LABUHANBATU UTARA, folitimes.id — Kantor dan mess PT Agrinas Palma Nusantara atau APN Regional 1 di Desa Sukarame Baru, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, dibakar massa pada Selasa (16/06/2026) malam.
Aksi itu pecah setelah seorang warga setempat, Luis David Hutabarat, 32 tahun, meninggal dunia. Warga menduga kematian korban berkaitan dengan dugaan kekerasan yang melibatkan petugas pengamanan perusahaan.
Korban merupakan warga Dusun Tapian Nauli Kilang Mili, Desa Sukarame Baru. Sebelum peristiwa itu terjadi, korban disebut sedang dalam perjalanan pulang dari ladang bersama rekannya.
Mereka melintasi kawasan perkebunan PT APN. Namun, rangkaian kejadian sebelum korban meninggal dunia masih belum terang dan perlu dipastikan melalui penyelidikan aparat penegak hukum.
Kepala Desa Sukarame Baru, Zaini, mengatakan kemarahan warga kemudian menyasar sejumlah aset perusahaan. Menurut dia, beberapa fasilitas perusahaan dijarah sebelum akhirnya dibakar.
“Sebanyak tujuh unit aset milik PT Agrinas, termasuk kantor dan mess, dijarah massa. Tiga unit bangunan, termasuk kantor perusahaan, kemudian dibakar sebagai buntut dari meninggalnya seorang warga yang diduga dianiaya,” kata Zaini saat dikonfirmasi.
Zaini menyebut belum mengetahui apakah ada korban jiwa dari pihak perusahaan dalam insiden tersebut. Pendataan kerusakan juga masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Kemarahan massa tidak berhenti di area kantor dan mess perusahaan. Sejumlah warga juga disebut menghadang truk pengangkut tandan buah segar atau TBS kelapa sawit milik PT Agrinas yang melintas di Jalan Kilang Mili.
“Warga menghadang truk pengangkut buah sawit dan mengancam akan membakar kendaraan jika muatannya tidak diturunkan,” ujar Zaini.
Menurut Zaini, setelah dilakukan pengecekan ke lokasi, muatan sawit yang sebelumnya diturunkan dari truk sudah tidak berada di tempat.
“Setelah saya cek ke lokasi, buah sawit yang diturunkan sudah tidak berada di tempat dan diduga telah diambil oleh masyarakat,” jelasnya.
Selain bangunan kantor dan mess, informasi yang beredar menyebut sejumlah sepeda motor di lokasi turut terbakar. Namun, jumlah pasti aset yang rusak dan nilai kerugian belum dapat dipastikan.
Camat Kualuh Hulu, Maruli Tanjung, mengatakan pihak kecamatan bersama unsur terkait telah turun ke lokasi. Langkah itu dilakukan untuk meredam kemarahan warga dan mencegah aksi meluas ke titik lain.
“Kami berupaya menenangkan masyarakat dan mencegah tindakan anarkis meluas ke lokasi lainnya. Saat ini kondisi berangsur kondusif dan aparat keamanan masih melakukan pengamanan di lapangan,” katanya.
Peristiwa ini menunjukkan rapuhnya relasi antara masyarakat dan perusahaan perkebunan ketika dugaan kekerasan tidak segera dijelaskan secara terbuka. Kematian warga menjadi pemantik kemarahan kolektif yang kemudian berujung pada pembakaran fasilitas perusahaan.
Meski demikian, dugaan penganiayaan terhadap Luis David Hutabarat masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Pemeriksaan terbuka diperlukan untuk memastikan penyebab kematian korban, pihak yang bertanggung jawab, serta kronologi lengkap sebelum massa bergerak ke lokasi perusahaan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari PT Agrinas Palma Nusantara terkait pembakaran kantor, dugaan kekerasan terhadap korban, maupun kerusakan aset perusahaan.
Aparat keamanan diharapkan segera mengusut perkara ini secara transparan. Pemerintah daerah juga perlu membuka ruang mediasi agar konflik antara warga dan perusahaan tidak berkembang menjadi kerusuhan yang lebih luas.












