PALANGKA RAYA, folitimes.id — Siklon Tropis Jangmi yang memicu potensi cuaca signifikan di sebagian wilayah Indonesia bagian timur menjadi alarm bagi daerah lain, termasuk Kalimantan Tengah. Meski tidak berada di jalur utama siklon, Kalteng tetap perlu mengantisipasi dampak tidak langsung berupa hujan lebat, angin kencang lokal, gangguan transportasi, hingga risiko banjir dan distribusi logistik.
BMKG sebelumnya menyebut Siklon Tropis Jangmi memengaruhi kondisi cuaca pada periode 29 Mei hingga 4 Juni 2026. Fenomena ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak selalu berdampak hanya pada wilayah yang berada dekat dengan pusat siklon. Perubahan pola angin, pembentukan awan hujan, serta dinamika atmosfer dapat memicu dampak lanjutan di sejumlah daerah.
Bagi Kalimantan Tengah, kewaspadaan menjadi penting karena karakter wilayahnya luas, memiliki banyak daerah bantaran sungai, kawasan dataran rendah, hingga wilayah pedalaman yang akses transportasinya masih bergantung pada jalur darat dan sungai.
Risiko paling nyata adalah meningkatnya potensi hujan sedang hingga lebat dalam waktu singkat maupun berkepanjangan. Jika kondisi itu terjadi, sejumlah wilayah rawan genangan dan banjir lokal perlu menjadi perhatian, terutama daerah yang berada di sekitar aliran sungai, permukiman rendah, serta titik jalan yang selama ini rentan rusak saat hujan deras.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah gangguan transportasi. Di Kalteng, konektivitas antardaerah tidak hanya bergantung pada jalan darat, tetapi juga jalur sungai. Hujan lebat, arus deras, angin kencang, dan jarak pandang terbatas dapat meningkatkan risiko perjalanan warga, angkutan barang, hingga distribusi kebutuhan pokok ke wilayah pedalaman.
Situasi ini juga berpotensi memengaruhi rantai pasok pangan. Jika jalur distribusi terganggu, pasokan bahan pokok ke pasar tradisional dapat terlambat. Kondisi tersebut bisa berdampak pada harga beras, telur, sayur, ikan, dan komoditas pangan lain, terutama di daerah yang masih bergantung pada suplai dari luar wilayah.
Di kawasan pesisir Kalteng, nelayan kecil juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Wilayah seperti Kotawaringin Barat, Sukamara, Seruyan, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kapuas memiliki aktivitas perairan yang rentan terdampak perubahan cuaca mendadak. Angin kencang dan gelombang dapat mengganggu aktivitas melaut serta menekan pasokan ikan ke pasar.
Sektor pertanian dan perkebunan turut berpotensi terdampak. Hujan berlebih dapat mengganggu panen, memperburuk akses jalan kebun, menurunkan kualitas hasil hortikultura, serta meningkatkan biaya operasional petani dan pelaku usaha perkebunan. Pada sisi lain, jeda hujan yang panjang tetap harus diwaspadai karena Kalteng juga memiliki riwayat kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, ancaman cuaca di Kalteng tidak bisa dibaca secara tunggal. Saat hujan meningkat, risiko banjir dan gangguan logistik menjadi perhatian. Namun ketika cuaca kembali kering, potensi karhutla tetap harus masuk dalam radar kesiapsiagaan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah, BPBD, otoritas transportasi, pengelola pelabuhan sungai, sekolah, hingga pelaku distribusi pangan perlu memperkuat mitigasi. Informasi peringatan dini cuaca harus disampaikan secara cepat, jelas, dan mudah dipahami masyarakat, terutama warga di bantaran sungai, pesisir, serta wilayah pedalaman.
Fenomena Siklon Jangmi menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem tidak cukup direspons secara administratif. Kalteng membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih konkret: pemetaan titik rawan banjir, pengawasan jalur distribusi, perlindungan nelayan kecil, kesiapan layanan darurat, dan koordinasi lintas daerah.
Cuaca ekstrem bukan hanya soal hujan dan angin. Di daerah seluas Kalimantan Tengah, dampaknya dapat merembet ke keselamatan warga, harga pangan, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik. Karena itu, kewaspadaan sejak awal menjadi kunci agar potensi gangguan tidak berubah menjadi krisis di lapangan.















