PALANGKA RAYA – folitimes.id- Kalimantan Tengah memiliki salah satu kawasan gambut terluas di Indonesia yang diperkirakan mencapai jutaan hektare dan menjadi bagian dari ekosistem gambut nasional seluas sekitar 13,4 juta hektare. Wilayah ini termasuk dalam bentang lahan yang menyimpan cadangan karbon sangat besar dan berperan penting dalam menjaga stabilitas iklim global.
Namun di balik peran ekologis tersebut, kondisi gambut di Kalimantan Tengah terus berada dalam tekanan. Pembukaan lahan, ekspansi perkebunan, hingga aktivitas manusia di sekitar kawasan rawa secara perlahan mengubah struktur alami ekosistem yang selama ini berfungsi sebagai penyangga air dan karbon.
Ketika gambut mengalami pengeringan, lapisan tanah organiknya menjadi sangat mudah terbakar. Api tidak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan. Kondisi inilah yang membuat kebakaran gambut kerap berlangsung lama dan menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah kembali berulang dan menimbulkan dampak luas. Pada periode musim kemarau tertentu, kebakaran dapat mencapai ratusan hingga ribuan hektare lahan, terutama di wilayah yang telah mengalami degradasi dan drainase.
Peristiwa karhutla tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Penurunan kualitas udara, gangguan jarak pandang, hingga meningkatnya kasus gangguan pernapasan menjadi dampak yang kerap muncul saat kebakaran terjadi dalam skala besar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan gambut tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi masyarakat. Aktivitas pendidikan, transportasi, hingga sektor usaha sering kali ikut terdampak ketika kabut asap menyelimuti wilayah dalam waktu tertentu.
Di sisi lain, tekanan terhadap gambut terus berlanjut seiring perubahan tata guna lahan. Pembukaan kawasan baru untuk perkebunan dan infrastruktur secara perlahan mengurangi daya dukung ekosistem gambut yang sensitif terhadap perubahan hidrologi.
Jika tren ini terus berlanjut tanpa pengelolaan yang ketat, kawasan gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dunia berpotensi semakin terdegradasi dan meningkatkan risiko bencana lingkungan di masa mendatang.
Meski demikian, gambut Kalimantan Tengah juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi hijau seperti perdagangan karbon, restorasi ekosistem, serta pemanfaatan berbasis konservasi. Namun potensi tersebut hanya dapat tercapai apabila kerusakan dapat ditekan dan pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan.
Kini, gambut Kalimantan Tengah berada pada titik kritis: antara menjadi benteng penting penahan perubahan iklim dunia, atau berubah menjadi sumber emisi yang mempercepat krisis lingkungan global. Adm












