Gerebek Sabu, Satu Polisi Tewas Dua Menghilang di Katingan

Penggerebekan terduga pelaku sabu di Desa Tumbang Kalemei berubah menjadi krisis lapangan. Satu anggota polisi meninggal dunia, dua personel belum ditemukan, dan satu warga tewas dalam rangkaian bentrokan

Kondisi di lokasi kejadian setelah operasi penggerebekan kasus sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan. Foto Istimewa.
Kondisi di lokasi kejadian setelah operasi penggerebekan kasus sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan. Foto Istimewa.

KATINGAN, folitimes.id — Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, mendadak menjadi titik paling panas dalam operasi pemberantasan sabu di Kalimantan Tengah. Penggerebekan yang berlangsung pada Kamis dini hari, 2 Juli 2026, berakhir dengan korban jiwa dan dua personel kepolisian belum ditemukan.

Operasi itu menyasar dua target berinisial BIO dan BUSU. Keduanya masuk dalam sasaran penangkapan Tim Satresnarkoba Polres Katingan.

Namun, operasi yang dimulai dari laporan masyarakat itu berubah menjadi bentrokan. Perlawanan muncul dari dalam rumah target. Situasi kemudian meluas setelah massa di sekitar lokasi berdatangan.

Satu anggota polisi, Aipda Yudhi Perdana Putra, meninggal dunia. Ia ditemukan di atas lanting atau dermaga apung dengan luka bacok berat di bagian kepala.

Dua personel lain, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, belum ditemukan setelah rangkaian penyelamatan diri di sekitar aliran sungai. Tim gabungan masih melakukan penyisiran.

Satu warga bernama Teriyo, 40 tahun, juga meninggal dunia. Ia terkena tembakan saat petugas menghadapi perlawanan bersenjata tajam di rumah target operasi.

Laporan Warga Jadi Awal Operasi

Rangkaian peristiwa bermula dari informasi masyarakat pada Rabu, 1 Juli 2026. Laporan itu menyebut dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.

Tim Satresnarkoba Polres Katingan lalu bergerak menuju lokasi sekitar pukul 21.00 WIB. Mereka tiba di desa tersebut sekitar pukul 00.30 WIB pada Kamis, 2 Juli 2026.

Di lapangan, kekuatan petugas terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama berisi sembilan personel. Mereka masuk ke rumah target operasi.

Kelompok kedua berisi tiga personel. Mereka mengambil posisi siaga di area SMPN setempat untuk mengamankan jalur dan memberi dukungan bila situasi berubah.

Pada tahap awal, petugas berhasil mengamankan BIO. Aipda Yudhie disebut menjadi personel yang menangkap target utama tersebut.

Situasi mulai pecah setelah seorang pria muncul dari arah dapur. Ia membawa parang dan menyerang ke arah Briptu Dedi. Serangan itu dapat dihentikan setelah Briptu Dedi dibantu Bripda Ferdy menahan tangan pelaku.

Ketegangan belum berhenti. Dua pria lain kemudian keluar dari kamar. Mereka juga membawa parang dan bergerak ke arah posisi Kasat Resnarkoba Polres Katingan.

Aiptu Sumariyanto melepas tembakan peringatan ke udara. Namun, perlawanan tetap berlanjut. Petugas kemudian mengambil tindakan tegas saat ancaman terhadap personel semakin dekat.

Dalam momen itulah Teriyo terkena tembakan. Pria berusia 40 tahun tersebut meninggal dunia di sekitar pintu rumah.

Kematian Warga Memicu Kepungan Massa

Kematian Teriyo membuat situasi di sekitar rumah target berubah cepat. Keluarga dan warga sekitar berdatangan. Massa kemudian mengepung petugas.

Sejumlah orang disebut membawa senjata tajam, balok, dan senjata api rakitan. Klaim soal senjata api rakitan perlu tetap dikunci melalui keterangan resmi kepolisian karena menyangkut perkara keamanan yang sangat sensitif.

Tim pertama Satresnarkoba Polres Katingan terdesak. Mereka memilih mundur untuk menyelamatkan diri sembari meminta tambahan personel dari Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah.

Sebagian anggota bergerak menuju sungai. Mereka berupaya keluar dari kepungan massa melalui jalur air dan area hutan.

Lima personel disebut berhasil menyelamatkan diri. Mereka yakni Bripka Jhon, Briptu Dedi, Briptu Kristian, Bripda Ferdy, dan Bripda Eko.

Di sisi lain, kelompok kedua yang hendak mencari bantuan ke Polsek Katingan Tengah juga menghadapi tekanan. Mobil yang mereka gunakan sempat dikejar kendaraan SUV berwarna silver.

Massa juga menghadang jalur mereka. Meski begitu, kelompok kedua berhasil keluar dari tekanan dan tiba di Polsek Katingan Tengah dalam kondisi selamat.

Aipda Yudhi Gugur, Dua Personel Belum Ditemukan

Rangkaian evakuasi kemudian menemukan kabar duka. Aipda Yudhi Perdana Putra ditemukan meninggal dunia di atas lanting.

Luka bacok berat di kepala korban memperlihatkan kerasnya bentrokan setelah operasi penangkapan berubah kacau. Kematian Aipda Yudhi menempatkan kasus ini sebagai salah satu insiden paling serius dalam operasi narkoba di Katingan.

Dua anggota lain, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, masih belum ditemukan. Keduanya disebut berada dalam rangkaian upaya menyelamatkan diri di sekitar sungai.

Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah kemudian mengerahkan personel tambahan. Tim gabungan menyisir aliran sungai dan kawasan sekitar Desa Tumbang Kalemei.

Sembilan personel berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Aparat juga memperketat pengamanan desa untuk mencegah bentrokan susulan.

Jasad Aipda Yudhi Perdana Putra dan Teriyo dibawa ke rumah sakit terdekat. Aparat masih mendalami rangkaian kejadian yang membuat operasi narkoba itu berubah menjadi tragedi.

Pertanyaan Besar Mengarah ke Peta Risiko

Insiden di Tumbang Kalemei membuka pertanyaan serius tentang peta risiko operasi narkoba di wilayah pedesaan. Tim kepolisian masuk untuk menangkap terduga pelaku sabu, tetapi operasi berubah menjadi bentrokan terbuka.

Publik perlu mendapat penjelasan rinci. Apa status hukum BIO dan BUSU? Barang bukti apa yang ditemukan? Berapa personel yang masuk ke rumah target? Mengapa dua anggota bisa terpisah dan belum ditemukan?

Kepolisian juga perlu menjelaskan titik awal bentrokan. Penjelasan itu penting untuk membedakan tindakan penangkapan, perlawanan di dalam rumah, kepungan massa, dan langkah penyelamatan diri anggota.

Dugaan penggunaan senjata api rakitan juga perlu dibuka secara hati-hati. Jika benar ada senjata api rakitan, kasus ini melampaui perkara narkoba. Ia masuk ke wilayah perlawanan terhadap aparat dan ancaman keamanan di desa.

Namun, aparat tetap harus memilah pihak yang terlibat. Warga biasa, keluarga target, dan orang yang menyerang petugas tidak boleh dicampur dalam satu tuduhan umum.

Jaringan Sabu Desa Jadi Alarm Baru

Peristiwa ini menunjukkan bahwa peredaran sabu di wilayah pedalaman tidak bisa dilihat sebagai perkara kecil. Ketika operasi penangkapan memicu perlawanan bersenjata, ada masalah sosial yang lebih dalam.

Jaringan narkoba membutuhkan ruang gerak. Ia memerlukan jalur distribusi, tempat simpan, komunikasi, uang, dan perlindungan sosial. Desa, sungai, dan akses permukiman bisa menjadi bagian dari jalur itu.

Karena itu, aparat tidak cukup hanya mengejar pemakai atau pengecer. Penegakan hukum harus menembus pemasok, pengendali, pemodal, dan pihak yang memberi perlindungan.

Pemerintah daerah juga perlu turun. Perangkat desa, tokoh masyarakat, sekolah, dan keluarga harus masuk dalam sistem pencegahan. Warga yang melapor harus mendapat jaminan keselamatan.

Kasus Tumbang Kalemei kini menjadi ujian besar bagi aparat. Katingan menunggu kronologi resmi yang utuh, bukan kabar potongan dari lapangan.

Publik berhak tahu mengapa operasi sabu bisa berubah menjadi bentrokan berdarah. Publik juga berhak mendapat jawaban tentang keselamatan dua personel yang masih belum ditemukan.

Catatan Redaksi:
Naskah ini disusun dari informasi awal peristiwa di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, pada Kamis, 2 Juli 2026. Nama-nama yang disebut mengikuti kronologi awal yang tersedia. Redaksi tetap menunggu keterangan resmi lengkap dari Polres Katingan atau Polda Kalimantan Tengah.

Exit mobile version