PALANGKA RAYA, folitimes.id — Tekanan harga kebutuhan pokok di Kalimantan Tengah belum sepenuhnya mereda. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Kalteng pada Mei 2026 mencapai 4,56 persen secara tahunan atau year-on-year.
Angka itu menunjukkan harga sejumlah barang dan jasa pada Mei 2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan paling terasa datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang selama ini menjadi kelompok pengeluaran paling dekat dengan belanja harian masyarakat.
Berdasarkan pemantauan BPS di empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen di Kalteng, IHK naik dari 107,45 pada Mei 2025 menjadi 112,35 pada Mei 2026. Secara bulanan, Kalteng juga mencatat inflasi 0,34 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 2,15 persen.
| Indikator | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Inflasi tahunan / year-on-year | 4,56 persen | Perbandingan Mei 2026 terhadap Mei 2025 |
| Inflasi bulanan / month-to-month | 0,34 persen | Perbandingan Mei 2026 terhadap April 2026 |
| Inflasi tahun kalender / year-to-date | 2,15 persen | Akumulasi Januari hingga Mei 2026 |
| IHK Mei 2025 | 107,45 | Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya |
| IHK Mei 2026 | 112,35 | Indeks Harga Konsumen Mei 2026 |
| Kenaikan kelompok makanan, minuman, dan tembakau | 6,90 persen | Kelompok pengeluaran dengan tekanan kuat terhadap rumah tangga |
| Andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau | 2,69 persen | Kontribusi terhadap inflasi tahunan Kalteng |
Beras Masih Jadi Titik Rawan
Beras menjadi salah satu komoditas paling sensitif dalam inflasi Kalteng. Kenaikan harga beras tidak hanya berdampak pada angka statistik, tetapi langsung menyentuh dapur rumah tangga.
Dalam struktur konsumsi masyarakat, beras menjadi kebutuhan dasar yang sulit digantikan. Karena itu, kenaikan kecil sekalipun dapat menambah beban pengeluaran, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
BPS mencatat sejumlah komoditas dominan memberi andil terhadap inflasi tahunan pada Mei 2026. Komoditas itu tersebar dari pangan pokok, protein hewani, bumbu dapur, energi, transportasi, hingga konsumsi lain.
| Kelompok Komoditas | Komoditas Penyumbang Inflasi Tahunan |
|---|---|
| Pangan pokok | Beras |
| Protein hewani | Ikan nila, ikan gabus, ikan patin, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan saluang |
| Bumbu dapur | Cabai rawit, bawang merah |
| Bahan konsumsi harian | Minyak goreng, kopi bubuk, nasi dengan lauk, ikan bakar |
| Energi dan transportasi | Solar, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara |
| Lainnya | Emas perhiasan, sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan |
Masuknya beras dalam daftar penyumbang inflasi memperlihatkan persoalan pangan masih perlu diawasi. Pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah tidak cukup hanya mengandalkan operasi pasar sesaat, tetapi perlu memastikan pasokan, distribusi, dan harga di tingkat pedagang tetap terkendali.
Ikan Nila Ikut Menekan Inflasi Tahunan
Selain beras, ikan nila juga menjadi sorotan. Komoditas ini menarik karena ikan air tawar merupakan salah satu sumber protein yang dekat dengan konsumsi masyarakat Kalteng.
Namun, data inflasi perlu dibaca secara hati-hati. Ikan nila tercatat sebagai salah satu komoditas yang memberi andil terhadap inflasi tahunan. Artinya, harga ikan nila pada Mei 2026 masih lebih tinggi dibandingkan Mei 2025.
Akan tetapi secara bulanan, ikan nila justru masuk dalam daftar komoditas yang memberi andil deflasi. Dengan kata lain, harga ikan nila pada Mei 2026 mulai turun dibandingkan April 2026, tetapi masih berada di level lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan tekanan harga pangan tidak bergerak seragam. Sebagian komoditas mulai turun secara bulanan, tetapi dampak kenaikan harga dalam satu tahun terakhir masih terasa di tingkat konsumen.
Kelompok Makanan Jadi Penyumbang Terbesar
Tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami kenaikan indeks 6,90 persen secara tahunan dan memberi andil inflasi 2,69 persen.
Data ini memperlihatkan bahwa inflasi Kalteng paling kuat menekan kebutuhan harian masyarakat. Ketika kelompok makanan naik, dampaknya langsung terasa pada pengeluaran rumah tangga, terutama bagi warga yang pendapatannya tidak tetap.
Tidak Semua Harga Bergerak Naik
Meski inflasi tahunan masih tinggi, tidak semua komoditas mengalami kenaikan secara bulanan. Sejumlah komoditas justru memberi andil deflasi pada Mei 2026.
| Kategori | Komoditas Pemberi Andil Deflasi Bulanan |
|---|---|
| Protein hewani | Daging ayam ras, telur ayam ras, ikan bawal, ikan layang, cumi-cumi, ikan nila |
| Sayuran dan bumbu | Cabai rawit, tomat, terong, bayam, bawang merah, bawang putih |
| Pangan lain | Jagung manis |
| Lainnya | Emas perhiasan |
Fakta ini penting agar pembacaan terhadap inflasi tidak keliru. Ikan nila, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah memang tercatat sebagai komoditas dalam dinamika inflasi tahunan. Namun secara bulanan, sebagian komoditas tersebut mulai turun dan ikut menahan laju kenaikan harga.
Operasi Pasar Perlu Diuji
Inflasi pangan yang masih tinggi menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas intervensi pemerintah. Operasi pasar, gerakan pangan murah, dan distribusi beras stabilisasi pasokan perlu diuji apakah benar menjangkau masyarakat yang paling terdampak.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan pengawasan tidak hanya dilakukan saat harga sudah naik. Pengendalian harus menyentuh rantai pasok sejak awal, mulai dari ketersediaan stok, distribusi antardaerah, harga di tingkat grosir, hingga harga eceran di pasar tradisional.
Untuk komoditas ikan air tawar, pemerintah juga perlu melihat faktor produksi. Biaya pakan, kondisi cuaca, distribusi hasil budidaya, hingga biaya angkut dapat memengaruhi harga di pasar.
Daya Beli Warga Jadi Taruhan
Inflasi 4,56 persen secara tahunan menjadi sinyal bahwa beban belanja rumah tangga masih berat. Ketika harga pangan, bahan bakar rumah tangga, transportasi, dan kebutuhan harian bergerak naik bersamaan, ruang belanja masyarakat semakin sempit.
Situasi ini dapat berdampak lebih besar bagi kelompok berpendapatan rendah. Mereka harus mengalokasikan porsi pendapatan lebih besar untuk kebutuhan pokok, sementara kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi tetap harus dipenuhi.
Karena itu, isu inflasi Kalteng tidak bisa dibaca sebatas angka. Di balik data tersebut, ada tekanan nyata terhadap dapur rumah tangga, pedagang kecil, pembudidaya, pekerja harian, dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada penghasilan tidak tetap.
Pemerintah Diminta Tidak Hanya Reaktif
Pengendalian inflasi di Kalteng membutuhkan pendekatan yang lebih dini dan terukur. Pemerintah daerah perlu memastikan data harga harian di pasar benar-benar digunakan sebagai dasar kebijakan.
Jika harga beras, ikan, minyak goreng, cabai, bawang, dan telur mulai bergerak naik, intervensi seharusnya dilakukan sebelum lonjakan meluas. Bukan hanya setelah masyarakat merasakan tekanan di pasar.
Kalteng juga perlu memperkuat produksi pangan lokal agar tidak terlalu bergantung pada pasokan luar daerah. Ketergantungan tinggi pada distribusi antardaerah membuat harga lebih mudah terpengaruh oleh gangguan pasokan, biaya angkut, cuaca, dan momentum permintaan.
Inflasi Mei 2026 menjadi peringatan bahwa stabilitas harga pangan bukan sekadar urusan statistik. Ia menyangkut kemampuan warga mempertahankan daya beli di tengah kebutuhan pokok yang terus bergerak.












