Opini  

Ekonomi Tumbuh, Mengapa Anak Muda Tetap Sulit Bekerja?

Di Balik Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran Terdidik Jadi Alarm

Ilustrasi opini Dinda Ayuni tentang fenomena jobless growth, saat ekonomi tumbuh tetapi lapangan kerja belum ikut bertambah bagi generasi muda dan lulusan baru.

PALANGKA RAYA, folitimes.id — Pertumbuhan ekonomi sering dipandang sebagai tanda keberhasilan sebuah negara. Ketika angka Produk Domestik Bruto atau PDB meningkat, optimisme publik terhadap masa depan ekonomi biasanya ikut menguat.

Namun, angka pertumbuhan tidak selalu sejalan dengan kenyataan di pasar kerja. Di balik statistik ekonomi yang tampak positif, masih banyak masyarakat, terutama anak muda dan lulusan baru, menghadapi kesulitan mencari pekerjaan.

Fenomena ini dikenal sebagai jobless growth, yakni kondisi ketika ekonomi tetap tumbuh, tetapi tidak diikuti peningkatan lapangan kerja secara memadai. Dalam situasi seperti ini, aktivitas ekonomi memang bergerak, tetapi manfaatnya tidak otomatis dirasakan oleh masyarakat luas.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka. Pertumbuhan yang sehat seharusnya juga mampu membuka ruang kerja, memperluas pendapatan masyarakat, dan mengurangi kesenjangan.

Jika pertumbuhan hanya dinikmati kelompok tertentu, maka ekonomi berisiko bergerak secara tidak merata. Kelompok yang memiliki modal, akses teknologi, dan jaringan bisnis bisa tumbuh lebih cepat, sementara masyarakat berpenghasilan rendah tetap tertinggal.

Kondisi seperti itu kerap disebut sebagai pertumbuhan yang tidak inklusif. Secara statistik ekonomi tampak membaik, tetapi sebagian masyarakat tidak merasakan perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, persoalan ini terasa dekat dengan generasi muda. Setiap tahun, jumlah lulusan baru terus bertambah. Namun, kesempatan kerja tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Akibatnya, pengangguran terdidik menjadi persoalan yang terus berulang. Banyak lulusan memiliki ijazah, tetapi tidak semua mampu langsung masuk ke pasar kerja karena jumlah lowongan terbatas atau keterampilan yang dimiliki belum sesuai dengan kebutuhan industri.

Salah satu penyebab utama jobless growth adalah perubahan struktur ekonomi. Pertumbuhan saat ini banyak ditopang sektor padat modal, seperti industri besar, pertambangan, jasa modern, dan sektor berbasis teknologi.

Sektor-sektor tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi, tetapi tidak selalu membutuhkan banyak tenaga kerja. Mesin, sistem digital, dan otomatisasi membuat produksi bisa berjalan lebih efisien tanpa harus menambah banyak pekerja.

Berbeda dengan sektor padat karya seperti pertanian, manufaktur ringan, atau usaha mikro, kecil, dan menengah, sektor padat modal cenderung lebih mengandalkan teknologi dan investasi besar. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.

Digitalisasi juga membawa tantangan baru. Di satu sisi, teknologi meningkatkan produktivitas dan mempercepat aktivitas ekonomi. Di sisi lain, pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan manusia mulai digantikan oleh mesin, sistem otomatis, dan kecerdasan buatan.

Kemajuan teknologi seharusnya membuka peluang baru. Namun, bagi tenaga kerja yang belum memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri, perubahan itu justru dapat mempersempit kesempatan kerja.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch. Dunia kerja bergerak cepat, sementara dunia pendidikan belum selalu mampu mengikuti perubahan tersebut.

Banyak lulusan masuk ke pasar kerja dengan bekal akademik, tetapi belum memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini membuat sebagian pencari kerja sulit bersaing, meskipun mereka telah menempuh pendidikan formal.

Pertanyaannya, apakah pertumbuhan ekonomi bisa disebut berhasil apabila tidak mampu menciptakan pekerjaan yang layak bagi masyarakat?

Dampak jobless growth tidak bisa dianggap ringan. Ketika lapangan kerja terbatas, daya beli masyarakat dapat melemah karena tidak ada pendapatan yang stabil. Jika daya beli menurun, pertumbuhan ekonomi juga bisa kehilangan pijakan dari konsumsi masyarakat.

Selain itu, ketimpangan ekonomi berisiko semakin melebar. Pertumbuhan hanya dinikmati kelompok yang memiliki akses terhadap modal dan teknologi, sementara kelompok lain tertinggal dalam ketidakpastian pekerjaan.

Karena itu, arah kebijakan ekonomi perlu menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai ukuran penting keberhasilan. Pertumbuhan tidak cukup hanya mengejar angka, tetapi juga harus mampu menyerap tenaga kerja.

Investasi sebaiknya tidak hanya diarahkan ke sektor padat modal, tetapi juga ke sektor padat karya yang mampu membuka banyak pekerjaan. Pertanian, industri pengolahan, ekonomi kreatif, dan UMKM perlu mendapat perhatian lebih besar.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi kunci. Pendidikan, pelatihan kerja, dan penguatan keterampilan digital harus dibuat lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Dukungan terhadap UMKM juga tidak boleh dipandang sebagai pelengkap. Sektor ini memiliki peran besar dalam menyerap tenaga kerja dan menjaga perputaran ekonomi masyarakat.

Ekonomi yang benar-benar tumbuh bukan hanya ekonomi yang mencatat angka positif di atas kertas. Pertumbuhan harus hadir dalam bentuk pekerjaan, pendapatan, kesejahteraan, dan harapan bagi masyarakat.

Tanpa penciptaan lapangan kerja yang luas, pertumbuhan ekonomi hanya akan tampak indah dalam laporan statistik, tetapi belum tentu terasa dalam kehidupan masyarakat.

Penulis

Dinda Ayuni
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya

iklan Siap Pasang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *