Hari Anak Membongkar Ketimpangan Pendidikan yang Belum Selesai

Jarak, kemiskinan, disabilitas, dan kekurangan guru masih merampas kesempatan belajar anak Indonesia

hari anak dan ketimpangan pendidikan
Ilustrasi anak-anak melintasi sungai menuju sekolah, menggambarkan hambatan pendidikan di wilayah terpencil Indonesia

JAKARTA, folitimes.id – Peringatan Hari Anak Nasional belum mampu menutupi ketimpangan pendidikan Indonesia. Tempat tinggal dan kondisi ekonomi masih menentukan peluang seorang anak untuk memasuki sekolah.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati menyoroti masalah tersebut pada Selasa, 21 Juli 2026. Ia menyampaikan pernyataan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Pernyataan itu muncul menjelang Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026. Momentum tahunan tersebut seharusnya menjadi ruang evaluasi, bukan sekadar perayaan.

Perjalanan ke Sekolah Masih Berbahaya

Esti mengungkap kondisi anak-anak yang harus berjalan sejak dini hari. Sebagian menggunakan kapal kecil atau melewati jembatan sederhana untuk mencapai sekolah.

“Sekecil apa pun jumlah anak di wilayah tersebut, mereka tetap berhak mendapatkan layanan pendidikan yang layak,” kata MY Esti Wijayati, Wakil Ketua Komisi X DPR RI.

Hambatan geografis tidak boleh menjadi alasan mengurangi pelayanan. Negara justru harus memberikan dukungan lebih besar kepada wilayah dengan biaya pendidikan tinggi.

Daerah 3T menghadapi masalah jalan, transportasi, jaringan komunikasi, sekolah, dan guru. Hambatan itu saling memperkuat dan mendorong anak keluar dari pendidikan.

Kondisi serupa terdapat di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Permukiman tersebar dan ketergantungan terhadap jalur sungai meningkatkan kesulitan akses.

Sekolah Inklusif Kekurangan Tenaga

Sekolah inklusif membuka ruang bagi anak berkebutuhan khusus. Namun, banyak sekolah belum memiliki guru pendamping yang cukup.

Tanpa tenaga terlatih, guru kelas harus menangani kebutuhan yang sangat beragam. Sekolah akhirnya menerima anak secara administratif, tetapi belum memberi layanan optimal.

Pemerintah perlu menghitung jumlah anak berkebutuhan khusus per wilayah. Penempatan pendamping harus mengikuti kebutuhan nyata.

Negara juga perlu memperkuat pelatihan guru. Pendidikan inklusif tidak akan berjalan jika sekolah hanya menerima perintah tanpa tenaga dan anggaran.

Anggaran Harus Terlihat Dampaknya

Pemerintah perlu membuka jumlah anak tidak sekolah, penyebab putus sekolah, kondisi bangunan, serta kebutuhan guru. Data harus tersedia sampai tingkat kabupaten.

Besarnya anggaran pendidikan belum menjamin layanan sampai kepada anak. Pemerintah harus mengukur hasil melalui kehadiran guru, keamanan bangunan, dan kemampuan anak bertahan di sekolah.

Hari Anak Nasional akan kehilangan makna jika negara hanya mengulang slogan. Pemerintah perlu menetapkan target penurunan anak tidak sekolah dan memperbaiki akses setiap tahun.

Ketimpangan bukan keadaan alami. Masalah itu tumbuh ketika kebijakan tidak mengikuti kondisi masyarakat.

Saluran Resmi
Ikuti WhatsApp Channel folitimes.id
Dapatkan update berita terbaru, isu publik, peristiwa daerah, dan kabar penting Kalimantan Tengah langsung dari saluran resmi folitimes.id.
folitimes.id — Membaca Untuk Memahami

iklan Siap Pasang
Kerja Sama Media

Jalin Kerja Sama Bersama folitimes.id

Buka peluang kolaborasi untuk publikasi, media partner, promosi usaha, branding, dan penyebarluasan informasi bersama folitimes.id untuk bisnis, lembaga, komunitas, maupun instansi.

Publikasi Media Partner Promosi Branding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *