PALANGKA RAYA, folitimes.id — Tagar #KaburAjaDulu pernah ramai di media sosial pada 2025. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai candaan anak muda yang ingin meninggalkan negeri sendiri. Namun, jika dibaca lebih dalam, fenomena ini bukan sekadar tren digital. Ia adalah tanda keresahan generasi muda terhadap masa depan ekonomi yang terasa semakin sempit.
Sebagai mahasiswa Akuntansi, saya melihat #KaburAjaDulu bukan sebagai bentuk menyerah. Fenomena ini justru menjadi alarm bahwa banyak anak muda mulai merasa peluang hidup layak di dalam negeri tidak mudah dijangkau.
Tekanan ekonomi tidak hanya membebani hidup hari ini. Ia juga mempersempit bayangan masa depan. Pendidikan yang berkualitas, pekerjaan stabil, upah layak, hingga hunian yang manusiawi terasa semakin jauh dari jangkauan banyak anak muda.
Keinginan sebagian anak muda mencari peluang ke luar negeri tidak bisa langsung dianggap sebagai sikap tidak nasionalis. Bagi sebagian orang, keputusan itu justru muncul dari perhitungan rasional. Mereka melihat lapangan kerja di dalam negeri terbatas, upah tidak selalu sebanding dengan biaya hidup, dan kepastian kerja semakin sulit diperoleh.
Dalam kondisi seperti itu, bertahan tidak selalu terlihat sebagai pilihan yang menjanjikan. Bukan karena anak muda tidak ingin membangun negeri, tetapi karena mereka juga membutuhkan ruang untuk membangun hidupnya sendiri.
Persoalan utama yang terlihat dari fenomena ini adalah terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak. Data ketenagakerjaan menunjukkan generasi muda masih menghadapi tantangan besar ketika masuk ke dunia kerja. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran berada di kisaran 7,28 juta orang pada 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka sekitar 4,76 hingga 4,86 persen. Pengangguran juga masih didominasi kelompok usia muda, terutama usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun.
Angka itu tidak bisa dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik angka tersebut, ada anak muda yang mengirim banyak lamaran kerja tanpa jawaban. Ada lulusan baru yang menerima pekerjaan jauh dari bidang pendidikannya. Ada pula yang akhirnya menerima upah rendah karena tidak memiliki banyak pilihan.
Masalahnya tidak berhenti pada ketersediaan lapangan kerja. Pekerjaan yang tersedia pun belum tentu layak. Rata-rata upah pekerja di Indonesia disebut berada pada kisaran Rp3,33 juta per bulan. Dalam situasi biaya hidup yang terus bergerak naik, angka tersebut sering kali tidak cukup untuk memberi rasa aman bagi generasi muda yang ingin mandiri.
Bagi anak muda, upah bukan hanya angka dalam slip gaji. Upah adalah ukuran apakah mereka bisa membayar tempat tinggal, transportasi, makan, membantu keluarga, menabung, atau membangun masa depan. Ketika upah habis hanya untuk bertahan hidup, maka mimpi memiliki rumah, melanjutkan pendidikan, atau membangun usaha menjadi semakin sulit.
Di titik inilah #KaburAjaDulu menemukan maknanya. Ia tidak sekadar bicara tentang keinginan pindah negara. Ia bicara tentang hilangnya keyakinan bahwa kerja keras di dalam negeri akan selalu membawa kehidupan yang lebih baik.
Persoalan ini juga tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan ekonomi. Rasio gini Indonesia pada September 2025 disebut berada di angka 0,363. Meski mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa distribusi pendapatan belum sepenuhnya merata. Kelompok rentan disebut hanya menguasai sekitar 19,28 persen dari total pengeluaran nasional.
Ketimpangan membuat anak muda tidak memulai hidup dari garis yang sama. Ada yang lahir dengan akses pendidikan baik, koneksi, modal, dan dukungan keluarga. Namun, banyak juga yang harus berjuang dari keterbatasan, sambil menghadapi pasar kerja yang tidak selalu adil.
Maka, ketika generasi muda berbicara tentang kabur, yang sebenarnya mereka pertanyakan adalah arah pembangunan. Apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar membuka peluang bagi semua orang? Apakah pendidikan mampu mengantar anak muda pada pekerjaan layak? Apakah negara hadir untuk memastikan masa depan mereka tidak hanya menjadi janji?
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan penduduk usia produktif. Berdasarkan data Dukcapil yang dikutip dalam naskah, penduduk produktif mencapai sekitar 69,58 persen. Artinya, negeri ini memiliki modal demografi yang besar. Namun, bonus demografi bisa berubah menjadi beban jika tidak diikuti dengan penciptaan pekerjaan layak.
Tenaga muda yang besar membutuhkan ruang. Mereka membutuhkan industri yang mampu menyerap tenaga kerja, sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, serta kebijakan upah yang membuat pekerja tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga bisa berkembang.
Di sisi lain, pendapatan negara hingga Agustus 2025 tercatat mencapai Rp1.638,7 triliun atau sekitar 57,2 persen dari target APBN. Capaian itu menunjukkan kinerja fiskal masih berjalan, tetapi juga memberi gambaran bahwa negara perlu benar-benar cermat dalam mengelola ruang belanja.
Keterbatasan ruang fiskal tidak boleh dijadikan alasan untuk pasif. Justru dalam situasi seperti ini, negara perlu lebih berani menentukan prioritas. Belanja negara harus diarahkan pada hal-hal yang berdampak langsung terhadap masa depan anak muda: pendidikan, pelatihan kerja, industri padat karya, kewirausahaan, dan perlindungan sosial.
Pemerintah tidak cukup hanya membuka lowongan kerja. Yang dibutuhkan generasi muda adalah pekerjaan yang layak, stabil, dan memiliki jenjang masa depan. Pekerjaan yang hanya membuat seseorang bertahan dari bulan ke bulan tidak cukup untuk menjawab keresahan generasi muda.
Sektor industri yang mampu menyerap tenaga kerja perlu didorong lebih kuat. Insentif pemerintah seharusnya diarahkan kepada sektor yang menciptakan lapangan kerja luas dan memberikan upah kompetitif. Di saat yang sama, pendidikan vokasi dan perguruan tinggi perlu lebih terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.
Jika tidak, akan terus muncul jarak antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri. Anak muda lulus dengan harapan, tetapi masuk ke dunia kerja dengan kekecewaan.
Fenomena #KaburAjaDulu seharusnya tidak dibaca dengan kemarahan. Ia harus dibaca sebagai kritik sosial. Ketika banyak anak muda merasa masa depannya lebih mungkin dibangun di luar negeri, itu berarti ada pekerjaan rumah besar di dalam negeri.
Negara perlu bertanya, bukan sekadar mengapa anak muda ingin pergi, tetapi mengapa mereka merasa sulit bertahan.
Pada akhirnya, #KaburAjaDulu bukan semata-mata ajakan untuk meninggalkan Indonesia. Ia adalah cermin dari rasa lelah, kecewa, dan cemas terhadap masa depan. Anak muda tidak sedang menolak negeri ini. Mereka sedang menuntut ruang hidup yang lebih adil.
Jika lapangan kerja tidak diperluas, upah tidak diperbaiki, pendidikan tidak disesuaikan, dan ketimpangan terus dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan lebih dari sekadar tenaga kerja. Indonesia bisa kehilangan kepercayaan generasi mudanya sendiri.
Dan ketika generasi muda kehilangan harapan, yang pergi bukan hanya manusia. Yang ikut pergi adalah potensi, gagasan, tenaga, dan masa depan bangsa.
PENULIS
Naila Aqilah Islamy
Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya















