Vietnam Naik Kelas, Indonesia Masih Tertahan? Alarm Industri Mulai Berbunyi

Kontraksi manufaktur dan perlambatan investasi dinilai menjadi sinyal perlunya transformasi industri nasional. Sejumlah ekonom menilai Indonesia perlu belajar dari keberhasilan Vietnam membangun sektor manufaktur berorientasi ekspor

**Keterangan Foto:** **Ilustrasi perbandingan perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Vietnam. Sejumlah ekonom menilai keberhasilan Vietnam menjadi negara berpendapatan menengah atas didorong oleh industrialisasi yang konsisten dan kebijakan investasi berorientasi ekspor, sementara Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam memperkuat sektor manufaktur.** *(Ilustrasi: Folitimes.id/AI)* **Alternatif yang lebih singkat:** **Ilustrasi perbandingan ekonomi Indonesia dan Vietnam. Vietnam resmi masuk kategori negara berpendapatan menengah atas, sementara Indonesia didorong mempercepat transformasi industri untuk meningkatkan daya saing.** *(Ilustrasi: Folitimes.id)*
**Keterangan Foto:** **Ilustrasi perbandingan perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Vietnam. Sejumlah ekonom menilai keberhasilan Vietnam menjadi negara berpendapatan menengah atas didorong oleh industrialisasi yang konsisten dan kebijakan investasi berorientasi ekspor, sementara Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam memperkuat sektor manufaktur.** *(Ilustrasi: Folitimes.id/AI)* **Alternatif yang lebih singkat:** **Ilustrasi perbandingan ekonomi Indonesia dan Vietnam. Vietnam resmi masuk kategori negara berpendapatan menengah atas, sementara Indonesia didorong mempercepat transformasi industri untuk meningkatkan daya saing.** *(Ilustrasi: Folitimes.id)*

JAKARTA, folitimes.id – Posisi Vietnam yang resmi masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas kembali memunculkan perdebatan mengenai arah pembangunan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Di saat negara tersebut berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui industrialisasi, Indonesia justru menghadapi tantangan berupa perlambatan sektor manufaktur yang tercermin dari melemahnya indeks aktivitas industri.

Sorotan itu muncul setelah sejumlah ekonom menilai kondisi industri nasional mulai mengirimkan sinyal peringatan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang masih berada di bawah level 50. Dalam metodologi PMI, angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada pada fase kontraksi, sedangkan angka di atas 50 menandakan ekspansi.

Bagi pelaku industri, indikator tersebut bukan sekadar angka statistik. PMI sering digunakan sebagai gambaran awal mengenai tingkat produksi, pesanan baru, penyerapan tenaga kerja, hingga optimisme pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi.

Vietnam Dinilai Berhasil Membangun Fondasi Industri

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai keberhasilan Vietnam tidak terjadi dalam waktu singkat. Menurutnya, negara tersebut secara konsisten membangun industri manufaktur selama lebih dari dua dekade melalui kebijakan investasi yang berorientasi ekspor, pengembangan teknologi, dan integrasi dengan rantai pasok global.

Keberhasilan tersebut turut mendorong peningkatan Pendapatan Nasional Bruto (Gross National Income/GNI) per kapita Vietnam hingga sekitar Rp80,5 juta per tahun (setara sekitar US$4.970 dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS). Nilai itu telah melampaui ambang batas kategori negara berpendapatan menengah atas yang ditetapkan sekitar Rp75,1 juta per tahun.

Menurut Didik, keberhasilan Vietnam tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga kualitas investasi yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas industri domestik dan meningkatkan transfer teknologi.

Industri Nasional Dinilai Kehilangan Momentum

Sebaliknya, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam menjaga kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada kisaran lima persen, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh penguatan sektor industri pengolahan.

Selain tekanan global, dunia usaha juga menghadapi berbagai tantangan seperti biaya produksi yang meningkat, ketidakpastian ekonomi internasional, serta kebutuhan penyederhanaan regulasi untuk meningkatkan daya saing investasi.

Didik berpendapat bahwa transformasi industri menjadi salah satu langkah penting apabila Indonesia ingin keluar dari pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak Cukup Mengandalkan Investasi Masuk

Dalam pandangan Didik, keberhasilan pembangunan industri tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke suatu negara, tetapi juga dari sejauh mana investasi tersebut menghasilkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja produktif, dan meningkatkan kemampuan teknologi nasional.

Ia mencontohkan Vietnam yang secara bertahap membangun industri elektronik, manufaktur, dan ekspor sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Indonesia dinilai perlu mempercepat reformasi birokrasi, memperkuat kepastian hukum, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong investasi yang mampu menghasilkan efek berganda bagi perekonomian.

Pemerintah Masih Mengembangkan Hilirisasi

Di sisi lain, pemerintah Indonesia saat ini juga tengah menjalankan sejumlah strategi industrialisasi melalui program hilirisasi sumber daya alam, pembangunan kawasan industri, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, hingga pembangunan industri baterai nasional.

Berbagai kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.

Karena itu, sejumlah pengamat menilai efektivitas kebijakan tersebut baru dapat diukur dalam jangka menengah hingga panjang melalui peningkatan produktivitas industri, ekspor manufaktur, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Alarm Bagi Industri Nasional

Kontraksi PMI bukan berarti Indonesia sedang mengalami krisis industri. Namun indikator tersebut menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur memerlukan perhatian serius agar tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Bila transformasi industri mampu berjalan konsisten, Indonesia masih memiliki peluang besar memanfaatkan bonus demografi, pasar domestik yang luas, serta kekayaan sumber daya alam sebagai modal menuju negara berpendapatan tinggi.

Sebaliknya, apabila pembenahan industri berjalan lambat, tantangan berupa rendahnya produktivitas dan melemahnya daya saing dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perbandingan Singkat Indonesia dan Vietnam

Indikator Indonesia Vietnam
Pertumbuhan Ekonomi Sekitar 5% Sekitar 8%
PMI Manufaktur 46,9 (Kontraksi) Ekspansi lebih stabil*
Status Pendapatan Menengah Atas (proses menuju target negara maju) Menengah Atas
GNI per Kapita Masih di bawah ambang negara berpendapatan tinggi ± Rp80,5 juta/tahun
Strategi Industri Hilirisasi SDA, EV, smelter Ekspor manufaktur dan transfer teknologi
Fokus Investasi Beragam sektor termasuk hilirisasi Manufaktur berorientasi ekspor

*Data Vietnam mengacu pada tren manufaktur dan kebijakan industrialisasi yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Analisis Folitimes

Keberhasilan Vietnam tidak hanya ditentukan oleh tingginya investasi, tetapi oleh konsistensi kebijakan industri selama puluhan tahun. Sementara Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, dan program hilirisasi yang sedang dikembangkan. Tantangan utamanya adalah memastikan investasi menghasilkan peningkatan produktivitas, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah.

Exit mobile version