KUALA PEMBUANG, folitimes.id — Kuala Pembuang bukan hanya ibu kota Kabupaten Seruyan. Kota ini juga menjadi pintu masuk untuk membaca perjalanan panjang salah satu daerah di bagian selatan Kalimantan Tengah.
Kabupaten Seruyan terbentuk pada 2002 sebagai daerah otonom. Sebelum berdiri sebagai kabupaten sendiri, wilayah Seruyan merupakan bagian dari Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemekaran itu menjadi babak penting bagi masyarakat setempat dalam membangun pemerintahan, pelayanan publik, dan identitas daerah.
Nama Seruyan tidak dapat dilepaskan dari Sungai Seruyan. Aliran sungai ini sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik sebagai jalur mobilitas, ruang ekonomi, maupun penanda geografis yang menghubungkan wilayah pesisir dan pedalaman.
Secara kewilayahan, Seruyan memiliki karakter yang luas dan beragam. Wilayahnya membentang dari kawasan pesisir di bagian selatan hingga daerah pedalaman di bagian utara. Kondisi ini membuat pembangunan Seruyan tidak hanya berbicara tentang pusat pemerintahan di Kuala Pembuang, tetapi juga tentang akses antarkecamatan, desa, perkebunan, permukiman, dan wilayah sungai.
Data wilayah menjadi penting untuk membaca sejarah Seruyan secara lebih utuh. Sebab, pemekaran daerah tidak hanya berkaitan dengan perubahan batas administratif, tetapi juga bagaimana layanan pemerintah menjangkau masyarakat yang tersebar di wilayah luas.
Data tersebut menunjukkan bahwa Seruyan merupakan kabupaten dengan wilayah cukup besar. Dengan luas mencapai lebih dari 16 ribu kilometer persegi, tantangan pembangunan daerah tidak hanya berada pada pusat pemerintahan, tetapi juga pada pemerataan layanan hingga ke desa dan kecamatan.
Sebaran 10 kecamatan, 97 desa, dan 3 kelurahan menggambarkan bahwa Seruyan memiliki struktur wilayah yang luas dan berlapis. Kondisi ini membuat akses jalan, fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan administrasi menjadi bagian penting dalam arah pembangunan daerah.
Kuala Pembuang sebagai ibu kota kabupaten memegang peran strategis. Dari kota ini, aktivitas pemerintahan, perdagangan, layanan publik, dan kegiatan masyarakat banyak digerakkan. Namun, denyut Seruyan tidak hanya berada di ibu kota, melainkan juga di kecamatan-kecamatan lain yang menjadi ruang hidup masyarakat.
Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat Seruyan bergerak dalam berbagai sektor. Aktivitas pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, jasa, pemerintahan, dan UMKM menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Di wilayah pesisir, aktivitas yang dekat dengan laut dan sungai menjadi bagian penting dari ekonomi masyarakat. Sementara di wilayah pedalaman, pertanian dan perkebunan ikut membentuk wajah sosial ekonomi daerah.
Seruyan juga memiliki kekayaan budaya lokal. Masyarakat dengan latar budaya Dayak, Melayu, Banjar, Jawa, dan kelompok masyarakat lain hidup berdampingan di wilayah ini. Keragaman tersebut menjadi bagian dari identitas sosial Seruyan sebagai daerah yang tumbuh dari pertemuan wilayah sungai, pesisir, dan pedalaman.
Karena itu, membaca sejarah Seruyan tidak cukup hanya dengan menyebut tahun pemekaran. Sejarah daerah ini perlu dilihat bersama data wilayah, jumlah penduduk, sebaran kecamatan, kondisi geografis, dan aktivitas masyarakat.
Dari Kuala Pembuang, perjalanan Seruyan terus bergerak. Kabupaten ini tumbuh sebagai daerah yang menyimpan cerita tentang sungai, pesisir, pedalaman, budaya lokal, dan tantangan pembangunan di salah satu wilayah luas Kalimantan Tengah.



