Waspada Cuaca Ekstrem Mengintai Kalteng

Berikut Peta Daerah Rawan Bencana Hidrometeorologi

Ilustrasi Banjir merendam permukiman di Kalimantan Tengah saat hujan lebat dan cuaca ekstrem

Palangka Raya, Folitimes.id — Kalimantan Tengah masih berada dalam ancaman bencana hidrometeorologi. Potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, kilat, dan angin kencang membuat sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir, genangan, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Agung Sudiono Abadi, S.Si, melalui informasi prakiraan dan peringatan dini BMKG Kalteng, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Kalimantan Tengah perlu terus dipantau karena perubahan cuaca dapat terjadi dalam waktu singkat.

Menurut informasi BMKG Kalteng, pertumbuhan awan hujan yang aktif dapat memicu hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi itu berpotensi terjadi terutama pada wilayah yang memiliki kelembapan udara tinggi dan pembentukan awan konvektif.

Peringatan dini cuaca dari BMKG tidak hanya menjadi informasi prakiraan hujan. Lebih jauh, informasi tersebut menjadi dasar awal bagi pemerintah daerah, BPBD, aparat kewilayahan, dan masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem.

Dampak yang perlu diwaspadai antara lain genangan, banjir, pohon tumbang, sambaran petir, jalan licin, jarak pandang berkurang, hingga gangguan transportasi darat maupun sungai.

Berdasarkan informasi BMKG Kalteng, wilayah Kalimantan Tengah pada 23–25 Mei 2026 berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang.

Wilayah yang masuk daftar kewaspadaan meliputi Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Lamandau, Sukamara, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya.

Peringatan tersebut menunjukkan ancaman hidrometeorologi di Kalteng tidak hanya terjadi pada satu kawasan. Risiko dapat muncul di wilayah pesisir, dataran rendah, daerah aliran sungai, kawasan perkotaan, hingga daerah hulu dan perbukitan.

Karena itu, kewaspadaan tidak cukup hanya dilakukan di tingkat provinsi. Informasi peringatan dini perlu diteruskan hingga ke kecamatan, desa, kelurahan, sekolah, pasar, pelabuhan sungai, dan permukiman warga.

Masyarakat juga diminta tidak memandang bencana hidrometeorologi hanya sebagai banjir. Dalam kondisi cuaca ekstrem, hujan lebat yang berlangsung singkat pun dapat menimbulkan dampak serius, terutama jika terjadi di wilayah dengan drainase buruk, permukiman bantaran sungai, jalan rawan genangan, atau kawasan dengan pepohonan besar yang rentan tumbang.

Sejumlah daerah di Kalteng perlu menjadi perhatian karena memiliki karakter risiko berbeda. Untuk potensi banjir, genangan, dan luapan sungai, wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Barito Selatan, Barito Utara, Murung Raya, dan Kota Palangka Raya.

Wilayah tersebut memiliki banyak permukiman dan aktivitas warga yang berada di sekitar aliran sungai, rawa, dataran rendah, serta kawasan yang sangat bergantung pada kondisi drainase. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi lama, potensi genangan dan luapan air dapat meningkat.

Untuk potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang, hampir seluruh wilayah Kalteng perlu meningkatkan kewaspadaan. Daerah seperti Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Lamandau, Sukamara, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, dan Palangka Raya perlu memantau perkembangan cuaca harian.

Sementara itu, wilayah hulu dan perbukitan seperti Katingan bagian utara, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Lamandau bagian hulu, dan Seruyan bagian hulu perlu mewaspadai tanah longsor dan akses jalan terputus.

Hujan lebat dapat membuat tanah menjadi labil, terutama pada ruas jalan yang berada di dekat lereng, tebing, dan jalur penghubung antarkecamatan.

Ancaman hidrometeorologi di Kalteng juga memiliki sisi lain, yakni kebakaran hutan dan lahan ketika kondisi cuaca mulai beralih kering. Data BNPB dalam Buletin Info Bencana April 2026 mencatat total luas karhutla di Kalimantan Tengah sejak 1 Januari hingga 29 April 2026 mencapai sekitar 429,04 hektare.

Data tersebut memperlihatkan Kalteng menghadapi ancaman ganda. Saat hujan meningkat, risiko yang muncul adalah banjir, genangan, longsor, petir, pohon tumbang, dan angin kencang. Namun saat memasuki periode kering, ancaman bergeser menjadi karhutla, kabut asap, penurunan kualitas udara, dan gangguan kesehatan masyarakat.

Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi BMKG, tidak berteduh di bawah pohon saat hujan disertai petir, menghindari perjalanan di ruas jalan rawan banjir, membersihkan saluran air di sekitar rumah, serta segera melapor kepada aparat setempat apabila melihat pohon miring, tanah mulai bergerak, genangan cepat naik, atau tanda-tanda bahaya lainnya.

Pemerintah daerah dan BPBD kabupaten/kota juga perlu memperbarui titik rawan bencana. Titik tersebut meliputi drainase tersumbat, jalan langganan genangan, bantaran sungai, kawasan rawan longsor, hingga daerah rawan karhutla.

Pemetaan itu penting agar peringatan dini tidak hanya berhenti sebagai informasi cuaca, tetapi benar-benar menjadi langkah pencegahan di lapangan.

Dengan sebaran risiko yang luas, bencana hidrometeorologi di Kalimantan Tengah tidak bisa dipandang sebagai ancaman musiman biasa. Cuaca ekstrem, banjir, longsor, pohon tumbang, hingga karhutla merupakan ancaman berulang yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat.

iklan Siap Pasang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *