Palangka Raya, Folitimes.id —Peringatan Hari Bumi tahun ini tidak hanya diisi dengan seruan menjaga lingkungan, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Di tengah berbagai isu kerusakan hutan dan krisis iklim yang terus mengemuka di Kalimantan Tengah, jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Resort Palangka Raya memilih menjawabnya dengan langkah sederhana namun bermakna: menanam pohon.
Jumat (24/4), kawasan Pasar Kahayan menjadi titik awal gerakan tersebut. Puluhan jemaat turun langsung ke lapangan, menggali tanah dan menanam bibit pohon sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian menuju puncak Pesta Pembangunan Rohani yang akan digelar pada 3 Mei mendatang.
Di tengah panasnya isu global tentang pemanasan bumi dan deforestasi, kegiatan ini seolah menjadi penyeimbang—sebuah upaya kecil yang berangkat dari kesadaran spiritual.
Pendeta Pdt. Patar Siagian menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata dari nilai iman yang diwujudkan dalam tindakan menjaga alam.
“Merawat bumi adalah bagian dari pengakuan iman kami. Dalam situasi krisis iklim saat ini, gereja tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus hadir melalui aksi,” ujarnya di sela kegiatan.

Sebanyak 1.000 pohon ditargetkan akan ditanam, terdiri dari jenis mahoni dan matoa—dua tanaman yang dinilai mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.
Langkah ini juga tidak berdiri sendiri. HKBP mengaitkan gerakan tersebut dengan kondisi nyata lingkungan di Kalimantan Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan serius, mulai dari degradasi hutan hingga meningkatnya risiko bencana ekologis.
Ketua panitia, Dr. Alman P. Pakpahan, menyebut pemilihan Pasar Kahayan bukan tanpa alasan. Selain sebagai pusat ekonomi masyarakat, kawasan ini juga merupakan bagian dari ruang terbuka hijau yang perlu dijaga.
“Pasar bukan hanya tempat transaksi, tapi juga ruang hidup masyarakat. Jika lingkungannya bersih dan hijau, maka kualitas hidup warga juga meningkat,” jelasnya.
Aksi ini juga menjadi simbol kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah, setelah sebelumnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya. HKBP menempatkan peran gereja tidak hanya dalam ranah spiritual, tetapi juga sosial dan ekologis.
Menariknya, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada penanaman pohon. Sejumlah agenda sosial lain seperti donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis juga akan digelar di gereja HKBP di Jalan R.A. Kartini, sebagai bentuk kepedulian menyeluruh terhadap masyarakat.
Gerakan ini rencananya akan berlanjut hingga 1 Mei, dan akan mencapai puncaknya dengan kehadiran Sekretaris Jenderal HKBP dari Sumatera Utara yang dijadwalkan turut memimpin penanaman lanjutan.
Di tengah berbagai laporan tentang kerusakan lingkungan dan ancaman krisis ekologi, langkah yang dilakukan HKBP Palangka Raya mungkin terlihat sederhana. Namun justru di situlah letak pesannya: perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.
Hari Bumi tahun ini pun menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab negara atau korporasi, tetapi juga komunitas termasuk lembaga keagamaan yang memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif.
Dari Pasar Kahayan, harapan itu ditanam secara harfiah agar bumi tetap layak diwariskan ke generasi berikutnya. Adm















