JAKARTA, folitimes.id — Paris Saint-Germain dan Arsenal tiba di final Liga Champions 2025/2026 dengan dua cerita yang berbeda. PSG datang sebagai juara bertahan yang sempat terseok pada fase awal, sedangkan Arsenal melaju dengan catatan lebih stabil sejak fase liga hingga babak gugur.
Perjalanan dua klub itu memperlihatkan kontras yang jelas. PSG harus melewati jalan berliku, termasuk play-off setelah gagal masuk delapan besar fase liga. Arsenal justru tampil lebih rapi dan konsisten sejak awal, lalu menjaga momentum sampai partai puncak.
Di fase liga, Arsenal menjadi salah satu tim paling meyakinkan. Tim asuhan Mikel Arteta menyapu delapan pertandingan dengan kemenangan dan mengumpulkan 24 poin. Catatan itu membuat Arsenal langsung lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu unggulan utama.
Arsenal tidak hanya menang. The Gunners juga tampil kuat dalam organisasi permainan. Mereka menaklukkan sejumlah lawan seperti Athletic Bilbao, Olympiacos, Atletico Madrid, Slavia Praha, Bayern Muenchen, Club Brugge, Inter Milan, dan Kairat Almaty. Dari fase ini, Arsenal membangun citra sebagai tim yang solid, disiplin, dan sulit ditembus.
Situasi berbeda dialami PSG. Tim asuhan Luis Enrique memang tetap berbahaya di lini depan, tetapi hasil mereka di fase liga tidak sepenuhnya stabil. PSG mencatat empat kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan. Mereka mencetak 21 gol, tetapi juga kebobolan 11 kali.
PSG akhirnya finis di posisi ke-11 fase liga. Posisi itu membuat mereka tidak langsung masuk 16 besar dan harus melewati babak play-off. Di titik inilah perjalanan PSG mulai terlihat sebagai ujian mental juara bertahan.
Pada babak play-off, PSG menghadapi Monaco. Duel sesama klub Prancis itu berlangsung ketat. PSG sempat berada dalam tekanan, tetapi mampu lolos dengan agregat 5-4. Kemenangan tipis itu menjadi pintu masuk bagi PSG untuk kembali menemukan bentuk terbaiknya.
Setelah melewati Monaco, PSG berubah lebih tajam di babak 16 besar. Chelsea menjadi korban berikutnya. PSG menang telak dengan agregat 8-2. Kemenangan besar itu menandai kebangkitan mereka setelah fase liga yang tidak sepenuhnya mulus.
Di babak perempat final, PSG kembali menunjukkan wajah yang lebih matang. Liverpool disingkirkan dengan agregat 4-0. Dua kemenangan atas klub Inggris itu memperlihatkan bahwa PSG bukan hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga lebih disiplin dalam menjaga ritme permainan.
Ujian paling besar PSG datang di semifinal. Bayern Muenchen memberi perlawanan sengit dalam dua leg yang penuh gol. PSG akhirnya lolos dengan agregat 6-5. Laga ini menjadi salah satu titik penting perjalanan mereka karena memperlihatkan kemampuan bertahan dalam tekanan besar.
Sementara itu, Arsenal memulai babak gugur dengan menghadapi Bayer Leverkusen di 16 besar. Arsenal sempat mendapat perlawanan keras pada leg pertama dan harus puas dengan hasil imbang 1-1. Namun di leg kedua, mereka mampu menyelesaikan pekerjaan dan memastikan tiket ke perempat final.
Di perempat final, Arsenal bertemu Sporting CP. Pertandingan tidak berjalan mudah, tetapi Arsenal mampu menjaga keunggulan tipis. Kai Havertz menjadi salah satu pemain penting ketika Arsenal mencuri kemenangan pada leg pertama. Pada leg kedua, Arsenal bermain lebih berhitung untuk memastikan langkah ke semifinal.
Semifinal menghadirkan Atletico Madrid sebagai lawan Arsenal. Duel ini menjadi ujian karakter karena Atletico dikenal kuat dalam bertahan dan pintar mengganggu ritme lawan. Leg pertama berjalan ketat dan berakhir dengan drama penalti. Namun Arsenal tetap menjaga peluang.
Di leg kedua, Bukayo Saka menjadi pembeda. Golnya membawa Arsenal menang 1-0 dan memastikan tiket final. Kemenangan itu mengakhiri penantian panjang Arsenal untuk kembali ke partai puncak Liga Champions setelah terakhir kali tampil di final pada 2006.
Jika dilihat dari perjalanan keduanya, Arsenal tampak seperti tim yang paling konsisten. Mereka tidak terkalahkan dalam perjalanan menuju final, kuat dalam struktur bertahan, dan lebih tenang mengelola pertandingan.
PSG sebaliknya tidak selalu mulus. Mereka sempat tertahan di fase liga, dipaksa bekerja keras di play-off, lalu perlahan menjadi lebih berbahaya di babak gugur. PSG tumbuh dari tekanan, bukan dari dominasi sejak awal.
Final di Budapest akhirnya mempertemukan dua jalur berbeda itu. Arsenal membawa stabilitas dan disiplin. PSG membawa pengalaman, keberanian, dan mental juara bertahan.
Dalam laga puncak, Arsenal sempat unggul cepat melalui Kai Havertz pada menit ke-6. PSG kemudian menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada menit ke-65. Skor 1-1 bertahan hingga babak tambahan.
Pertandingan kemudian ditentukan lewat adu penalti. PSG menang 4-3 dan mempertahankan gelar Liga Champions. Arsenal harus menelan kenyataan pahit: perjalanan yang nyaris sempurna akhirnya berhenti di momen paling menentukan.
(Redaksi)












