Lima Orangutan Kembali ke Rimba Kalimantan, Cerita Himba Selamat dari Api Jadi Sorotan

Pelepasliaran lima orangutan dari Nyaru Menteng ke TNBBBR menjadi bagian dari upaya pemulihan populasi dan perlindungan habitat orangutan Kalimantan

Petugas konservasi melepasliarkan orangutan Kalimantan hasil rehabilitasi Nyaru Menteng ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Lima orangutan Kalimantan hasil rehabilitasi Nyaru Menteng dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari upaya pemulihan populasi orangutan di habitat alami.

 

PALANGKA RAYA, folitimes.id — Lima orangutan Kalimantan kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya atau TNBBBR, Kalimantan Tengah.

Pelepasliaran ini dilakukan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau Yayasan BOS, bersama sejumlah mitra nasional dan internasional.

Lima orangutan tersebut terdiri dari tiga betina dan dua jantan. Mereka adalah Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru. Seluruhnya telah menjalani proses rehabilitasi panjang di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng sebelum dinyatakan siap hidup mandiri di alam liar.

Dari lima individu itu, kisah Himba menjadi salah satu yang paling menyita perhatian. Orangutan jantan berusia 15 tahun tersebut ditemukan saat masih bayi dalam kondisi luka bakar serius akibat kebakaran hutan. Setelah 14 tahun menjalani rehabilitasi, Himba tumbuh menjadi individu yang tangguh, aktif menjelajah, dan terampil mencari pakan alami.

Kisah panjang juga dijalani Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun. Lykke tiba di Nyaru Menteng bersama induknya saat masih berusia sekitar satu bulan. Setelah hampir 22 tahun direhabilitasi, ia dikenal sebagai individu mandiri dan lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon.

Farida, betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, juga dinilai memiliki kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang sangat baik selama masa pra-pelepasliaran. Bersama Nett dan Semeru, Farida kini memulai fase baru untuk kembali menjalankan peran ekologisnya di hutan Kalimantan.

Direktur Konservasi Kawasan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem atau KSDAE, Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, menyebut pelepasliaran orangutan ke TNBBBR merupakan bagian penting dari pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi.

Menurut Sapto, kawasan konservasi memiliki peran strategis untuk memastikan satwa yang telah direhabilitasi dapat kembali menjalankan fungsi ekologisnya di habitat yang aman dan sesuai. Karena itu, perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang efektif, serta pemantauan pasca-pelepasliaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari konservasi jangka panjang.

“Keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah individu yang dilepasliarkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” kata Sapto.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan setiap pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Ia menyebut pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah. Kerja sama yang terjalin diharapkan dapat terus mendukung konservasi orangutan dan habitatnya secara berkelanjutan.

Kepala Balai TNBBBR, Mochamad Satori, menegaskan TNBBBR menjadi salah satu benteng penting bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar. Lima orangutan yang dilepasliarkan tersebut akan menjadi bagian dari ekosistem hutan yang terus dijaga bersama.

“Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” ujar Satori.

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, menyampaikan setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan panjang. Menurutnya, Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar.

“Pelepasliaran ini bukan sekadar akhir dari proses rehabilitasi, tetapi awal dari kehidupan baru mereka di alam,” kata Jamartin.

Berdasarkan catatan Yayasan BOS, sejak 2012 sebanyak 556 orangutan telah dikembalikan ke habitat alami mereka di tiga lokasi pelepasliaran, yakni Hutan Lindung Bukit Batikap dan TNBBBR di Kalimantan Tengah, serta Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.

Di Kalimantan Tengah, jumlah orangutan yang telah dilepasliarkan sebelumnya mencapai 226 individu. Dengan pelepasliaran lima orangutan kali ini, totalnya meningkat menjadi 231 individu. Secara keseluruhan, total orangutan yang dikembalikan ke alam liar oleh Yayasan BOS sejak 2012 mencapai 561 individu.

Namun, pelepasliaran bukan garis akhir konservasi. Tantangan berikutnya berada pada kemampuan semua pihak menjaga habitat, memperkuat perlindungan kawasan, dan memastikan pemantauan pasca-pelepasliaran berjalan berkelanjutan.

Bagi Kalimantan Tengah, kembalinya Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru ke rimba bukan sekadar kabar baik bagi konservasi. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa masa depan orangutan sangat bergantung pada masa depan hutan sebagai rumah terakhir mereka.

Exit mobile version