Ekspor Kalteng Besar, Tapi Manfaatnya ke Mana?

Perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah April 2026 surplus besar, tetapi masih bergantung pada batu bara, sawit, dan pelabuhan luar daerah

Ilustrasi pelabuhan, batu bara, sawit, dan grafik ekspor Kalimantan Tengah April 2026
Ilustrasi surplus perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah April 2026 yang masih ditopang batu bara dan sawit. Foto Ilustrasifolitimes.id

 

PALANGKA RAYA, folitimes.id — Perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah pada April 2026 terlihat kuat di permukaan. Nilai ekspor jauh melampaui impor, membuat neraca perdagangan daerah ini tetap mencatat surplus besar. Namun, di balik angka surplus itu, tersimpan sejumlah catatan penting yang perlu dibaca lebih kritis.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan nilai ekspor Kalteng pada April 2026 mencapai US$298,05 juta. Jika dikonversi menggunakan kurs tengah BI April 2026 sebesar Rp17.141 per dolar AS, nilai itu setara sekitar Rp5,11 triliun.

Sementara nilai impor Kalteng pada bulan yang sama hanya US$9,26 juta atau sekitar Rp158,73 miliar. Dengan komposisi itu, Kalteng membukukan surplus perdagangan sebesar sekitar Rp4,95 triliun pada April 2026.

Ringkasan Neraca Perdagangan Luar Negeri Kalimantan Tengah

Ekspor Kalimantan Tengah April 2026 jauh lebih besar dibanding impor. Dalam rupiah, surplus bulanannya mendekati Rp5 triliun.

Ekspor April 2026
US$298,05 juta
± Rp5,11 triliun
Menjadi sumber utama surplus perdagangan daerah.
Impor April 2026
US$9,26 juta
± Rp158,73 miliar
Relatif kecil dibanding ekspor.
Surplus April 2026
US$288,79 juta
± Rp4,95 triliun
Surplus besar, tetapi perlu dilihat dari kualitas nilai tambahnya.
Komponen Nilai Dolar AS Perkiraan Rupiah Makna bagi Pembaca
Ekspor April 2026 US$298,05 juta ± Rp5,11 triliun Nilai ekspor masih besar, meski turun secara bulanan dibanding Maret 2026.
Impor April 2026 US$9,26 juta ± Rp158,73 miliar Nilai impor jauh lebih kecil dibanding ekspor, sehingga neraca perdagangan tetap surplus.
Surplus April 2026 US$288,79 juta ± Rp4,95 triliun Surplus besar, tetapi belum otomatis berarti seluruh manfaat ekonominya tinggal di Kalteng.
Ekspor Jan–Apr 2026 US$1,229 miliar ± Rp21,08 triliun Ekspor kumulatif tinggi dan masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Kalteng.
Impor Jan–Apr 2026 US$15,83 juta ± Rp271,34 miliar Impor masih terbatas dan lebih banyak terkait kebutuhan penunjang produksi.
Surplus Jan–Apr 2026 US$1,213 miliar ± Rp20,80 triliun Surplus kumulatif sangat besar, tetapi perlu diuji dari sisi hilirisasi, logistik, dan manfaat fiskal daerah.

Catatan:Konversi menggunakan kurs tengah BI April 2026 sebesar Rp17.141 per dolar AS. Angka rupiah dibulatkan agar mudah dipahami pembaca.Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Tengah, BRS Perdagangan Luar Negeri April 2026, rilis 2 Juni 2026. Konversi rupiah diolah folitimes.id menggunakan kurs tengah BI April 2026 Rp17.141/US$.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026, nilai ekspor Kalteng mencapai US$1,229 miliar atau sekitar Rp21,08 triliun. Pada periode yang sama, impor hanya sebesar US$15,83 juta atau sekitar Rp271,34 miliar.

Artinya, surplus perdagangan luar negeri Kalteng dalam empat bulan pertama 2026 mencapai US$1,213 miliar atau sekitar Rp20,80 triliun. Angka tersebut sepintas menunjukkan posisi perdagangan luar negeri Kalteng sangat kuat.

Namun, kekuatan itu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar nilai tambah, jasa logistik, dan manfaat fiskal dari aktivitas ekspor itu benar-benar tinggal di Kalimantan Tengah?

Catatan pertama terletak pada struktur ekspor. Ekspor Kalteng masih sangat bergantung pada komoditas primer, terutama batu bara dan minyak kelapa sawit. Sektor pertambangan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$900,18 juta atau sekitar Rp15,43 triliun pada Januari–April 2026.

Sementara sektor industri menyumbang US$322,04 juta atau sekitar Rp5,52 triliun. Adapun sektor pertanian hanya US$7,32 juta atau sekitar Rp125,47 miliar. Komposisi ini menunjukkan ekspor Kalteng masih belum banyak ditopang oleh produk bernilai tambah tinggi.

Dari sisi kelompok barang, bahan bakar mineral atau HS 27 mendominasi ekspor dengan nilai US$892,37 juta atau sekitar Rp15,30 triliun. Kelompok ini terutama mencakup batu bara dan lignit.

Di posisi berikutnya, lemak dan minyak hewani/nabati atau HS 15 menyumbang US$271,70 juta atau sekitar Rp4,66 triliun. Kelompok ini mencakup minyak kelapa sawit dan produk turunannya.

Ketergantungan terhadap batu bara dan sawit membuat performa ekspor Kalteng sangat sensitif terhadap harga komoditas global, permintaan negara mitra dagang, serta kebijakan energi dan pangan dunia. Ketika harga komoditas menguat, ekspor ikut terdorong. Namun ketika harga melemah, daerah penghasil seperti Kalteng juga rentan mengalami tekanan.

Catatan kedua yang tidak kalah penting adalah jalur ekspor. Meski komoditas berasal dari Kalimantan Tengah, sebagian besar ekspornya justru dimuat melalui pelabuhan di luar provinsi.

BPS mencatat, dari total ekspor Januari–April 2026 sebesar US$1,229 miliar atau sekitar Rp21,08 triliun, hanya 25,97 persen atau US$319,32 juta yang dimuat melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah. Nilainya setara sekitar Rp5,47 triliun.

Sebaliknya, 74,03 persen atau US$910,22 juta ekspor Kalteng dimuat melalui pelabuhan di provinsi lain. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai sekitar Rp15,60 triliun.

Pelabuhan luar Kalteng yang dominan adalah Banjarmasin dengan porsi 80,40 persen, disusul Kotabaru sebesar 15,96 persen, Tanjung Perak 3,02 persen, dan lainnya 0,62 persen. Sementara di dalam Kalteng, ekspor melalui Pelabuhan Kumai mendominasi 89 persen, disusul Sampit 5,89 persen, Pulang Pisau 4,34 persen, dan Pangkalan Bun 0,77 persen.

Fakta ini membuka ruang pertanyaan serius bagi daerah.

📊

Tiga Catatan Kritis di Balik Surplus Ekspor Kalteng

Surplus perdagangan besar belum otomatis berarti manfaat ekonomi sepenuhnya tinggal di Kalimantan Tengah.

Pertambangan
73,21%
Porsi sektor pertambangan dalam ekspor Januari–April 2026.
Pelabuhan Luar Daerah
74,03%
Porsi ekspor Kalteng yang dimuat melalui pelabuhan luar provinsi.
Impor Jan–Apr 2026
± Rp271,34 M
Impor masih relatif kecil dan lebih banyak berupa mesin, aspal, serta pupuk.
Catatan Data Kunci Perkiraan Rupiah Isu yang Perlu Dibaca
Ketergantungan Komoditas Pertambangan menyumbang US$900,18 juta atau 73,21 persen dari ekspor Januari–April 2026. ± Rp15,43 triliun Ekspor Kalteng masih bertumpu pada batu bara, sehingga rentan terhadap gejolak harga global dan permintaan negara mitra.
Sawit Masih Dominan Lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk minyak kelapa sawit, mencapai US$271,70 juta. ± Rp4,66 triliun Sawit tetap menjadi penopang utama selain batu bara. Namun, hilirisasi dan nilai tambah lokal perlu terus diuji.
Ekspor Lewat Luar Daerah Ekspor yang dimuat melalui pelabuhan luar Kalteng mencapai US$910,22 juta atau 74,03 persen. ± Rp15,60 triliun Jasa logistik, aktivitas pelabuhan, dan perputaran ekonomi pendukung berpotensi lebih banyak dinikmati daerah lain.
Pelabuhan Kalteng Terbatas Ekspor melalui pelabuhan di Kalteng hanya US$319,32 juta atau 25,97 persen. ± Rp5,47 triliun Konektivitas pelabuhan dan kapasitas logistik daerah menjadi pekerjaan rumah penting.
Impor Bukan Tekanan Besar Impor Januari–April 2026 hanya US$15,83 juta dan didominasi mesin, aspal, serta pupuk. ± Rp271,34 miliar Kenaikan impor lebih mencerminkan kebutuhan penunjang produksi dan konstruksi, bukan tekanan besar terhadap neraca perdagangan.
Catatan:.Konversi menggunakan kurs tengah BI April 2026 sebesar Rp17.141 per dolar AS. Angka rupiah dibulatkan agar mudah dipahami pembaca.
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Tengah, BRS Perdagangan Luar Negeri April 2026, rilis 2 Juni 2026. Konversi rupiah diolah folitimes.id menggunakan kurs tengah BI April 2026 Rp17.141/US$.

Jika sebagian besar ekspor Kalteng masih keluar melalui pelabuhan luar provinsi, maka aktivitas bongkar muat, jasa kepelabuhanan, rantai logistik, dan perputaran ekonomi pendukung berpotensi lebih banyak dinikmati daerah lain.

Dengan kata lain, Kalteng memang menjadi daerah asal komoditas. Namun, belum tentu Kalteng menjadi penerima manfaat terbesar dari seluruh rantai nilai ekspor tersebut.

Catatan ketiga terlihat dari sisi impor. Pada April 2026, impor Kalteng memang melonjak 400,54 persen dibanding Maret 2026. Namun secara nilai, impor masih relatif kecil, yaitu US$9,26 juta atau sekitar Rp158,73 miliar.

Secara kumulatif Januari–April 2026, impor Kalteng hanya US$15,83 juta atau sekitar Rp271,34 miliar. Struktur impor juga menunjukkan belum ada tekanan besar terhadap neraca perdagangan.

Impor Kalteng didominasi barang penunjang aktivitas ekonomi, seperti mesin/peralatan mekanik, bahan bakar mineral berupa aspal, dan pupuk.

Kelompok mesin/peralatan mekanik atau HS 84 menjadi impor terbesar dengan nilai US$9,64 juta atau sekitar Rp165,24 miliar. Disusul bahan bakar mineral atau HS 27 sebesar US$3,94 juta atau sekitar Rp67,54 miliar, serta pupuk atau HS 31 sebesar US$1,77 juta atau sekitar Rp30,34 miliar.

Negara asal impor terbesar adalah Malaysia dengan nilai US$9,73 juta atau sekitar Rp166,78 miliar. Singapura menyumbang US$3,94 juta atau sekitar Rp67,54 miliar, sedangkan Federasi Rusia menyumbang US$1,77 juta atau sekitar Rp30,34 miliar.

Dengan komposisi tersebut, impor Kalteng lebih banyak terkait kebutuhan mesin, aspal, dan pupuk. Artinya, kenaikan impor belum menunjukkan tekanan konsumsi impor yang besar, melainkan lebih mengarah pada kebutuhan penunjang produksi, konstruksi, dan aktivitas usaha.

Namun, persoalan utama perdagangan luar negeri Kalteng bukan sekadar surplus atau defisit. Surplus besar memang memberi kesan bahwa ekonomi daerah memiliki daya ekspor kuat.

Tetapi jika ekspor bertumpu pada komoditas mentah, dimuat lewat pelabuhan luar daerah, dan nilai tambahnya tidak banyak diproses di Kalteng, maka manfaat ekonominya bisa bocor ke luar daerah.

Pemerintah daerah perlu membaca data ini sebagai sinyal kebijakan. Kalteng tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil batu bara dan sawit. Daerah ini perlu memperkuat hilirisasi, memperbaiki konektivitas pelabuhan, membangun ekosistem logistik, serta memastikan aktivitas ekspor memberi dampak lebih besar bagi pendapatan daerah, tenaga kerja lokal, dan industri pendukung.

Surplus perdagangan luar negeri Kalteng pada April 2026 memang besar. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah surplus itu benar-benar memperkuat ekonomi daerah, atau hanya menunjukkan besarnya komoditas Kalteng yang keluar dari daerah?

Exit mobile version