentukan.

(Redaksi)

Saluran Resmi
Ikuti WhatsApp Channel folitimes.id
Dapatkan update berita terbaru, isu publik, peristiwa daerah, dan kabar penting Kalimantan Tengah langsung dari saluran resmi folitimes.id.
folitimes.id — Membaca Untuk Memahami

Kerja Sama Media

Jalin Kerja Sama Bersama folitimes.id

Buka peluang kolaborasi untuk publikasi, media partner, promosi usaha, branding, dan penyebarluasan informasi bersama folitimes.id untuk bisnis, lembaga, komunitas, maupun instansi.

Publikasi Media Partner Promosi Branding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *