CPO Melemah Tajam, Harga Sawit Global Kembali Tertekan

Harga CPO Anjlok, Nilai Sawit Turun ke Rp19,8 Juta per Ton

Harga CPO turun tajam ke Rp19,88 juta per ton, memicu penurunan harga buah sawit di sejumlah daerah dan menjadi perhatian pelaku industri serta petani.

PALANGKA RAYA – folitimes.id – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali mengalami tekanan tajam di pasar komoditas global. Pelemahan harga terjadi setelah kontrak CPO acuan di Bursa Malaysia turun ke level 4.458 ringgit Malaysia per ton pada Kamis, 21 Mei 2026.

Dengan kurs tengah sekitar 1 ringgit Malaysia setara Rp4.460,67, harga CPO tersebut setara dengan sekitar Rp19,88 juta per ton. Kurs ini mengacu pada data konversi MYR ke IDR per 22 Mei 2026.

Data Trading Economics mencatat harga palm oil berada di level 4.458 ringgit Malaysia per ton pada 21 Mei 2026, turun 2,73 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, harga CPO masih melemah, meski secara tahunan tercatat tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, harga CPO sempat bergerak naik tipis ke level 4.496 ringgit Malaysia per ton. Jika dikonversi ke rupiah, posisi tersebut setara dengan sekitar Rp20,06 juta per ton. Kenaikan ini belum sepenuhnya menghapus tekanan harga yang terjadi sehari sebelumnya.

Tekanan harga CPO terlihat cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi awal Mei. Pada 5 Mei 2026, harga CPO sempat berada di kisaran 4.690 ringgit Malaysia per ton atau sekitar Rp20,92 juta per ton. Artinya, dari awal Mei ke posisi 21 Mei, harga CPO turun sekitar 232 ringgit Malaysia per ton, atau setara dengan penurunan sekitar Rp1,03 juta per ton.

Pelemahan ini menjadi sinyal penting bagi industri sawit, termasuk Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir utama minyak sawit dunia. Penurunan harga CPO di pasar global biasanya dapat merembet ke harga tandan buah segar atau TBS di tingkat petani, terutama jika tekanan berlangsung dalam beberapa hari perdagangan berikutnya.

Selain faktor harga global, pasar juga mencermati rencana Indonesia memperketat tata kelola ekspor komoditas strategis, termasuk minyak sawit. Reuters melaporkan, rencana sentralisasi ekspor sawit Indonesia memunculkan perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arus pasok dan volatilitas harga global.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk merespons tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Bagi pelaku usaha sawit, koreksi harga CPO kali ini perlu dipantau secara ketat. Jika harga kembali melemah, tekanan bisa dirasakan mulai dari eksportir, pabrik kelapa sawit, hingga petani. Namun jika harga bertahan di atas Rp19 juta per ton, pasar masih memiliki ruang untuk konsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya. Tim Redaksi

Exit mobile version