Oleh: Syahrul Mubarok, S.Sos
Sosiolog Muda
OPINI, folitimes.id –Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat sering memandang tempat-tempat sakral hanya sebagai destinasi wisata atau sekadar bagian dari cerita masa lalu. Pandangan tersebut sesungguhnya menyederhanakan makna yang jauh lebih dalam. Bukit Batu di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, merupakan salah satu contoh bagaimana ruang fisik dapat berubah menjadi ruang sosial, ruang budaya, sekaligus ruang spiritual yang membentuk karakter seorang pemimpin.
Bukit Batu bukan sekadar gugusan batu granit yang berdiri kokoh di tengah hutan. Tempat ini memiliki posisi penting dalam perjalanan hidup Tjilik Riwut. Berbagai sumber sejarah dan catatan mengenai Tjilik Riwut menyebut Bukit Batu sebagai lokasi yang sering ia datangi untuk bertapa, merenung, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menurut tradisi masyarakat Dayak. Kini kawasan tersebut juga dikenal sebagai situs sejarah dan wisata budaya di Kabupaten Katingan. (visitKALTENG)
Namun, jika ditinjau dari perspektif sosiologi, makna Bukit Batu jauh melampaui narasi spiritual semata.
Bukit Batu sebagai Ruang Pembentukan Kesadaran Sosial
Dalam ilmu sosiologi, ruang tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis. Ruang juga membentuk nilai, identitas, dan pola pikir masyarakat.
Bukit Batu menjadi simbol bagaimana manusia membangun hubungan dengan alam, leluhur, dan masyarakatnya.
Bagi masyarakat Dayak, alam bukan objek yang ditaklukkan. Alam merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Filosofi inilah yang selama ratusan tahun membentuk karakter masyarakat adat Kalimantan.
Ketika Tjilik Riwut memilih Bukit Batu sebagai tempat perenungan, tindakan tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai aktivitas spiritual pribadi. Ia sedang membangun hubungan sosial dengan identitas budayanya sendiri.
Dalam teori sosiologi modern, proses tersebut dapat disebut sebagai pembentukan identitas kolektif.
Kepemimpinan Tidak Selalu Lahir dari Ruang Kekuasaan
Banyak pemimpin lahir dari ruang politik.
Sebagian lahir dari ruang akademik.
Namun sejarah menunjukkan bahwa ada pula pemimpin yang lahir dari ruang kontemplasi.
Bukit Batu menjadi representasi bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui proses refleksi yang panjang.
Tjilik Riwut dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam perjuangan mempertahankan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia serta pembangunan Kalimantan Tengah. Ia juga dikenal memiliki kedekatan dengan masyarakat adat karena memahami nilai-nilai budaya yang tumbuh dari lingkungan tempat ia dibesarkan. (Wikipedia)
Jika ditinjau secara sosiologis, pengalaman spiritual semacam itu berpotensi membentuk apa yang disebut sebagai kepemimpinan berbasis nilai (value-based leadership).
Pemimpin tidak hanya mengambil keputusan berdasarkan kekuasaan, tetapi juga berdasarkan nilai budaya yang diyakininya.
Spiritualitas dan Rasionalitas Bukan Dua Kutub yang Bertentangan
Modernisasi sering menempatkan spiritualitas sebagai lawan dari rasionalitas.
Padahal keduanya dapat berjalan berdampingan.
Dalam masyarakat Dayak, ritual bukan sekadar praktik keagamaan atau adat. Ritual merupakan media untuk membangun disiplin diri, mengendalikan emosi, memperkuat tanggung jawab, dan meneguhkan hubungan manusia dengan alam.
Dari perspektif sosiologi agama, praktik semacam ini berfungsi memperkuat solidaritas sosial dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai bersama.
Karena itu, ketika Bukit Batu dipahami sebagai tempat pertapaan Tjilik Riwut, makna yang lebih penting bukanlah unsur mistis yang sering berkembang dalam cerita masyarakat, melainkan proses pembentukan karakter seorang pemimpin melalui refleksi dan kedekatan dengan budaya sendiri.
Bukit Batu Adalah Memori Kolektif Masyarakat Dayak
Setiap daerah memiliki simbol yang membentuk identitas masyarakatnya.
Yogyakarta memiliki Tugu.
Jawa Barat memiliki Gedung Sate.
Bali memiliki Pura Besakih.
Kalimantan Tengah memiliki Bukit Batu.
Simbol-simbol tersebut bekerja sebagai memori kolektif. Mereka menghubungkan generasi sekarang dengan perjalanan sejarah yang telah membentuk identitas daerahnya.
Bukit Batu bukan hanya milik Tjilik Riwut.
Bukit Batu merupakan bagian dari memori sosial masyarakat Dayak.
Apabila generasi muda hanya mengenal Bukit Batu sebagai objek wisata, maka ada sebagian identitas budaya yang perlahan akan hilang.
Pelestarian Tidak Cukup dengan Infrastruktur
Pembangunan kawasan wisata memang penting.
Jalan yang baik.
Fasilitas yang lengkap.
Area parkir yang memadai.
Semuanya dibutuhkan.
Namun pelestarian budaya tidak berhenti pada pembangunan fisik.
Yang jauh lebih penting adalah menjaga narasi sejarah agar tetap hidup.
Bukit Batu perlu dipahami sebagai ruang edukasi, ruang sejarah, dan ruang refleksi kebudayaan.
Generasi muda perlu mengetahui mengapa tempat itu penting, bukan hanya mengetahui letaknya di peta.
Penutup
Sebagai seorang sosiolog muda, saya memandang Bukit Batu bukan sekadar situs sejarah ataupun tempat pertapaan Tjilik Riwut.
Bukit Batu merupakan laboratorium sosial yang memperlihatkan bagaimana budaya, spiritualitas, alam, dan kepemimpinan saling membentuk satu sama lain.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang untuk merenung daripada sekadar ruang untuk berdebat.
Barangkali, pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari Bukit Batu bukan hanya tentang sejarah Tjilik Riwut, melainkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kearifan budaya, dan kedalaman spiritual dalam membangun masa depan Kalimantan Tengah.












