PALANGKA RAYA, folitimes.id — Alarm kebakaran hutan dan lahan mulai menyala di Kalimantan Tengah. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang pada Mei hingga Juni, sementara sebagian besar wilayah Kalteng menghadapi sifat musim kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Kondisi itu menempatkan kawasan gambut dalam posisi rawan. Ketika gambut kehilangan air, api tidak hanya menjalar di permukaan. Api juga bisa merambat ke lapisan bawah tanah, bertahan lama, lalu memunculkan asap pekat yang sulit dikendalikan.
Peringatan ini tidak boleh berhenti sebagai kalender musim. Pemerintah daerah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, aparat desa, serta masyarakat perlu mengecek kesiapan sejak sekarang. Karhutla tidak menunggu rapat koordinasi selesai.
BMKG Kalteng dalam pembaruan prediksi musim pada Juni 2026, menyebut awal musim kemarau di Kalimantan Tengah berkisar Mei hingga Juni. Jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun periode 1991–2020, awal kemarau 2026 di hampir seluruh zona musim Kalteng maju dari normalnya.
Pada tingkat nasional, BMKG juga mengingatkan potensi cuaca lebih kering pada 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan peringatan itu saat Apel Nasional Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin, Riau, Kamis, 5 Maret 2026.
“Artinya, kita harus bersiap karena tantangan Karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering,” ujar Faisal.
Gambut Kering Jadi Titik Paling Rawan
Karhutla di Kalteng tidak bisa dipandang seperti kebakaran lahan biasa. Banyak wilayah di provinsi ini memiliki karakter gambut. Ketika gambut mengering, api dapat menyusup ke bawah permukaan dan membuat pemadaman jauh lebih sulit.
Karena itu, menjaga gambut tetap basah menjadi pekerjaan paling mendesak. Pemerintah daerah harus mengecek tinggi muka air, kondisi sekat kanal, embung, sumur bor, dan jalur distribusi air di desa-desa rawan.
Perusahaan juga tidak cukup hanya menyiapkan regu pemadam di atas kertas. Mereka perlu membuka kesiapan peralatan, sumber air, kanal, sekat kanal, dan patroli di sekitar konsesi. Di wilayah gambut, kelalaian menjaga air pada awal kemarau bisa berubah menjadi bencana asap.
BMKG Kalteng juga memprediksi sifat hujan wilayah Kalimantan Tengah pada Juli, Agustus, dan September 2026 berada pada kategori bawah normal. Artinya, curah hujan berpotensi lebih rendah dari kondisi biasanya pada periode puncak kerawanan.
Zona Rawan Karhutla di Kalteng
Pemetaan kerawanan perlu membaca tiga faktor sekaligus, prediksi musim kemarau, sebaran gambut, dan riwayat kejadian karhutla. Berdasarkan pola tersebut, sejumlah daerah perlu mendapat perhatian lebih awal.
Jangan Tunggu Asap
Data nasional memberi sinyal keras. Dalam Rakornas Pengendalian Karhutla 2026, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut luas lahan terbakar hingga 28 Februari 2026 mencapai 32.637,42 hektare. Angka itu meningkat hampir 20 kali lipat dibanding periode yang sama pada 2025.
Tren itu menunjukkan karhutla bukan rutinitas musiman yang bisa pemerintah tangani setelah api membesar. Jika pencegahan terlambat, asap dapat mengganggu kesehatan warga, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi, hingga kegiatan ekonomi.
Kalteng memiliki memori panjang atas karhutla besar. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dalam rapat koordinasi karhutla pada Kamis, 7 Agustus 2025 lalu, pernah mengingatkan risiko tinggi di wilayah gambut seperti Pulang Pisau, Kapuas, dan Kotawaringin Timur.
“Ini adalah alarm bagi kita semua. Deteksi dini, sinergi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat adalah harga mati,” tegas Agustiar.
Pernyataan itu harus menjadi dasar kerja, bukan sekadar slogan tahunan. Pada musim kemarau yang lebih kering, pemerintah daerah perlu memastikan deteksi dini bergerak sampai desa, bukan hanya berhenti di posko provinsi.
Perusahaan Jangan Menunggu Instruksi
Perusahaan perkebunan dan kehutanan memegang peran besar dalam pencegahan. Banyak konsesi berada dekat atau di sekitar kawasan rentan. Karena itu, perusahaan harus membuka kondisi kanal, sumber air, alat pemadam, dan regu pemadam internal.
Jika api muncul dari area konsesi atau sekitar konsesi, publik membutuhkan penjelasan cepat. Perusahaan tidak boleh bersembunyi di balik alasan musim kering.
Pemerintah daerah juga perlu memeriksa kesiapan perusahaan sebelum titik api muncul. Pemeriksaan itu harus menyentuh bukti lapangan, embung berisi air, sumur bor berfungsi, pompa siap pakai, sekat kanal tidak rusak, dan regu pemadam menjalankan patroli.
Di tingkat desa, aparat perlu memperkuat larangan membuka lahan dengan cara membakar. Pemerintah desa juga harus menyiapkan jalur pelaporan cepat agar warga tidak menunggu api membesar sebelum meminta bantuan.
Mitigasi Harus Terukur
Mitigasi karhutla 2026 harus memakai ukuran yang jelas. Pemerintah daerah perlu mengetahui jumlah embung aktif, sumur bor yang berfungsi, kanal yang masih menahan air, jumlah personel pemadam, dan desa yang masuk prioritas patroli.
Tanpa angka dan peta kerja, kesiapsiagaan hanya menjadi dokumen. Padahal, api di lahan gambut bisa bergerak lebih cepat daripada rapat koordinasi.
BMKG sudah memberi sinyal musim kering. Data nasional sudah menunjukkan kenaikan luas lahan terbakar. Kalteng memiliki riwayat karhutla. Tiga fakta itu cukup untuk memaksa semua pihak bergerak lebih awal.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya terlihat dari jumlah helikopter yang terbang saat asap tebal. Keberhasilan justru terlihat ketika gambut tetap basah, titik api tidak membesar, perusahaan patuh, desa siaga, dan warga tidak kembali menghirup asap.












